Jakarta, Kabar SDGs – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Swiss dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) resmi meluncurkan fase kedua Sustainable Landscape Program Indonesia (SLPI) pada Senin (22/6/2026). Program lanjutan ini memperoleh dukungan pendanaan sebesar 1,6 juta franc Swiss atau lebih dari Rp35 miliar untuk mendukung pengelolaan lanskap berkelanjutan di sejumlah wilayah Indonesia.
Fase kedua SLPI akan dijalankan pada periode 2026 hingga 2029 dengan cakupan wilayah di Aceh, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Program tersebut dirancang untuk memperkuat sinergi antara kebijakan pembangunan nasional dan pelaksanaan di tingkat daerah melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, serta sektor swasta.
Head of Nature and Low Carbon Development Unit UNDP Indonesia, Aretha Aprilia, menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“Pembangunan berkelanjutan hanya dapat terwujud ketika masyarakat menjadi bagian dari solusi. Melalui SLPI, UNDP mendukung platform multipihak yang mempertemukan petani, pemerintah, dan sektor swasta untuk membangun kolaborasi, berbagi pengetahuan, serta menyelaraskan upaya menuju tujuan bersama yang memberikan manfaat bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Aretha Aprilia, dalam siaran persnya, yang diterima redaksi.
Program ini merupakan kelanjutan dari SLPI Fase I yang berlangsung pada 2023 hingga 2025 dengan dukungan Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO). Pada fase terbaru, fokus utama diarahkan pada penguatan sistem kerja sama multipemangku kepentingan agar dapat terintegrasi secara permanen dalam tata kelola pembangunan dan pengelolaan lanskap di Indonesia.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, YM Olivier Zehnder, menyampaikan bahwa capaian fase pertama menjadi landasan penting untuk memperluas dampak program pada masa mendatang.
“Bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Swiss dan Indonesia, kami melihat SLPI sebagai bukti nyata bahwa kemitraan yang kuat dapat menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Melalui Fase I, kami telah menunjukkan bahwa pengelolaan lanskap yang berkelanjutan tidak hanya melindungi hutan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka akses ke peluang pasar yang lebih baik. Melalui Fase II, kami berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas capaian tersebut, sekaligus memastikan praktik-praktik yang telah terbukti berhasil dapat terintegrasi dalam sistem dan terus memberikan manfaat jangka panjang,” ujarnya.
Selain memperkuat kemitraan lintas sektor, SLPI Fase II juga akan menitikberatkan pada peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, penguatan sistem pemantauan berbasis hasil, mobilisasi sumber daya dalam negeri, serta keterlibatan sektor swasta dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kepemilikan program oleh berbagai lembaga dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.
Staf Ahli Menteri bagi Menteri Koordinator Bidang Konektivitas dan Sektor Jasa, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, menegaskan bahwa pengelolaan lanskap memiliki peran strategis dalam mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
“Lanskap Indonesia adalah aset nasional, dan melindunginya sekaligus memajukan kesejahteraan masyarakat kita merupakan prioritas nasional,” ujar Dida Gardera, Staf Ahli Menteri bagi Menteri Koordinator Bidang Konektivitas dan Sektor Jasa, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Menurutnya, peluncuran fase kedua program ini menjadi bukti komitmen bersama berbagai pihak dalam menjaga kelestarian lanskap yang menopang kehidupan masyarakat sekaligus menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Ditambahkannya, peluncuran SLPI Fase II menandakan lebih dari sekadar kelanjutan sebuah program. Ini merupakan wujud komitmen bersama untuk melindungi lanskap yang menopang kehidupan masyarakat, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan peluang bagi generasi mendatang.











Discussion about this post