Denpasar, Kabar SDGs – ITB STIKOM Bali mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Evi Triandini, S.P., M.Eng. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Analisis Perangkat Lunak dalam sidang terbuka senat yang digelar di Kampus ITB STIKOM Bali, Renon, Denpasar, Sabtu (7/2). Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi penguatan riset dan pengembangan ilmu teknologi informasi di perguruan tinggi swasta Bali.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Evi menyampaikan gagasan bertajuk Rekayasa Kemanusiaan: Mengonstruksi Kerangka Telerehabilitasi Adaptif bagi Penyandang Disabilitas Melalui Transformasi Perangkat Lunak Digital. Ia menekankan bahwa teknologi perangkat lunak memiliki peran strategis untuk menjembatani keterbatasan akses layanan rehabilitasi yang masih dihadapi penyandang disabilitas, baik karena faktor geografis, ekonomi, maupun sosial.
Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, dalam sambutannya menyatakan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan pengukuhan Prof. Evi menjadi sejarah tersendiri bagi kampus. “Kami sangat bangga karena akhirnya ITB STIKOM Bali berhasil memiliki guru besar sendiri, dan ini merupakan guru besar di bidang teknologi informasi,” ujarnya. Menurutnya, Prof. Evi juga tercatat sebagai guru besar pertama di bidang IT pada perguruan tinggi swasta di Bali.
Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti, Prof. I Made Bandem, menilai capaian Prof. Evi tidak hanya berdampak pada reputasi akademik kampus, tetapi juga pada misi sosial pendidikan tinggi. Ia berharap inovasi yang dihasilkan dapat mendorong ITB STIKOM Bali semakin inklusif. “Dengan keberhasilan Prof. Evi menciptakan alat bantu bagi penyandang disabilitas, kami berharap ke depan ITB STIKOM Bali mampu menerima lebih banyak mahasiswa disabilitas,” katanya.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, Dr. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi terus mendorong dosen mencapai jenjang akademik tertinggi. Menurutnya, keberadaan guru besar akan memberikan dampak signifikan bagi pengembangan kampus. “Riset yang dilakukan Prof. Evi akan memberi dampak nyata, tidak hanya bagi STIKOM Bali, tetapi juga bagi penyandang disabilitas,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Evi menjelaskan ide pengembangan telerehabilitasi berangkat dari realitas keterbatasan layanan rehabilitasi di Indonesia, termasuk minimnya tenaga rehabilitasi. “Di sinilah muncul gagasan untuk mengembangkan alat bantu telerehabilitasi yang memungkinkan layanan dilakukan secara jarak jauh,” katanya. Ia menambahkan, riset tersebut mulai dikembangkan dari Denpasar dan kini diarahkan agar dapat diimplementasikan secara lebih luas. “Kami membangun mulai dari Denpasar, Bali, Indonesia, dan mendunia. Saat ini kami telah bekerja sama dengan rumah sakit di Thailand agar ada hilirisasi dari riset sesuai bidang keilmuan kami,” ujarnya.
Prof. Evi menuturkan, inisiatif pendampingan penyandang disabilitas telah dimulai sejak 2022 melalui kerja sama dengan Dinas Sosial Kota Denpasar. Dari proses tersebut, tim peneliti mengembangkan aplikasi yang memungkinkan penyandang disabilitas mendaftarkan diri untuk memperoleh layanan kesehatan. Selain itu, sistem telerehabilitasi yang dikembangkan memungkinkan konsultasi dan rehabilitasi dilakukan dari rumah tanpa harus datang ke rumah sakit.
Perempuan kelahiran Jember, 20 April 1970 ini menempuh pendidikan S-1 di Program Studi Budi Daya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, melanjutkan S-2 Magister Information Management di Asian Institute University Thailand, dan meraih gelar doktor Ilmu Komputer di ITS Surabaya. Karier akademiknya dimulai sebagai dosen di STIKOM Surabaya pada 1993, sebelum kemudian bergabung dengan STIKOM Bali sejak 2003 hingga kini.
Menutup orasinya, Prof. Evi menegaskan bahwa pencapaian sebagai guru besar bukanlah titik akhir. “Menjadi profesor bukan akhir perjalanan, tetapi sebuah amanah untuk terus berbagi ilmu dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.











Discussion about this post