Aceh, Kabar SDGs – Petani kelapa sawit di Aceh mengeluhkan penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang terjadi pada akhir April 2026, disertai dengan perbedaan harga pembelian di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS). Kondisi ini dinilai memberatkan petani, baik yang tergabung dalam pola kemitraan plasma maupun petani swadaya.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh, Netap Ginting, menyampaikan bahwa berdasarkan penetapan harga bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, terjadi penurunan harga TBS sebesar Rp70 hingga Rp90 per kilogram pada pekan keempat April 2026. “Penurunan ini berlaku bagi petani mitra plasma maupun swadaya,” kata Netap Ginting.
Ia menjelaskan bahwa turunnya harga tersebut dipengaruhi oleh melemahnya harga crude palm oil (CPO) dibandingkan periode sebelumnya. “Harga CPO turun dari Rp 15.994 per kilogram menjadi Rp 15.444 per kilogram. Sementara harga kernel masih relatif stabil di angka Rp 15.204 per kilogram,” ujarnya.
Di lapangan, lanjutnya, harga pembelian TBS oleh PKS untuk petani swadaya masih bervariasi. Harga tertinggi tercatat mencapai Rp3.340 per kilogram, sementara harga terendah berada di kisaran Rp2.980 per kilogram. Perbedaan ini menunjukkan belum adanya keseragaman harga di tingkat pabrik.
Atas kondisi tersebut, Apkasindo berharap pihak perusahaan dapat mengikuti harga yang telah ditetapkan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh agar lebih adil bagi petani. “Kami berharap rekan-rekan PKS membeli TBS petani secara linier dengan penetapan harga dari Distanbun Aceh,” katanya.
Selain itu, organisasi petani juga mengimbau agar petani sawit menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP), termasuk memanen buah sesuai tingkat kematangan agar kualitas tetap terjaga dan harga jual dapat lebih optimal.
Berdasarkan penetapan harga yang berlaku pada 22 April hingga 5 Mei 2026, harga tertinggi untuk petani mitra plasma terdapat pada tanaman berumur 10 hingga 20 tahun dengan rendemen 21,83 persen. Di wilayah timur, harga mencapai Rp3.758 per kilogram, sedangkan di wilayah barat sebesar Rp3.694 per kilogram.
Sementara untuk tanaman yang masih berumur tiga tahun, harga berada pada kisaran Rp2.821 per kilogram di wilayah timur dan Rp2.772 per kilogram di wilayah barat. Harga cenderung meningkat seiring bertambahnya usia tanaman hingga mencapai puncak, sebelum kembali mengalami penurunan pada usia 21 hingga 25 tahun.
Pada sektor petani swadaya, harga sangat dipengaruhi oleh komposisi bibit yang digunakan. Bibit dengan komposisi 100 persen Tenera mencatat harga tertinggi, yakni Rp3.453 per kilogram di wilayah timur dan Rp3.394 per kilogram di wilayah barat. Sebaliknya, peningkatan penggunaan bibit Dura berdampak pada penurunan harga, di mana komposisi 40 persen Tenera dan 60 persen Dura menghasilkan harga Rp3.331 per kilogram di wilayah timur dan Rp3.274 per kilogram di wilayah barat.
Dalam penetapan terbaru, harga CPO berada di angka Rp15.442,86 per kilogram, sementara harga kernel sebesar Rp15.204,57 per kilogram. Adapun indeks K tercatat sebesar 90,30 persen untuk wilayah timur dan 88,75 persen untuk wilayah barat, yang turut memengaruhi penentuan harga TBS di tingkat petani.












Discussion about this post