Penajam Paser Utara, Kabar SDGs – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, terus mendorong pemanfaatan potensi budaya lokal sebagai salah satu upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU adalah penyelenggaraan Pesta Adat Nondoi di kawasan Rumah Adat Paser.
Tradisi tahunan masyarakat Paser tersebut kini dikembangkan tidak hanya sebagai ruang pelestarian ritual dan warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk menggerakkan perekonomian daerah. Keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor ekonomi kreatif menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
Kepala Disbudpar Kabupaten Penajam Paser Utara, Safwana, mengatakan bahwa Pesta Adat Nondoi memiliki peluang untuk memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha lokal.
“Festival adat ini dengan perspektif yang lebih luas, bukan hanya seremonial tahunan tetapi memiliki nilai ekonomi karena melibatkan peran umkm,” katanya pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Penyelenggaraan pesta adat di kawasan Rumah Adat Paser turut menarik perhatian masyarakat melalui beragam stan yang menawarkan kuliner khas daerah, produk kriya, serta berbagai kerajinan tangan lokal. Kehadiran produk-produk tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan hasil usaha mereka kepada pengunjung.
Aktivitas di lokasi kegiatan semakin ramai menjelang sore hingga malam hari. Pertunjukan seni dan hiburan rakyat menjadi daya tarik bagi warga maupun wisatawan untuk berkunjung, sekaligus menciptakan peluang transaksi bagi pedagang yang membuka usaha di sekitar arena acara.
Safwana menjelaskan bahwa keramaian selama penyelenggaraan Pesta Adat Nondoi memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pemasaran produk mereka. Menurutnya, kegiatan budaya dapat menjadi ruang promosi yang mempertemukan produk UMKM dengan calon konsumen secara langsung.
“Kegiatan ini jelas membawa dampak positif bagi ekonomi warga. Setiap malam, aktivitas di sekitar Rumah Adat selalu hidup dan ramai dikunjungi warga. Ini menjadi kesempatan emas bagi para pedagang UMKM lokal untuk memasarkan produk-produk kuliner maupun hasil kerajinan mereka,” papar Safwana.
Selain mendorong kegiatan ekonomi, Pesta Adat Nondoi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan kebudayaan antardaerah. Panitia penyelenggara mengagendakan undangan kepada pemerintah daerah serta organisasi paguyuban dari kabupaten dan kota sekitar, termasuk Kabupaten Paser yang berpusat di Tana Grogot.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperluas ruang interaksi antarwarga sekaligus memperkuat hubungan antardaerah di Kalimantan Timur. Melalui pertemuan dalam kegiatan budaya, masyarakat memiliki kesempatan untuk saling mengenal tradisi, membangun komunikasi, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Pendekatan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat ini juga membuka peluang bagi Pesta Adat Nondoi untuk berkembang sebagai ruang perjumpaan budaya yang lebih inklusif. Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat Paser di Penajam, tetapi juga dapat memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Safwana berharap kehadiran perwakilan pemerintah daerah tetangga dan partisipasi organisasi paguyuban dapat semakin mempererat silaturahmi sekaligus menjaga keberlangsungan kebudayaan lokal.
“Kami ingin pesta adat ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat. Kunjungan perwakilan dari daerah tetangga serta partisipasi paguyuban warga akan semakin memperkuat persatuan dan kebudayaan di tanah Paser,” tutup Safwana.
Melalui Pesta Adat Nondoi, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara berupaya menghubungkan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Keterlibatan UMKM, promosi produk lokal, serta interaksi antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari upaya agar tradisi daerah terus hidup sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.











Discussion about this post