Lasem, Kabar SDGs — Enam belas perempuan warga Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah berbagi cerita tentang hidup di wilayah pesisir utara Jawa. Mereka memotret sudut-sudut desa melalui perspektif masing-masing, merefleksikan kehidupan di mata setiap perempuan yang memiliki ragam profesi. Karya foto mereka ditampilkan dalam pameran dan diskusi foto bertema “Suara Segara: Perempuan Gedongmulyo Bercerita” di Lasem, pada Minggu (1/11).
Inisiatif ini dirancang untuk memberikan ruang bagi perempuan nelayan dalam menangkap, mendokumentasikan, serta menyampaikan perspektif dan aspirasi mereka terhadap kondisi sumber daya alam dan sosial-ekonomi-budaya kepada keluarga, masyarakat, pemangku kepentingan, dan publik yang lebih luas. Melalui kolaborasi Coral Triangle Center (CTC) dengan Photovoices International (PVI), ruang ini diwujudkan dengan menggunakan pendekatan fotografi partisipatif yang memungkinkan para perempuan menceritakan pengalaman dan menyuarakan aspirasi mereka melalui perspektif masing-masing.
Sejak 2023, CTC telah bekerja sama dengan perempuan di Desa Gedongmulyo melalui berbagai pelatihan, termasuk pengelolaan perikanan berkelanjutan dan pengembangan kepemimpinan untuk memperkuat kapasitas, keterampilan, serta peran mereka dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa pengetahuan, pengalaman, dan kepemimpinan perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Kami berharap para perempuan ini dapat terus berkembang menjadi pemimpin dan penggerak perubahan, menginspirasi masyarakat di sekitar mereka, serta turut mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Desa Gedongmulyo dan wilayah sekitarnya.” terang Rili Djohani, Direktur Eksekutif Coral Triangle Center.
Kendati program ini berlangsung singkat, 16 peserta menghasilkan rangkaian foto dan cerita yang kuat, mengangkat empat tema utama yang menjadi perhatian mereka. Yakni tentang perikanan laut, pengelolaan sampah, garam, serta pariwisata dan ekosistem mangrove.
“Apa yang telah disuarakan oleh perempuan Gedongmulyo menjadi masukan bagi kami. Melalui foto-foto yang disampaikan oleh ibu-ibu, kami akan melihat intervensi apa yang dapat dilakukan. Ibu-ibu yang telah dipersiapkan oleh CTC-PVI ini merupakan sumber daya manusia yang luar biasa. Nantinya, mereka akan kami libatkan sebagai agen untuk memberikan penjelasan kepada warga Gedongmulyo lainnya. Setelah itu, kami berharap inisiatif ini dapat direplikasi di desa-desa lain,” tutur Kepala DKP Kabupaten Rembang, Nurida Andante Islami.

Ragam perspektif
Ibu rumah tangga, guru, pelaku usaha kecil, pembuat jaring, pengupas rajungan, petugas kebersihan pantai wisata, dan perangkat desa saling berbagi cerita. Ragam perspektif hadir untuk satu asa yang sama, menjaga kelestarian alam Gedongmulyo demi keberlangsungan hidup yang sejahtera.
Gedongmulyo menjadi salah satu desa pesisir yang memiliki keberagaman sumber daya berkat tiga ekosistem yang mengelilinginya, yakni ekosistem perairan laut, sungai, dan mangrove. Dikenal sebagai sentra perikanan rajungan, peserta program Perempuan Gedongmulyo Bercerita Melalui Foto menyoroti turunnya hasil rajungan dan ukurannya yang mengecil. Pun halnya hasil tangkapan laut lainnya seperti ikan dan cumi-cumi. Di sisi lain, harga jual yang tidak stabil menambah keresahan warga desa.
“Bagi masyarakat di perikanan, kehidupan sehari-hari itu tergantung pada satu pendapatan, yaitu hasil melaut. Apabila lautnya tidak dijaga, dari mulai kebersihannya, alat tangkapnya, dan kesadaran orang-orang yang melaut, nanti ketersediaan sumber daya laut akan habis. Bagaimana dengan nasib anak dan cucu kita apabila kita tidak merawat dari sekarang? InsyaAllah melalui fotografi, pihak yang berhubungan bisa mengetahui dan bisa memahami cerita kita, memberikan solusi, dan memberikan sumbangan informasi-informasi yang dibutuhkan” ujar Nur Chriswatun Nida, salah satu peserta program Perempuan Gedongmulyo Bercerita Melalui Foto.

Sementara, tumpukan sampah yang memenuhi muara sungai menjadi penyebab pendangkalan sungai yang menyebabkan pencemaran terhadap laut maupun sungai yang digunakan untuk membuat garam di Gedongmulyo. Kualitas air sungai akan mempengaruhi kualitas garam yang dihasilkan. Membuat garam memang telah menjadi bagian dari nadi kehidupan masyarakat Gedongmulyo, dengan tradisi pembuatan garam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah suhu Bumi yang terus menghangat, pembuatan garam semakin berlimpah, namun harga jual semakin murah.
Harapan kini juga bertumpu pada pariwisata yang mulai berderap di Gedongmulyo dan menumbuhkan sumber ekonomi baru. Susur pantai dan adanya hutan mangrove di sekitarnya merupakan potensi pariwisata yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.
“Pendekatan fotografi partisipatif menjadi cara untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat setempat menggunakan fotografi sebagai media untuk menyampaikan pengalaman dan perspektif mereka, belajar mengidentifikasi isu dan menyusun cerita berdasarkan pengalaman peserta sendiri. Rangkaian foto dan cerita yang dihasilkan dalam program ini merefleksikan peranan para perempuan sekaligus memperlihatkan keuletan, ketangguhan, dan kegigihan khas perempuan pesisir,” pungkas Direktur Eksekutif Photovoices International Tri Soekirman.












Discussion about this post