Banda Aceh, Kabar SDGs – Program Skate Park Stage yang diinisiasi dalam kerangka Living Lab Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala terus berkembang sebagai ruang eksplorasi seni berbasis praktik yang inklusif dan terbuka bagi berbagai kalangan. Kegiatan ini rutin digelar setiap Jumat sore di Skate Park Gelanggang USK, Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh.
Ketua Inkubator Seni USK, Ari Palawi, menjelaskan bahwa Skate Park Stage tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang menekankan proses kreatif. Program ini mempertemukan mahasiswa, dosen, komunitas seni, hingga masyarakat dalam satu ekosistem yang dinamis.
“Konsepnya sederhana, ruang praktik berbasis proses. Di sini bukan hanya soal tampil, tetapi bagaimana eksplorasi kreasi musikal, syair, ekspresi gerak, hingga lintas medium seni, bahkan bersinggungan dengan spiritualitas, olahraga, ilmu pengetahuan, dan teknologi,” ujarnya dalam keterangan tertulis Humas USK, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa lintas program studi—khususnya dari kelas Industri Ekonomi Kreatif Seni serta Artistik dan Teknologi Produksi Seni—hingga dosen, praktisi, komunitas, sanggar seni di Banda Aceh, dan masyarakat sekitar kampus.
Ari menyebutkan bahwa dampak program ini mulai dirasakan, terutama bagi mahasiswa yang tidak hanya tampil, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam berbagai aspek seperti produksi, dokumentasi, publikasi, kolaborasi, hingga manajemen kegiatan.
“Masyarakat juga mulai ikut terlibat. Dari yang awalnya hanya menonton, kini banyak yang ingin berpartisipasi. Ruang ini terasa lebih dekat, tidak kaku, dan memberi pengalaman belajar yang nyata,” ucapnya.
Ke depan, Skate Park Stage diharapkan berkembang menjadi ekosistem seni kampus yang berkelanjutan. Program ini juga diproyeksikan sebagai fondasi dalam pengembangan talenta, penciptaan karya, serta riset berbasis praktik yang mendukung rencana pengembangan program studi seni terpadu hingga jenjang magister.
Ari menegaskan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ini terbuka luas bagi siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dalam berbagai peran.
“Kami membuka ruang bagi siapa saja. Baik sebagai penampil, dokumentator, penulis, peneliti, volunteer produksi, maupun kolaborator lintas disiplin,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Skate Park Stage tumbuh melalui kolaborasi berbagai pihak, tidak hanya dari dukungan formal kampus, tetapi juga dari semangat kolektif dan jejaring komunitas.
“Karena itu, kami melihat ini bukan sekadar event, tetapi sebuah gerakan kultural, tempat seni dikerjakan bersama, bukan hanya dibicarakan,” ujar Ari.










Discussion about this post