Penajam Paser Utara, Kabar SDGs – Perumda Air Minum Danum Taka Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memperingatkan potensi gangguan layanan air bersih akibat menyusutnya debit air baku di sejumlah wilayah. Penurunan volume air di Embung Waru, Kecamatan Waru, bahkan berisiko memengaruhi pasokan hingga ke kawasan Petung, Kecamatan Penajam.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya konsumsi air masyarakat serta rendahnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Situasi ini mulai berdampak pada ketersediaan sumber air baku yang sebelumnya masih dianggap mencukupi.
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid, mengungkapkan bahwa volume air di Embung Waru telah mengalami penyusutan cukup signifikan dibandingkan kondisi normal.
“Sekarang dari 3 meter kedalaman air embung di Waru, sekarang sisa 1,27 meter,” ungkap Abdul Rasyid, Sabtu (31/10/2026).
Penurunan debit tersebut turut mengancam operasional instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) Waru. Pasalnya, fasilitas ini tidak hanya melayani kebutuhan air bersih masyarakat Kecamatan Waru, tetapi juga memasok wilayah lain melalui jaringan interkoneksi.
“Waru ini kan ada beban, Waru mensuplai juga Penajam khususnya Petung melalui jaringan interkoneksi,” terangnya.
Tekanan terhadap ketersediaan air baku juga terjadi di Kecamatan Babulu. Abdul Rasyid menyebut cadangan air di wilayah tersebut sudah berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Perumda bahkan memperkirakan harus menghentikan sementara operasional pelayanan di kawasan itu dalam waktu dekat.
“Akan kita off-kan mungkin minggu ini, karena memang sangat susut,” jelas Rasyid.
Berdasarkan hasil evaluasi Perumda AMDT per 27 Oktober 2026, hampir 70 persen cakupan layanan air minum di Kabupaten PPU telah mengalami kondisi yang menyebabkan pelayanan tidak dapat berjalan secara optimal.
Sejumlah instalasi pengolahan air di berbagai wilayah juga menghadapi keterbatasan pasokan. WTP Lawe-Lawe, misalnya, mengalami penurunan aliran cukup parah sehingga air hanya dapat didistribusikan sekitar dua jam setiap hari.
Sementara itu, WTP Sotek tidak lagi beroperasi secara penuh selama empat bulan terakhir akibat kekeringan sumber air. Di WTP Maridan, operasional saat ini hanya mengandalkan dua dari tiga embung utama yang tersedia.
Adapun WTP Sepaku bergantung pada pasokan air buangan dari Bendungan Sepaku Semoi. Sumber tersebut juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kawasan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN).
Abdul Rasyid menegaskan perlunya langkah penanganan dan antisipasi segera agar kondisi tidak semakin memburuk hingga mengakibatkan sumber air baku yang tersisa mengering.
Kelangsungan distribusi air bersih, terutama untuk wilayah Waru hingga Petung, saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan curah hujan dalam beberapa hari mendatang.
“Kalau curah hujan tidak tinggi atau tidak ada, bisa jadi Waru juga mengalami kendala,” pungkasnya.










Discussion about this post