Sidoarjo, Kabar SDGs – Perkembangan kawasan industri dan posisi Sidoarjo sebagai daerah penyangga Surabaya tidak membuat kehidupan seni dan budaya di wilayah tersebut kehilangan geliat. Sebaliknya, ekosistem kreatif di Kota Delta terus berkembang dan dinilai memiliki potensi yang perlu mendapat ruang lebih luas.
Potensi tersebut terlihat dalam penyelenggaraan perdana Darjonesia Dance Festival yang digelar Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) di Dekesda Art Center, Jalan Erlangga Nomor 67, Sidoarjo, pada 6–7 September 2026. Festival dengan tema “Merayakan Bertemunya Gagasan Kreatif Menuju Kota Kreatif” tersebut mempertemukan koreografer, seniman, komunitas, serta penikmat seni dari sejumlah daerah di Indonesia hingga Jepang.
Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih, mengapresiasi para pelaku seni dan budaya yang dinilai konsisten menjaga keberlangsungan kebudayaan di daerah tersebut.
“Ini benar-benar luar biasa. Di sini, meskipun merupakan daerah industri dan daerah penyangga, sebenarnya kehidupan seni dan budayanya luar biasa. Saya memberikan apresiation yang luar biasa kepada para seniman, pelaku budaya, dan pemerhati sejarah yang ada di sini,” ujarnya, Senin (7/9/2026).
Menurut Nasih, apresiasi terhadap perkembangan seni dan budaya perlu diikuti dengan dukungan konkret dari pemerintah daerah. Salah satu kebutuhan yang dinilainya penting adalah tersedianya ruang pertunjukan yang memadai sehingga karya para seniman lokal dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan tidak hanya berputar di lingkungan komunitas.
Ia menggambarkan Sidoarjo sebagai sebuah kertas putih yang terus mengalami pembangunan. Namun, perkembangan infrastruktur tersebut diharapkan tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas serta nilai kebudayaan daerah.
“Kita membutuhkan tempat pertunjukan yang representatif sehingga bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat,” tegas Nasih.
Nasih juga menilai museum memiliki posisi penting dalam menjaga rekam jejak sejarah Sidoarjo. Keberadaan museum diharapkan dapat menjadi tempat untuk menyimpan sekaligus mengenalkan berbagai artefak dan sejarah daerah kepada generasi berikutnya.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Ketua Dekesda, Ribut Wiyoto. Ia menyampaikan bahwa Dekesda tengah memproyeksikan Museum Narotama yang salah satu fungsinya akan mengenalkan sejarah kelompok teater pertama yang pernah berkembang di Sidoarjo.
Ribut menjelaskan bahwa nama Darjonesia merupakan gabungan dari kata Sidoarjo dan Indonesia. Festival tersebut dirancang sebagai ruang bertemunya para pelaku seni untuk bertukar pemikiran dan membangun jejaring, bukan hanya sebagai pertunjukan seni.
“Dewan Kesenian Sidoarjo mencoba mengisi ruang kosong tersebut, yakni ketiadaan event pertemuan koreografer tari. Jadi, ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga memberikan ruang untuk berbagi tentang gagasan, wacana, pengetahuan, sejarah, dan latar belakang karya tari,” ungkapnya.
Sejumlah karya tari ditampilkan pada hari pertama festival, Minggu (6/9/2026). Beberapa di antaranya Kalilan karya Yoga Kameshwara dari Kediri, Serat Kambut karya Lalu Suryadi Mulawarman dari Mataram, Ni-Ti-Te-Ni karya Patry Eka Prasetya dari Sidoarjo, serta Roh Di Antara Riuh karya Benny Krisnawardi dari Jakarta.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi Sesi Bedah Karya yang menghadirkan Prof. Robby Hidayat dari Universitas Negeri Malang sebagai pakar seni. Diskusi tersebut dipandu Heri Lentho Prasetya sebagai moderator untuk membahas berbagai karya yang ditampilkan dalam festival.
Dukungan terhadap pengembangan seni dan budaya juga datang dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo, Ridho Prasetyo, menyatakan pemerintah daerah akan terus mendorong kerja sama dengan para seniman dan budayawan.
“Kami berharap terus melakukan kolaborasi dengan rekan-rekan seniman dan budayawan agar kebersamaan tetap terjaga. Tujuannya untuk memberikan kemajuan di bidang seni dan budaya, serta mewujudkan keinginan memberikan sesuatu yang maksimal dengan terbangunnya gedung kesenian di Sidoarjo,” terangnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkab Sidoarjo saat ini tidak hanya mengkaji konsep pembangunan gedung kesenian dengan skala ideal seperti yang terdapat di Jakarta, Jogja, dan Bali. Perbaikan fasilitas dalam jangka pendek juga mulai diarahkan pada Art Center di kawasan Celep agar dapat lebih mendukung berbagai aktivitas dan kegiatan para seniman Sidoarjo.









Discussion about this post