Kotabaru, Kabar SDGs – Budidaya kepiting soka mulai menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir Desa Tanjung Seloka, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Dari sebelumnya mengandalkan cara budidaya konvensional, masyarakat kini mulai menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Berdaya Tanjung Seloka yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT). Program tersebut bahkan memperoleh apresiasi nasional melalui Anugerah CEPI CSR UMKM & Koperasi 2026.
Dalam ajang tersebut, PLN UIP KLT meraih predikat Platinum Alignment pada kategori Pembinaan/Pengembangan UMKM. Penghargaan diterima Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP Kalimantan Bagian Timur, Raditya Kuntoro, yang mewakili manajemen perusahaan dalam malam penganugerahan yang digelar La Tofi School of Social Responsibility di Jakarta.
Program Desa Berdaya Tanjung Seloka dirancang untuk mendorong masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki kemampuan mengembangkan usaha secara mandiri. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menggabungkan peningkatan kapasitas masyarakat, teknologi budidaya, pendampingan usaha, serta penguatan kelompok ekonomi lokal.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) dan Vertical Crabhouse dalam budidaya kepiting soka. Teknologi tersebut memungkinkan proses budidaya dilakukan secara lebih terkontrol sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan usaha.
Pengembangan budidaya juga diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi kepiting soka sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap hasil tangkapan dari alam. Dengan demikian, masyarakat pesisir memiliki alternatif sumber pendapatan yang lebih stabil dan dapat dikembangkan dalam jangka panjang.
Raditya mengatakan penghargaan yang diterima menjadi pengingat bahwa keberhasilan program TJSL sangat dipengaruhi oleh kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat serta konsistensi dalam pelaksanaannya.
“Kami percaya bahwa keberhasilan sebuah program tidak diukur dari penghargaan yang diterima, melainkan dari perubahan yang dirasakan masyarakat. Desa Berdaya Tanjung Seloka lahir dari semangat kolaborasi bersama pemerintah daerah, kelompok nelayan, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan solusi yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” ucap Raditya.
Menurut Raditya, PLN juga terus mengarahkan program TJSL agar mampu memberikan dampak yang bertahan dalam jangka panjang. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan keterampilan masyarakat, penggunaan teknologi yang sesuai, serta penguatan kelembagaan kelompok usaha.
Dalam proses penilaian Anugerah CEPI CSR UMKM & Koperasi 2026, Program Desa Berdaya Tanjung Seloka dinilai memiliki pendekatan pemberdayaan yang terintegrasi dengan upaya menjaga dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Program tersebut tidak hanya memperkenalkan teknologi RAS untuk budidaya kepiting soka, tetapi juga disertai pendampingan usaha, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengukuran dampak secara terstruktur.
Model pemberdayaan yang diterapkan di Tanjung Seloka tersebut diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan ekonomi masyarakat pesisir yang menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan penguatan kemampuan masyarakat. Keberlanjutan usaha menjadi salah satu fokus agar manfaat program dapat terus dirasakan setelah pendampingan berakhir.
Melalui program tersebut, PLN UIP KLT menunjukkan bahwa pelaksanaan TJSL dapat diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Pengembangan budidaya kepiting soka berbasis teknologi diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi warga pesisir Kabupaten Kotabaru.











Discussion about this post