Mahakam Ulu, Kabar SDGs – Setelah 80 tahun Indonesia merdeka, warga Kabupaten Mahakam Ulu akhirnya merasakan akses darat yang menghubungkan mereka langsung dengan dunia luar tanpa harus sepenuhnya bergantung pada Sungai Mahakam. Tonggak sejarah tersebut ditandai dengan peresmian segmen 1, 2, 3, dan 4 Jalan Tering–Ujoh Bilang oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud pada Selasa, 6 Januari 2026.
Penantian panjang masyarakat di jantung pedalaman Kalimantan Timur itu kini mulai terbayar. Jalur darat yang dibangun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur secara resmi menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan Kabupaten Mahakam Ulu, kabupaten termuda di Benua Etam yang selama puluhan tahun hanya mengandalkan transportasi sungai sebagai urat nadi kehidupan.
“Ini adalah daerah yang sangat jauh di ujung,” ujar Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat peresmian. Ia menegaskan, pembangunan Jalan Tering–Ujoh Bilang bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan langkah strategis untuk membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan perbatasan.
Mahakam Ulu dan Kutai Barat memiliki posisi strategis karena terhubung dengan Provinsi Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta berbatasan langsung dengan Malaysia, yakni Sarawak dan Sabah. Kondisi tersebut menjadikan konektivitas darat sebagai kebutuhan mendesak untuk mendorong pemerataan pembangunan dan memperkuat kehadiran negara di wilayah perbatasan.
Selama ini, mobilitas warga Mahakam Ulu menghadapi tantangan besar. Distribusi bahan pokok, bahan bakar minyak, hingga akses layanan pendidikan dan kesehatan sepenuhnya bergantung pada speedboat atau kapal kayu yang menyusuri Sungai Mahakam. Ketergantungan tersebut menyebabkan biaya angkut tinggi dan harga kebutuhan pokok kerap melambung.
Dengan dibukanya jalur darat, waktu tempuh dan biaya logistik kini dapat dipangkas secara signifikan. Distribusi barang menjadi lebih lancar tanpa tergantung kondisi sungai, sekaligus menekan risiko kelangkaan BBM dan sembako di wilayah pedalaman. “Setelah 80 tahun kita merdeka, warga Mahulu mulai hari ini benar-benar terhubung dengan dunia luar, tanpa harus lewat sungai,” tegas Rudy Mas’ud.
Menurutnya, tersambungnya Mahakam Ulu dengan Kutai Barat akan membuka akses yang lebih luas menuju Samarinda, Balikpapan, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara. Dampak lanjutan dari konektivitas ini diharapkan dapat dirasakan langsung melalui pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan kualitas pendidikan, serta pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Meski demikian, Gubernur Kaltim mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Medan ekstrem di kawasan tersebut menuntut pemeliharaan jalan yang konsisten agar jalur darat tetap fungsional sepanjang tahun dan tidak kembali terputus akibat longsor atau kerusakan infrastruktur. “Setelah seluruh ruas tuntas, kita akan pasangkan penerangan jalan umum tenaga surya yang lebih memadai agar jalan tidak gelap dan aman dilalui,” pungkasnya.











Discussion about this post