Jakarta, Kabar SDGs – PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), perusahaan pemilik stasiun televisi ANTV, mencatat perbaikan kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Rugi bersih perseroan berhasil ditekan hampir 86 persen menjadi Rp8,3 miliar, dibandingkan Rp58,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan tersebut menjadi salah satu hal yang disampaikan manajemen MDIA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menanggapi permintaan penjelasan terkait kondisi perusahaan dan pergerakan saham perseroan.
Mengacu pada laporan keuangan yang berakhir pada 31 Maret 2026, MDIA membukukan pendapatan sebesar Rp141,7 miliar dan laba usaha Rp14,3 miliar. Penurunan kerugian terutama dipengaruhi berkurangnya beban lain-lain neto, yang sebelumnya mencapai Rp90,3 miliar dan turun menjadi Rp22,6 miliar.
Perseroan juga berhasil menekan rugi selisih kurs dari Rp48,2 miliar menjadi Rp8,8 miliar. Pada posisi keuangan, total aset MDIA tercatat Rp3,13 triliun dengan ekuitas positif sebesar Rp935,5 miliar.
Dari sisi kewajiban, liabilitas perseroan juga mengalami penurunan sebesar Rp199,5 miliar atau 8,3 persen. Nilainya berkurang dari Rp2,39 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi Rp2,19 triliun per 31 Maret 2026.
Dalam menjalankan kegiatan usaha, MDIA masih menempatkan bisnis penyiaran televisi free-to-air (FTA) melalui ANTV sebagai sumber utama aktivitas bisnis dan pendapatan perseroan. ANTV mempertahankan citranya sebagai stasiun televisi hiburan keluarga dengan target utama pemirsa perempuan, ibu rumah tangga, serta keluarga.
Konten seperti serial India dan film klasik Indonesia menjadi bagian dari program yang diandalkan untuk mempertahankan perhatian pemirsa. Di sisi operasional, MDIA juga melakukan pembaruan Master Control Room (MCR) dan mengoptimalkan pemanfaatan transponder untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keandalan sistem penyiaran.
Strategi bisnis perseroan pada 2026 tidak hanya mengandalkan siaran televisi konvensional. MDIA berupaya memperluas ekosistem digital dengan mendistribusikan kembali konten ANTV melalui sejumlah platform, termasuk YouTube, Facebook, Instagram, serta kanal digital lainnya.
Perseroan juga mempersiapkan serial produksi lokal untuk mengisi jam tayang utama atau prime time. Selain itu, MDIA berencana menghadirkan serial asing dari pasar yang belum banyak digarap serta film Indonesia. Pengembangan konten tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan audiens sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan di luar iklan televisi konvensional.
Mengenai perubahan harga saham MDIA, manajemen menjelaskan bahwa pergerakannya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari internal perusahaan maupun kondisi eksternal. Menurut perseroan, perubahan harga saham tidak selalu bergerak searah dengan kinerja operasional dan keuangan dalam periode tertentu.
Permintaan dan penawaran saham, tingkat likuiditas, sentimen pasar, serta ekspektasi investor terhadap prospek MDIA dan industri media menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi aktivitas perdagangan saham.
Penguatan posisi perseroan dalam industri media, optimalisasi aset, peningkatan efisiensi, serta penerapan strategi bisnis juga dinilai dapat membentuk pandangan investor terhadap prospek perusahaan.
Meski demikian, MDIA menyatakan tidak terdapat kontrak atau sumber pendapatan baru yang signifikan maupun transaksi material yang belum disampaikan kepada publik setelah laporan keuangan per 31 Maret 2026.
Perseroan juga menegaskan tidak memiliki perkara hukum material yang belum diungkapkan ataupun informasi dan fakta material lain yang belum disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia.
Dari sisi industri, MDIA melihat sektor media dan hiburan di Indonesia masih memiliki peluang untuk berkembang. Perseroan mengacu pada proyeksi PwC yang memperkirakan industri hiburan dan media Indonesia tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 8,4 persen selama periode 2025-2029.
Perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi media menjadi salah satu faktor yang mendorong perseroan untuk mengembangkan pola monetisasi yang lebih beragam. Selain mengandalkan iklan televisi konvensional, MDIA akan mengembangkan pendapatan melalui digital advertising, branded content, serta kerja sama dengan kreator dan mitra strategis.
Melalui penguatan distribusi digital dan pengembangan konten, perseroan berharap dapat memperluas jangkauan pemirsa sekaligus meningkatkan nilai komersial dari aset konten yang dimiliki. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya MDIA menyesuaikan bisnis media dengan perubahan perilaku audiens dan perkembangan industri hiburan.












Discussion about this post