Karangasem, Kabar SDGs – Gubernur Bali Wayan Koster memulai langkah strategis dalam penataan kawasan suci Pura Agung Besakih melalui program restorasi Parahyangan yang telah lama dirancang. Dimulainya tahapan ini ditandai dengan pelaksanaan upacara Ngeruak atau Mulang Dasar sekaligus peletakan batu pertama penataan area Parahyangan Tahap II di kawasan Pura Banua, Besakih, Kecamatan Rendang, Jumat (1/5), bertepatan dengan Rahina Purnama.
Di hadapan undangan yang hadir di Wantilan Kesari Warmadewa Besakih, Koster menekankan bahwa pekerjaan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya mengembalikan keaslian kawasan suci sesuai dengan pakem arsitektur Bali. “Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian,” tegasnya.
Langkah ini berangkat dari kondisi kawasan yang selama bertahun-tahun dinilai tidak tertata secara seragam. Berbagai elemen seperti kori candi bentar, penyengker, hingga pelinggih menunjukkan perbedaan dari sisi bahan, warna, motif, hingga ukuran. Penggunaan material yang beragam, mulai dari batu padas hingga beton, serta kondisi bangunan yang sebagian rusak dan tidak terawat, dinilai mengurangi kesan sakral kawasan tersebut. “Secara keseluruhan tidak harmonis dan tidak mencerminkan keagungan kawasan suci dengan latar Gunung Agung,” ungkap Koster.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena sebelumnya tidak ada standar penataan yang baku, sehingga pembangunan dilakukan sesuai kemampuan masing-masing daerah maupun partisipasi umat. Melalui restorasi ini, sebanyak 30 titik suci akan ditata ulang dengan pendekatan yang mengedepankan keseragaman material, kesesuaian ornamen, serta pengembalian pada arsitektur asli Bali guna menciptakan keseimbangan antara aspek sekala dan niskala.
Program ini merupakan kelanjutan dari penataan tahap pertama yang telah difokuskan pada aspek palemahan, seperti pembangunan fasilitas parkir, sarana umat, dan kios pedagang. Total anggaran penataan kawasan Besakih mencapai lebih dari Rp1 triliun, dengan rincian tahap awal sekitar Rp911 miliar yang bersumber dari APBN dan APBD Provinsi Bali. Tahap kedua sendiri telah dimulai sejak 2025 dan ditargetkan rampung pada 2026 dengan dukungan anggaran bersama pemerintah daerah.
Koster menilai perubahan signifikan sudah mulai dirasakan, khususnya dalam pengelolaan akses dan parkir yang sebelumnya sering menjadi kendala utama bagi umat. “Dulu krodit sekali. Kendaraan menumpuk, umat tidak bisa masuk, bahkan ada yang sembahyang dari jalan lalu pulang,” kenangnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan harus dilandasi kesadaran spiritual. “Ini linggih stana Ida Bhatara. Harus dikerjakan dengan rasa, dengan doa, tidak bisa asal bangun,” ujarnya. Ia juga mengingatkan para pelaksana proyek agar tidak semata mengejar keuntungan. “Jangan hanya mikir untung. Kalau kualitas dikurangi, hasilnya tidak baik. Ini tempat suci, bukan proyek biasa,” tegasnya.
Menurut Koster, keberadaan Besakih tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga bagian dari sistem kosmologi Bali yang diwariskan leluhur. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap lestari dan semakin berkualitas di masa depan. “Bali ini bukan tanah biasa. Ini tanah yang disucikan oleh para leluhur. Kita hanya melanjutkan apa yang telah mereka rintis,” ujarnya. Ia menambahkan, “Bali harus tetap ada sepanjang zaman, dengan kualitas yang semakin baik.”
Pemerintah Provinsi Bali juga telah menyiapkan tahap lanjutan berupa pengembangan akses menuju Besakih dari berbagai arah, yang direncanakan mulai 2027 hingga 2029. Penataan ini diharapkan mampu menghadirkan perjalanan spiritual yang lebih tertata, aman, dan nyaman bagi umat sejak dari rumah hingga tiba di pura.
Menutup pernyataannya, Koster menegaskan bahwa proyek ini memiliki makna yang lebih luas. “Ini bukan hanya untuk Bali, tetapi untuk Indonesia dan dunia,” tegasnya. Dengan target penyelesaian tahap kedua pada November 2026, restorasi ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mengembalikan kemuliaan Pura Agung Besakih sebagai pusat spiritual Bali.











Discussion about this post