Cirebon, Kabar SDGs – Desa Cupang, yang selama ini menghadapi masalah kekurangan air disebabkan oleh kondisi tanah yang berbatu kapur dan aktivitas penambangan, akhirnya memperoleh solusi berkat kerja sama antara Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa. Melalui inisiatif wakaf Layanan Air Bersih, sebuah sumur wakaf kini telah menjadi sumber kehidupan bagi ratusan keluarga.
Sebelumnya, penduduk harus secara bergiliran menampung air dari satu-satunya sumber yang tersedia. Hal ini dialami oleh Castini (40), yang mengungkapkan betapa sulitnya memperoleh air bersih.
“Kami mengambil air secara bergiliran, satu orang diberikan satu jam. Dalam waktu itu, hanya bisa mendapatkan satu ember. Itu tidak cukup untuk mencuci, kadang anak saya tidak bisa mandi karena tidak ada air,” katanya pada Selasa (4/3).
Dengan menggunakan metode geolistrik untuk asesmen, tim dari Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa menemukan sumber air di lahan milik Sanusi (45), seorang penduduk yang dengan sukarela menyumbangkan tanahnya demi kepentingan bersama.
Pembangunan sumur membutuhkan waktu 45 hari, dengan kedalaman mencapai 30 meter dan menghasilkan 2 liter air per detik. Sumur ini sekarang telah terhubung ke 90 Sambungan Rumah (SR) yang melayani 100 keluarga serta satu mushola.
Saat peresmian sumur pada Rabu (19/2/2025), Artika Tasya, perwakilan Yayasan Samudera Peduli, menyampaikan rasa syukurnya dan harapannya agar masyarakat memanfaatkan sumber daya ini dengan bijak.
“Setelah asesmen oleh tim kami dan Dompet Dhuafa, akhirnya teridentifikasi dua titik yang sangat membutuhkan akses air bersih. Semoga sumber air bersih ini memberikan keberkahan bagi masyarakat, untuk Pak Sanusi selaku pemberi wakaf, serta untuk Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa,” ujarnya.
Kini, warga tidak lagi mengalami kesulitan dalam mendapatkan air. Bahkan, menurut Sanusi, toren dengan kapasitas 5000 liter dapat terisi penuh dalam waktu kurang dari satu jam.
“Setelah mengetahui ada sumber air di belakang rumah saya, saya segera merelakan tanah saya untuk pembangunan sumur demi kebutuhan masyarakat. Sekarang airnya sangat melimpah, berbeda jauh dengan dahulu,” ungkap Sanusi dengan antusias.
Tidak hanya di Desa Cupang, Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa juga membangun sumur di Desa Guwa Kidul. Berbeda dengan Desa Cupang, di sini Dompet Dhuafa bermitra dengan Kelompok Kerja Masyarakat (KKM) Sumber Toya, yang telah mengelola sumber air resapan sejak tahun 2019.
Sebelumnya, pasokan air di desa ini tidak mencukupi untuk 340 SR, tiga pondok pesantren, satu sekolah, dan enam mushola. Menurut Rifah, Sekretaris KKM Sumber Toya, pompa yang mereka gunakan hanya memproduksi air keruh dalam jumlah yang sangat terbatas.
Dengan kondisi itu, Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa menggali sumur sedalam 50 meter yang mampu memproduksi 4 liter air per detik. Namun, berbeda dengan Desa Cupang, sistem pengelolaan air di Guwa Kidul menerapkan biaya karena adanya biaya operasional seperti listrik dan perawatan pompa.
“Kami menerapkan tarif berjenjang atau subsidi silang. Untuk 10 liter pertama seharga Rp3.000, kemudian Rp4.000, dan seterusnya Rp5.000. Untuk pondok pesantren dan sekolah, tarifnya Rp4.000. Jika ada warga yang mengalami kesulitan ekonomi, kami memberikan keringanan,” jelas Rifah.
Salah satu penerima bantuan adalah Pondok Pesantren Al-Fatimah Guwa Kidul. Ustaz Abdul Muhaimin Mas’ud, yang bertanggung jawab atas pengelolaan, mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka terpaksa membeli air dari tangki dengan biaya Rp150.000 setiap tangki untuk memenuhi kebutuhan 50 santrinya.
“Setelah ada dukungan berupa pompa air dari Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa, kini kami hanya mengeluarkan biaya antara Rp700 ribu hingga Rp1 juta. Ini jauh lebih efisien. Air yang kami dapat juga lancar dan bersih,” ujarnya.
Aldo, siswa kelas 5 SD, juga merasakan dampaknya.
“Ya, kadang-kadang tidak ada kesempatan untuk mandi. Terkadang saat salat berjamaah juga menjadi sulit, sehingga harus wudhu di mushola lain,” katanya dengan jujur.
keberadaan sumur ini tidak hanya memberikan akses pada air bersih, tetapi juga menciptakan kesempatan kerja bagi warga sekitar.
Pada akhirnya, Rifah berharap agar program ini dapat meluas ke wilayah lain yang juga menghadapi masalah kekeringan.












Discussion about this post