Nabire, Kabar SDGs – Kemeriahan acara nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia yang dipadukan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Provinsi Papua Tengah di Bandar Udara Lama Nabire, Minggu (19/7/2026), tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi ribuan masyarakat. Momentum tersebut juga dimanfaatkan para musisi asli Papua Tengah untuk menyuarakan harapan agar karya-karya putra daerah terus memperoleh ruang dan apresiasi di daerahnya sendiri.
Bagi para musisi lokal, kesempatan tampil dalam acara yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah merupakan sebuah kehormatan sekaligus bukti bahwa talenta daerah mampu mengisi panggung berskala besar. Namun, mereka berharap keterlibatan tersebut tidak berhenti sebagai pelengkap acara, melainkan menjadi bagian utama dalam setiap kegiatan pemerintah.
Vokalis Amoye Band, Aten Tebai, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah atas kesempatan yang diberikan kepada musisi lokal untuk tampil dalam rangkaian nobar Final Piala Dunia dan peringatan HUT ke-4 Papua Tengah.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Kegiatan ini sangat positif karena memberikan kebanggaan bagi kami sebagai musisi lokal Papua,” kata Aten.
Menurutnya, penampilan musisi lokal yang dipadukan dengan momen Final Piala Dunia memiliki nilai tersendiri karena di tengah antusiasme masyarakat terhadap ajang sepak bola dunia, karya musisi Papua juga mendapat perhatian.
“Ini membangun identitas kami sebagai musisi Papua. Pemerintah memberi kepercayaan bahwa musisi lokal juga layak berdiri di panggung besar,” ujarnya.
Aten menilai kesempatan tampil di hadapan ribuan penonton menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat. Dokumentasi penampilan yang kemudian dibagikan melalui media sosial dinilai turut membantu memperluas jangkauan promosi para musisi.
“Kesempatan seperti ini jarang kami dapatkan. Orang-orang bisa melihat penampilan kami, merekamnya, lalu membagikannya di media sosial. Itu menjadi dukungan yang sangat berarti bagi kami,” tuturnya.
Meski mengapresiasi perhatian pemerintah, Aten berharap musisi asli Papua Tengah dapat lebih diprioritaskan dalam berbagai kegiatan besar yang diselenggarakan pemerintah daerah.
“Kami ingin jadi prioritas, bukan sekadar selingan. Musisi asli Papua Tengah juga layak mendapat tempat utama di setiap panggung besar yang diselenggarakan pemerintah,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa dukungan kepada para seniman tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan materi. Menurutnya, apresiasi sederhana dari masyarakat mampu menjadi penyemangat bagi para musisi untuk terus berkarya.
“Tepuk tangan, ikut bernyanyi bersama, menari, atau membagikan video penampilan kami di media sosial, itu sudah menjadi dukungan nyata bagi kami,” katanya.
Selain itu, Aten berharap pemerintah dapat memperkuat pembinaan bagi musisi muda melalui penyediaan fasilitas seperti studio musik, alat musik, maupun tempat latihan yang memadai.
“Banyak anak-anak Papua yang punya talenta luar biasa, tetapi wadahnya masih terbatas. Kami berharap ke depan ada fasilitas yang bisa membantu mereka berkembang,” ujarnya.
Ia juga mengenang perjuangan awal bersama rekan-rekannya yang harus meminjam alat musik dari gereja demi bisa berlatih.
“Itu bagian dari perjalanan kami. Karena itu kami berharap generasi berikutnya tidak lagi mengalami kesulitan seperti yang pernah kami rasakan,” katanya.
Bagi Aten, musik memiliki peran penting dalam mempererat persatuan masyarakat Papua.
“Kalau bola menyatukan dunia, musik menyatukan hati masyarakat Papua. Lewat lagu dan lirik, kami bisa menyampaikan pesan yang menyentuh dan menyatukan banyak orang,” ucapnya.
Pada penampilan malam itu, Amoye Band turut membawakan lagu Persipura karya Black Brothers sebagai bentuk penghormatan kepada ikon sepak bola Papua sekaligus memberikan semangat bagi klub-klub sepak bola di Tanah Papua.
“Ketika dunia punya Piala Dunia, kami juga ingin mengingatkan bahwa Papua punya kebanggaan, yaitu Persipura. Semoga semangat itu juga menular kepada Persipani, Persinab, dan klub-klub Papua lainnya agar terus berkembang,” tuturnya.
Sementara itu, Vokalis Kangguru Akustik, Robertha Muyapa, mengaku bersyukur grup musik yang baru berusia sekitar tujuh bulan memperoleh kesempatan tampil dalam acara tersebut.
“Usia Kangguru Akustik memang baru sekitar tujuh bulan, tetapi kami merasa bangga karena Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengundang kami untuk terlibat langsung dalam euforia Final Piala Dunia sekaligus perayaan hari lahir Papua Tengah,” ujar Robertha.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi wadah bagi para seniman dan musisi Papua untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Event seperti ini menjadi ajang bagi para seniman dan musisi Papua untuk mengekspresikan karya-karya yang sudah kami miliki agar bisa dinikmati seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Robertha berharap panggung yang melibatkan musisi lokal dapat terus diselenggarakan secara rutin sehingga semakin banyak talenta baru dari Papua Tengah yang memiliki kesempatan berkembang dan dikenal masyarakat.
“Kerinduan kami, panggung seperti ini terus ada. Dengan begitu akan lahir semakin banyak musisi-musisi Papua yang baru dan memiliki kesempatan menunjukkan karya mereka di tanah sendiri,” pungkasnya.










Discussion about this post