Jakarta, Kabar SDGs – Amerika Serikat (AS) menyatakan menghormati langkah ASEAN yang melanjutkan perundingan Kode Etik atau Code of Conduct (CoC) Laut Cina Selatan (LCS) bersama Tiongkok. Meski demikian, AS menegaskan bahwa hasil akhir dari proses negosiasi tersebut tidak boleh mengesampingkan kepentingan strategis negaranya di kawasan.
Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN, Kevin Kim, mengatakan negaranya menghargai mekanisme pengambilan keputusan di ASEAN yang mengedepankan prinsip musyawarah dan konsensus.
“Mengenai negosiasi CoC di LCS, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, AS menghormati ASEAN sebagai organisasi yang mengambil keputusan berdasarkan konsensus. Kami menghormati keputusan ASEAN untuk melanjutkan pembahasan dengan Cina mengenai CoC, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun,” ujar Kim dalam konferensi pers secara daring, Jumat, 24 Juli 2026.
Kim menilai pembahasan mengenai Kode Etik Laut Cina Selatan merupakan isu yang memiliki arti penting, baik bagi Tiongkok maupun seluruh negara anggota ASEAN.
“Kami memahami bahwa isu ini sangat penting, baik bagi Tiongkok maupun seluruh negara anggota ASEAN,” ujarnya.
Walaupun mendukung proses negosiasi yang sedang berjalan, Kim menegaskan bahwa Amerika Serikat juga memiliki kepentingan di Laut Cina Selatan sehingga hasil kesepakatan nantinya tidak boleh mengabaikan posisi negaranya.
“Dari sudut pandang AS, hasil akhir negosiasi tidak boleh mengabaikan kepentingan AS. Karena, AS juga memiliki kepentingan yang penting di Laut Cina Selatan,” kata Kim.
Ia menjelaskan bahwa Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio telah menegaskan komitmen negaranya untuk tetap menjamin kebebasan bernavigasi di perairan internasional, menjalankan kewajiban berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Filipina, serta menjunjung tinggi ketentuan hukum internasional.
“Serta terus menjunjung prinsip-prinsip hukum internasional. Termasuk, Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) dan putusan Mahkamah Arbitrase 2016 mengenai Laut Cina Selatan,” ujarnya.
Kim juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat memiliki komitmen pertahanan dengan Filipina. Dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Marco Rubio ke Manila, pemerintah AS mengumumkan tambahan bantuan hibah militer senilai 60 juta dolar AS sehingga total bantuan yang diberikan kepada Filipina mencapai 100 juta dolar AS.
“Karena itu, dalam kunjungan Menlu Rubio kami mengumumkan tambahan USD60 juta sehingga total bantuan hibah militer bagi Filipina menjadi USD100 juta. Bantuan ini ditujukan agar Filipina dapat mempertahankan kedaulatannya serta mencegah terjadinya konflik,” kata Kim.
Menurutnya, bantuan tersebut melengkapi berbagai bentuk kerja sama keamanan yang selama ini telah terjalin antara Amerika Serikat dan Filipina. Ia juga menegaskan bahwa setiap penyelesaian sengketa di Laut Cina Selatan harus tetap menghormati kedaulatan wilayah Filipina.
Di sisi lain, Indonesia menilai proses perundingan CoC antara ASEAN dan Tiongkok terus menunjukkan perkembangan yang positif. Meskipun belum menghasilkan kesepakatan final dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59, pembahasan dinilai terus bergerak maju dengan target penyelesaian pada 2026.
Dalam forum tersebut, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia kembali menekankan pentingnya ASEAN menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga perdamaian, stabilitas, dan kerja sama di kawasan Asia Tenggara.










Discussion about this post