Aceh Barat, Kabar SDGs – Nipah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir Gampong Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat. Tumbuhan yang banyak ditemukan di kawasan rawa pesisir tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk budaya dan ekonomi masyarakat.
Potensi itu kembali diperkenalkan melalui Festival Nipah 2026 yang mengangkat tema “Nipah Meubudaya, Masyarakat Seujahtera”. Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi masyarakat Gampong Suak Timah bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.
Festival Nipah tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga ruang untuk menjaga budaya, memperkenalkan potensi gampong, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pendekatan kebudayaan.
Masyarakat Suak Timah telah mengolah buah nipah menjadi sejumlah produk bernilai ekonomi. Di antaranya dodol, sirup, manisan, hingga karamel. Pengembangan tersebut menjadi contoh pemanfaatan sumber daya lokal untuk menghasilkan produk yang dapat mendukung perekonomian warga.
Keuchik Suak Timah, Afdhal, berharap pelaksanaan Festival Nipah dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk terus mengembangkan ekonomi yang berbasis budaya.
Suak Timah merupakan gampong pesisir di Kecamatan Samatiga dengan potensi yang beragam. Kawasannya mencakup sawah, perkebunan, ladang, perikanan darat, hingga rawa yang ditumbuhi nipah.
Potensi alam tersebut berjalan beriringan dengan kekayaan seni dan budaya masyarakat. Suak Timah menjadi salah satu desa yang mengikuti Program Pemajuan Kebudayaan Desa sejak 2024. Pemerintah gampong bersama pemuda, pelaku budaya, komunitas, dan masyarakat kemudian mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki.
Ketua Tuha Peut Suak Timah, Adriman, menilai keberlanjutan program menjadi faktor penting agar pengembangan kebudayaan dan ekonomi desa dapat terus berjalan.
“Bagi kami, keberlanjutan seperti ini sangat penting. Apa yang sudah dimulai pada 2024 tidak berhenti begitu saja, tetapi bisa diperkuat dan dikembangkan,” ujarnya.
Menurut dia, masyarakat kini mulai memasuki fase penguatan ekonomi budaya. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas pelaku budaya dan UMKM, pendataan, pelestarian sejarah dan pengetahuan lokal, serta pemanfaatan nipah dan berbagai kegiatan budaya sebagai sumber ekonomi.
Festival Nipah menjadi tempat bertemunya masyarakat, pelaku usaha, pelaku budaya, dan berbagai pihak. Melalui kegiatan tersebut, mereka dapat berkomunikasi, berekspresi, memperkenalkan produk, bertukar gagasan, serta membuka peluang ekonomi baru.
Perkembangan tersebut mulai dirasakan sejumlah pelaku usaha. UMKM Cang Nipah mengolah bahan nipah menjadi dodol, manisan, karamel, dan sirup. Sementara UMKM Ummu Muttaqin mengembangkan produksi jamu herbal.
Pengrajin reungkan atau anyaman yang dibuat dari lidi nipah juga mulai menerima pesanan setelah pelaksanaan kegiatan festival. Berbagai usaha tersebut terus dikembangkan dengan memanfaatkan festival sebagai sarana promosi sekaligus pemasaran.
Potensi Suak Timah juga dikembangkan melalui sektor pariwisata. Salah satunya melalui Paket Wisata Jelajah Rawa Nipah yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk menikmati kawasan rawa sekaligus mengenal pengetahuan, sejarah, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan di sekitarnya.
Untuk mendukung kegiatan wisata, Suak Timah telah memiliki fasilitas kafetaria, suvenir berupa jus buah nipah, serta homestay.
Dalam data Jadesta Kementerian Pariwisata, Suak Timah tercatat sebagai Desa Wisata kategori Rintisan. Desa tersebut juga menjadi salah satu penerima Apresiasi Desa Budaya 2025 dari Kementerian Kebudayaan RI.
Rangkaian Festival Nipah 2026 turut diisi berbagai kegiatan pra-festival pada 7-12 September 2026. Agenda tersebut mencakup workshop kuliner dan kriya nipah, lokakarya wisata, inovasi kasab, serta manajemen UMKM.
Puncak Festival Nipah dijadwalkan berlangsung pada 14-15 September 2026. Rangkaian acaranya meliputi pameran produk lokal, pertunjukan seni, serta pelestarian tradisi yang berangkat dari ekosistem rawa nipah.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh turut mendorong kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, pemerintah gampong, komunitas, pelaku pariwisata, serta sektor ekonomi kreatif.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengelola destinasi, mengembangkan atraksi wisata, meningkatkan mutu produk, mengemas budaya sebagai daya tarik wisata, serta memperkuat promosi dan pemasaran.
Daya Desa Suak Timah, Mukhsin, mengatakan pengembangan ekonomi budaya melalui Festival Nipah diharapkan mampu memberikan manfaat langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjaga kebudayaan dan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga.
Menurutnya, festival bukanlah tujuan akhir, tetapi menjadi sarana agar aktivitas masyarakat terus berjalan setelah rangkaian kegiatan selesai.
“Festival bukan tujuan utama. Festival adalah media. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah festival selesai masyarakat tetap bergerak. Ada yang membuat produk, ada yang mendapatkan pesanan, ada yang mengembangkan usaha, ada yang mengelola wisata,” ujarnya.










Discussion about this post