Jakarta, Kabar SDGs – Tubaba Art Festival (TAF) untuk kali ketiga secara berturut-turut berhasil terpilih sebagai salah satu festival terbaik Nasional dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2025, yang merupakan sebuah platform yang dikelola oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Republik Indonesia.
Melalui pengumuman di akun Instagram, Kemenpar telah merilis daftar 110 acara yang terpilih dari seluruh wilayah Indonesia.
Provinsi Lampung hanya menampilkan dua festival, yaitu Festival Krakatau dan Tubaba Art Festival, sehingga perwakilannya terbilang sedikit. Di sisi lain, Provinsi Jawa Timur muncul sebagai provinsi paling aktif dengan sebelas festival, diikuti oleh Sumatera Barat yang memiliki sembilan festival.
Penting untuk dicatat bahwa pemilihan dalam kuratorial KEN didasarkan pada sejumlah kriteria, di mana salah satu yang paling penting adalah ide dasar festival. Festival budaya di Tulang Bawang Barat ini selalu mempersembahkan konsep yang kuat yang terlihat dalam berbagai bentuk seni yang ditampilkan, melibatkan segenap kalangan usia, dan mengundang seniman dari banyak daerah.
Pada edisi ke-7 (2023), acara ini berhasil menarik perhatian para kurator dengan tema serta konsep festival “Self and Space: Interface of the Living Room”. Kemudian di tahun berikutnya (2024), festival ini kembali dinyatakan terpilih dengan konsep “Festivity from The Kitchen”, sebuah acara yang menonjolkan kombinasi kekuatan estetik seniman baik lokal, nasional, maupun internasional.
Saat ditemui di Ulluan Nughik, Panaragan, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Direktur TAF Semi Ikra Anggara menunjukkan rasa gembira atas terpilihnya festival ini kembali dalam daftar KEN, pada Kamis (01/05/2025).
Ia menjelaskan bahwa persiapan untuk acara tahun ini sudah dilakukan sejak bulan November lalu, yang melibatkan diskusi mendalam selama tiga hari bersama para seniman muda dari Tubaba dan seniman yang datang dari berbagai kota di wilayah bagian Selatan Sumatera.
“Workshop tersebut mengeksplorasi kemungkinan Arsip sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan karya seni yang kontekstual,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Arsip tidak sekadar dianggap sebagai dokumen yang mati. Namun, Arsip memiliki makna yang lebih luas, yaitu segala sesuatu yang memiliki nilai, menyimpan memori, dan hidup di tengah masyarakat.
“Arsip hadir dalam bentuk tulisan, ucapan, tindakan sehari-hari, ingatan atau apapun. Arsip bersifat aktif, bukan pasif,” tegasnya.
“Tema “Machine of Memory” merupakan metafora yang dihasilkan dari perbincangan mengenai arsip dan cara kita berinteraksi dengannya. Riset yang mendalam tentang Arsip yang tersebar di masyarakat nantinya akan tercermin dalam karya-karya inspiratif dalam Tubaba Art Festival ke-9 yang direncanakan berlangsung pada bulan Juli 2025,” tambahnya.












Discussion about this post