• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
3 Oktober 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home HOT NEWS

ITAGI Minta Pemerintah Jelaskan Pembuatan Vaksin Super Cepat

by Editor
10 November 2020
Pemerintah Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Sebelum Digunakan

Petugas menunjukan contoh Vaksin Covid-19. Foto: cdning.rg.ru

36
SHARES
224
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

JAKARTA, KabarSDGs – Indonesian Technical Advisory Group of Immunization (ITAGI) Sri Rezeki S Hadinegoro meminta pemerintah untuk menjelaskan kepada masyarakat terkait produksi vaksin covid-19 yang dilakukan Indonesia yang dinilainya sungguh luar biasa dapat memangkas proses tahapan pembuatan vaksin sehingga sangat cepat.

“Pada situasi normal atau rutin biasanya pembuatan vaksin memakan waktu bertahun-tahun bahkan sampai 10 tahun. Namun, pada situasi pandemi saat ini, waktu yang lama itu bisa dipangkas. Mengingat wabah Covid-19 telah memakan jutaan korban jiwa,” kata Sri Rezeki, di Jakarta, Selasa (10/11/2020).

BACA JUGA

KAI Services Gelar Pelatihan Security Gada Utama

KAI Services Gelar Pelatihan Security Gada Utama

20 Mei 2026
Penguatan Keamanan Penerbangan Perintis di Papua

Penguatan Keamanan Penerbangan Perintis di Papua

17 Februari 2026
Penyelenggaraan Formula E di Jakarta Sesuai Rekomendasi Asesmen BNPT RI

Penyelenggaraan Formula E di Jakarta Sesuai Rekomendasi Asesmen BNPT RI

5 Juni 2023

“Pada masa pandemi, pasti tujuannya berbeda, Tujuan untuk segera menurunkan angka kematian,” jelas Sri Rezeki dalam keterangan pers daring, Selasa (10/11/2020).

Sri Rezeki menjelaskan, proses pembuatan vaksin dapat dipercepat dengan bantuan teknologi. Bio Farma misalnya yang saat ini menggunakan platform dari Sinovac.

“Platform ini (dari Sinovac) Bio Farma sebelumnya telah memilikinya sehingga tidak terlalu sulit untuk membuat vaksin baru. Jadi teknologi yang sudah ada sudah dipakai untuk vaksin-vaksin lain,” jelasnya.

Karena hal itu sejumlah proses dapat dipersingkat, seperti fase satu dan dua sehingga bisa langsung masuk pada fase tiga yaitu pemantauan uji coba vaksin.

“Bio Farma sudah memiliki platformnya tidak perlu lagi penelitian yang panjang,” ujar Sri Rezeki.

Rakyat Kurang Teredukasi

Selain itu, Sri Rezeki juga menyitir hasil survei Lembaga Poluli Center (LPC) yang menyebut 40 persen publik menolak vaksin Covid-19. Menurutnya, penolakan tersebut terjadi karena masyarakat masih kurang teredukasi.

“Menurut saya mereka yang masih ragu atau menolak karena belum mengerti dengan baik (tentang vaksin). Saya mempelajari vaksin saja 20 tahun lebih apalagi masyarakat awam,” kata Sri Rezeki.

Ketidakpahaman itu kata dia, membuat masyarakat takut, dan menganggap vaksin Covid-19 memiliki efek samping yang membahayakan kesehatan. Apalagi situasi ini diperburuk dengan banyaknya informasi palsu yang beredar di media sosial.

Karena itu, untuk menyelesaikan persoalan itu, pemerintah atau lembaga kesehatan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan peran media serta tokoh masyarakat, memberikan informasi benar dan mudah dipahami.

“Tokoh masyarakat harus ikut terlibat memberikan penjelasan. Karena kita tahu sendiri orang Indonesia malas baca, sering mendengar informasi yang sumbernya tidak jelas,” kata Sri Rezeki.

Senin (9/11) Populi Center mengeluarkan hasil surveinya, dari 1000 responden di 34 provinsi, ditemukan 40% mengaku menolak divaksin Covid-19. Alasan penolakannya beragam, 46,5 persen mengaku takut akan bahaya dari vaksin Covid-19, sementara 15,2 persen tidak percaya vaksin bisa menyembuhkan, sedangkan 13,3 persen berasalan meragukan kehalalannya. YAUMAL HUTASUHUT

Share14SendTweet9
Previous Post

Kemenparekraf Gelontorkan Rp 3,3 T untuk Hibah Hotel dan Restoran

Next Post

Doni Minta Pemda Jangan Kendur Putus Penularan Covid-19

Next Post
Doni Minta Pemda Jangan Kendur Putus Penularan Covid-19

Doni Minta Pemda Jangan Kendur Putus Penularan Covid-19

Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Lebih Rendah Dari Negara Lain

Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Lebih Rendah Dari Negara Lain

Discussion about this post

NEWS UPDATE

BP Batam Dorong Batam Jadi Hub Data Center Asia

BP Batam Dorong Batam Jadi Hub Data Center Asia

3 Oktober 2026
Way Kambas Kembangkan Wisata Berbasis Konservasi

Way Kambas Kembangkan Wisata Berbasis Konservasi

3 Oktober 2026
YBM PLN Salurkan Bantuan Beras untuk Warga Beringin Raya

YBM PLN Salurkan Bantuan Beras untuk Warga Beringin Raya

3 Oktober 2026
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Praktik Restorasi Naskah Kuno

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Praktik Restorasi Naskah Kuno

2 Oktober 2026
Kenduri Sastra Hidupkan Kembali Karya Maestro Aceh

Kenduri Sastra Hidupkan Kembali Karya Maestro Aceh

2 Oktober 2026

POPULAR

  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    3325 shares
    Share 1330 Tweet 831
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    3373 shares
    Share 1349 Tweet 843
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    3363 shares
    Share 1345 Tweet 841
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    3310 shares
    Share 1324 Tweet 828
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    3354 shares
    Share 1342 Tweet 839

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.