Maros, Kabar SDGs – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan pentingnya pelestarian dan konservasi kekayaan alam serta keanekaragaman hayati Indonesia saat mengunjungi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Kawasan yang menjadi bagian dari Geopark Maros-Pangkep tersebut telah memperoleh pengakuan UNESCO Global Geopark sejak 2023.
Dalam kunjungan itu, Fadli meninjau potensi kawasan yang memiliki bentang alam karst sekaligus kekayaan hayati dan budaya. Menurutnya, berbagai potensi tersebut memiliki nilai penting bagi penelitian, pendidikan, serta pengembangan pengetahuan mengenai sejarah dan keunikan Indonesia.
Sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Fadli turut menekankan perlunya menjaga komitmen pelestarian dan memenuhi ketentuan UNESCO dalam pengelolaan kawasan geopark. Ia menilai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya merupakan unsur yang saling berkaitan dalam membentuk identitas suatu wilayah.
“Geopark ini memiliki kekayaan yang luar biasa, baik dari bentang alam, keanekaragaman hayati, maupun keunikan yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Karena itu, kekayaan ini harus terus dijaga, dilindungi, dan dikonservasi. Sebagai UNESCO Global Geopark, kawasan ini juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi persyaratan pelestarian, edukasi, dan pelaporan secara berkala kepada UNESCO,” ucapnya.
Fadli juga menyoroti nilai historis Bantimurung sebagai lokasi penelitian naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang pernah melakukan penelitian kupu-kupu di kawasan tersebut pada abad ke-19. Kekayaan spesies kupu-kupu dan karakteristik vegetasi Sulawesi dinilai menjadi bagian penting dari biodiversitas Indonesia yang perlu terus diteliti dan dilindungi.
“Kupu-kupu Bantimurung merupakan salah satu kekayaan biodiversitas Indonesia yang sangat menarik. Kawasan ini pernah menjadi lokasi penelitian Alfred Russel Wallace dan memiliki keunikan spesies yang menjadi bagian dari kekayaan alam Sulawesi. Kita perlu memastikan bahwa keanekaragaman hayati ini tetap terjaga melalui perlindungan dan konservasi yang berkelanjutan,” tambahnya.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan kawasan konservasi yang secara administratif mencakup Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta Kabupaten Bone. Kawasan seluas sekitar 43.077,30 hektare ini dikenal dengan formasi karstnya, termasuk bentang alam menara karst yang menjadi ciri khas wilayah Maros-Pangkep.
Pengakuan UNESCO Global Geopark yang diperoleh Maros-Pangkep pada 2023 mencerminkan nilai penting kawasan tersebut dari aspek geologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan. Selain menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna, kawasan ini juga menyimpan jejak kehidupan serta tradisi masyarakat setempat. Keterkaitan ketiga unsur tersebut menjadikan pengelolaan dan pelestarian kawasan perlu dilakukan secara terpadu.
Bantimurung juga dikenal dengan julukan The Kingdom of Butterfly atau Kerajaan Kupu-kupu karena kekayaan spesies kupu-kupunya. Penelitian Alfred Russel Wallace pada 1857 turut memperkenalkan keanekaragaman kupu-kupu di kawasan tersebut kepada dunia melalui kajian sejarah alam. Hingga kini, kekayaan hayati dan bentang alam karst Bantimurung tetap menjadi bagian penting dari kegiatan konservasi, penelitian, dan wisata alam.
Sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark, Maros-Pangkep memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan nilai geologi, hayati, dan budaya yang menjadi dasar pengakuannya. Upaya tersebut meliputi konservasi, edukasi, serta pengembangan kawasan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dalam peninjauan tersebut, Fadli Zon didampingi Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Sinatriyo Danuhadiningrat.
Kementerian Kebudayaan mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor untuk menjaga kelestarian kekayaan alam dan budaya di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung serta Geopark Maros-Pangkep. Melalui kerja sama berbagai pihak, kawasan tersebut diharapkan tetap terpelihara dan dapat memberikan manfaat bagi penelitian, pendidikan, serta generasi mendatang.










Discussion about this post