Jakarta, KabarSDGs – Menyambut Hari Anak Nasional 2026, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/ Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, bersama Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, meninjau pameran fotografi ‘Awan Cerah’.
Wamen Ekraf meyakini pameran ini wujud kolaborasi yang memperkuat ekosistem ekraf sejak usia dini melalui subsektor fotografi.
“Awan Cerah memperlihatkan hasil karya fotografi dari anak-anak yang ternyata talentanya berbakat dengan teknik foto yang diambil tanpa editan sehingga terlihat begitu luar biasa. Pameran fotografi ini menjadi hasil kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan lintas sektor untuk mempertunjukkan ruang karya bagi anak-anak Indonesia,” ujar Wamen Ekraf di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Selasa (21/7).
Pameran ini terbuka gratis untuk masyarakat umum setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB sejak 3 Juli sampai 1 Agustus 2026.
Mengusung tema ‘Yang Muda, Yang Berbudaya’, pameran ini menyoroti ruang kreatif yang mempertemukan imajinasi dan identitas budaya di mana lensa-lensa muda merekam denyut kehidupan serta keberagaman Nusantara.
Sebanyak 1.277 karya foto dari 643 peserta unjuk gigi, menyajikan sudut pandang yang unik dan jujur dalam merespons kebudayaan di sekitar mereka.
“Pameran ini membuka ruang kreatif untuk mengajak anak-anak mengekspresikan diri melalui kultur Indonesia. Budaya untuk bersama membangun anak-anak yang berinovasi, berkreasi, dan memberi ruang berkarya. Tentu kuncinya, kolaborasi harus menjadi bagian dari para penggerak serta stakeholder. Untuk memberikan anak-anak Indonesia masa depan dengan ruang aman dan nyaman buat mereka. Selamat Hari Anak Nasional!” ungkap Wamen PPPA.
Tata ruang pameran dirancang interaktif yang terbagi menjadi lima zona utama: area kuratorial, area karya anak (usia 6–11 tahun), area karya remaja (usia 12–16 tahun), area lokakarya, dan area merchandise.
Pendekatan ini menjadikan ruang pameran tidak sekadar tempat pajang karya, melainkan medium edukatif yang membentuk interaksi aktif antara pengunjung, karya, dan narasi budaya.
“Anak-anak mudah berekspresi dan merekam apa yang mereka rasakan melalui foto. Apalagi anak-anak sudah menggunakan handphone untuk foto dan senang menyebarkan melalui media sosial. Makanya, kami tidak membatasi kamera yang mereka gunakan. Pokoknya, mereka harus jujur dalam mengekspresikan apa yang mereka buat,” ucap Retno Audite Matin sebagai pendiri komunitas AWAN.
Komunitas AWAN (Asuh Watak dan Asuh Nalar) merupakan wadah bimbingan, pelatihan, dan pembinaan karakter anak serta remaja.
Melalui kegiatan kreatif, komunitas ini fokus mengasah keterampilan, inisiatif, dan talenta muda agar dapat berkarya serta berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
“Kami ingin mengajak anak-anak melihat bahwa budaya Indonesia itu indah. Tak berupa kain, tetapi ada keseharian yang mengingatkan sopan santun. Harapan saya, talenta-talenta dari anak bangsa ini menjadi lebih baik dan lebih andal untuk mengabadikan keindahan hidup di Indonesia. Jadi, teruslah menggali kemampuan berfoto untuk membuat suatu karya yang lebih indah,” harap Dite.
Sedangkan Program CERAH (Cerita, Ekspansif, Retorik, Aspiratif, dan Hakiki) hadir sebagai rangkaian kegiatan komprehensif yang mencakup edukasi, proses berkarya, hingga pameran.
Selain menikmati karya foto, pengunjung juga dapat mengikuti rangkaian talkshow dan workshop akhir pekan bersama para fotografer profesional, seniman, dan narasumber inspiratif.
“Inilah ekonomi kreatif yang tidak ada batas umur karena semua orang bebas berkarya. Paling penting tentu berkarya dari hati. Salam kreatif!” tutup Wamen Ekraf yang didampingi Direktur Fotografi dan Penerbitan, Iman Santosa.











Discussion about this post