• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
25 September 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home AKADEMIKA

Mahasiswi Universitas Pertamina Usulkan Kemitraan Iklim Indonesia Pasifik

by SDGS Admin
25 Juni 2026
Mahasiswi Universitas Pertamina Usulkan Kemitraan Iklim Indonesia Pasifik
21
SHARES
131
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Jakarta, Kabar SDGs – Dua mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UPER), Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea, mengembangkan gagasan kebijakan untuk memperkuat peran perempuan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Ide tersebut dituangkan dalam sebuah policy brief yang menawarkan model kerja sama antara Indonesia dan negara-negara Pasifik melalui pendekatan berbasis gender.

Gagasan berjudul “Mendayung Bersama di Lautan yang Sama: Kerja Sama Selatan-Selatan Indonesia–Pasifik dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Berperspektif Gender” tersebut mengangkat isu kelompok perempuan yang dinilai menghadapi dampak krisis iklim secara tidak proporsional.

BACA JUGA

Mahasiswa USK Raih Tiga Medali Internasional

Mahasiswa USK Raih Tiga Medali Internasional

31 Agustus 2026
Mahasiswa UPER Ciptakan Drone Otonom SkyFast

Mahasiswa UPER Ciptakan Drone Otonom SkyFast

15 Mei 2026
Mahasiswa Myanmar Rasakan Hangatnya Studi di Banda Aceh

Mahasiswa Myanmar Rasakan Hangatnya Studi di Banda Aceh

9 April 2026

Berdasarkan persoalan tersebut, Zeffanya dan Paskarina mengusulkan pembentukan Indonesia-Pacific Climate and Gender Partnership (IPCGP) sebagai kerangka kolaborasi yang dapat memperkuat kerja sama Indonesia dengan negara-negara Pasifik dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Usulan tersebut berangkat dari kesamaan kondisi geografis Indonesia dan negara-negara Pasifik yang sama-sama merupakan wilayah kepulauan dan rentan terhadap berbagai dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, kerusakan ekosistem pesisir, serta ancaman terhadap keberlangsungan hidup masyarakat di kawasan pesisir.

Dalam gagasan tersebut, Indonesia dinilai memiliki sejumlah pengalaman dan kebijakan yang dapat menjadi referensi, seperti pengelolaan wilayah pesisir, Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN-GPI) 2024–2030, Blue Economy Roadmap, serta berbagai praktik pemberdayaan perempuan yang mendukung ketahanan iklim.

Atas gagasan tersebut, Zeffanya dan Paskarina berhasil meraih Juara I kategori Chamber Policy Brief dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 di Bandung. Kompetisi tersebut diikuti oleh 31 tim yang berasal dari 31 perguruan tinggi di Indonesia.

Menurut Zeffanya, perempuan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan terhadap perubahan iklim karena memiliki pengalaman dan kedekatan langsung dengan komunitas.

“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kedekatan mereka dengan komunitas. Perspektif tersebut perlu hadir sejak proses perencanaan hingga pengambilan keputusan agar kebijakan iklim menjadi lebih inklusif dan efektif,” ujar Zeffanya.

Melalui IPCGP, keduanya menawarkan dua program utama. Program pertama adalah Gender-Climate Fellowship yang berfokus pada peningkatan kapasitas perempuan di negara-negara Pasifik dalam bidang pembiayaan iklim dan tata kelola wilayah pesisir.

Program kedua yaitu Mangrove & Coastal Adaptation Pilot yang diarahkan pada restorasi ekosistem pesisir berbasis komunitas perempuan. Program tersebut menargetkan pemulihan 500 hektare kawasan mangrove dalam waktu tiga tahun sekaligus mendukung penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Paskarina menjelaskan bahwa kedua program tersebut tidak hanya menempatkan perempuan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai aktor yang memiliki peran dalam menentukan arah pembangunan.

“Kami menargetkan sedikitnya 40 persen keterlibatan perempuan dalam struktur pengambilan keputusan pada proyek restorasi pesisir. Harapannya, perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan yang tangguh terhadap krisis iklim,” kata Paskarina.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof Dr techn Djoko Triyono MSi. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan tantangan global.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan global, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis riset yang inovatif dan aplikatif. Universitas Pertamina akan terus mendorong lahirnya gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Prof Djoko.

Melalui karya tersebut, Zeffanya dan Paskarina menunjukkan bahwa pendekatan gender memiliki peran penting dalam strategi menghadapi perubahan iklim. Pelibatan perempuan dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan program diharapkan mampu menciptakan solusi yang lebih inklusif serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman krisis iklim.

Share8SendTweet5
Previous Post

Antusiasme Tinggi, Penjualan Tiket Diskon Kapal PELNI Tembus 214 Ribu Penumpang

Next Post

Jasa Marga Gelar Penanaman Pohon dan Santunan Anak Yatim di Medan

Next Post
Jasa Marga Gelar Penanaman Pohon dan Santunan Anak Yatim di Medan

Jasa Marga Gelar Penanaman Pohon dan Santunan Anak Yatim di Medan

Jasa Marga Transfromasi Rest Area Berkelanjutan

Jasa Marga Transfromasi Rest Area Berkelanjutan

Discussion about this post

NEWS UPDATE

USK Kembangkan Pendidikan Profesi Entomologi Kesehatan

USK Kembangkan Pendidikan Profesi Entomologi Kesehatan

24 September 2026
Terjunkan 10 Pompa, Kementerian PU Selamatkan 300 Hektare Sawah Kekeringan di Sentra Padi Karawang

Terjunkan 10 Pompa, Kementerian PU Selamatkan 300 Hektare Sawah Kekeringan di Sentra Padi Karawang

24 September 2026
RTH Pekanbaru Kembali Dibuka Setelah Kondisi Udara Membaik

RTH Pekanbaru Kembali Dibuka Setelah Kondisi Udara Membaik

24 September 2026
Kementerian PU Salurkan 286 Ribu Liter Air Bersih ke 10 Daerah di Jawa Barat

Kementerian PU Salurkan 286 Ribu Liter Air Bersih ke 10 Daerah di Jawa Barat

24 September 2026
Pembangunan Gedung MRP Papua Selatan Dilanjutkan Setelah Putusan Hukum Inkrah

Pembangunan Gedung MRP Papua Selatan Dilanjutkan Setelah Putusan Hukum Inkrah

24 September 2026

POPULAR

  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    3030 shares
    Share 1212 Tweet 758
  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    3347 shares
    Share 1339 Tweet 837
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    3027 shares
    Share 1211 Tweet 757
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    2992 shares
    Share 1197 Tweet 748
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    3032 shares
    Share 1213 Tweet 758

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.