• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
12 September 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home SUSTAINABILITY PENDIDIKAN & IPTEK

Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Rentan Penipuan Digital Dunia

by SDGS Admin
7 Februari 2026
Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Rentan Penipuan Digital Dunia
46
SHARES
285
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Jakarta, Kabar SDGs – Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat perlindungan terendah terhadap penipuan digital di dunia. Temuan ini terungkap dalam laporan Global Fraud Index 2025 yang disusun oleh perusahaan teknologi verifikasi global, Sumsub, yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua negara paling rentan terhadap penipuan digital, tepat di bawah Pakistan.

Posisi tersebut menempatkan Indonesia dalam kelompok negara berisiko tinggi, di tengah percepatan ekonomi digital, pertumbuhan transaksi keuangan daring, serta masifnya penggunaan platform e-commerce dan media sosial. Dalam laporan itu, Indonesia juga masuk dalam daftar 15 negara dengan tingkat perlindungan digital paling lemah dari total 112 negara yang dianalisis.

BACA JUGA

IDCloudHost Perkuat Layanan Keamanan Siber

IDCloudHost Perkuat Layanan Keamanan Siber

25 Juli 2026
Lebih Dari Separuh Korban Pelecehan di Ruang Digital di Asia Pasifik Menghadapi Konsekuensi Nyata, Namun Sebagian Besar Tidak Pernah Mencari Bantuan

Lebih Dari Separuh Korban Pelecehan di Ruang Digital di Asia Pasifik Menghadapi Konsekuensi Nyata, Namun Sebagian Besar Tidak Pernah Mencari Bantuan

17 Juni 2026
Internet BAKTI Perkuat Pendidikan dan Ekonomi Maratua

Internet BAKTI Perkuat Pendidikan dan Ekonomi Maratua

14 Juni 2026

Sumsub menjelaskan bahwa pemeringkatan Global Fraud Index 2025 tidak disusun semata berdasarkan jumlah kasus penipuan digital. Indeks ini dirancang untuk menjelaskan mengapa suatu negara lebih rentan terhadap penipuan dibanding negara lain, dengan menilai berbagai faktor struktural dalam ekosistem digital. Penilaian tersebut mencakup tingkat aktivitas kejahatan digital, kesiapan teknologi dan infrastruktur, peran pemerintah dalam regulasi dan penegakan hukum, serta kondisi ekonomi yang memengaruhi kerentanan masyarakat.

Dalam laporan itu, indikator aktivitas penipuan menjadi faktor paling dominan dengan bobot 50 persen. Aspek ini mengukur intensitas penipuan digital, termasuk jumlah laporan kasus, keberadaan jaringan penipuan, serta tingkat penolakan transaksi yang berkaitan dengan kepatuhan terhadap prinsip Anti-Money Laundering (AML).

Indikator berikutnya adalah akses terhadap sumber daya dengan bobot 20 persen. Faktor ini menilai sejauh mana masyarakat memiliki akses terhadap teknologi, infrastruktur digital, serta layanan keamanan seperti know your customer (KYC) dan AML. Rendahnya literasi digital dan keterbatasan akses dinilai meningkatkan risiko masyarakat menjadi korban penipuan.

Peran pemerintah turut menjadi penentu melalui indikator government intervention yang juga berbobot 20 persen. Penilaian mencakup kekuatan regulasi anti-penipuan, efektivitas penegakan hukum, perlindungan konsumen digital, serta kualitas layanan pemerintahan berbasis digital. Lemahnya regulasi dan penegakan hukum dinilai memperbesar ruang gerak pelaku kejahatan digital.

Sementara itu, kondisi ekonomi menyumbang bobot 10 persen dalam indeks tersebut. Faktor ini mencerminkan tekanan ekonomi dan kerentanan sosial yang dapat mendorong terjadinya penipuan, sejalan dengan konsep fraud triangle yang mengaitkan tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi dalam tindak kejahatan.

Masuknya Indonesia dalam jajaran teratas negara paling rentan menyoroti tantangan besar dalam penguatan keamanan digital nasional. Pesatnya adopsi layanan keuangan digital dan platform daring dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem perlindungan konsumen yang kuat serta peningkatan kesadaran publik terhadap risiko penipuan.

Laporan Global Fraud Index 2025 menegaskan bahwa penipuan digital merupakan persoalan multidimensional yang tidak hanya bersumber dari kejahatan siber, tetapi juga dari interaksi kompleks antara teknologi, ekonomi, regulasi, dan perilaku sosial. Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah hingga pelaku industri digital, untuk mempercepat penguatan regulasi, meningkatkan literasi digital masyarakat, serta membangun sistem keamanan yang adaptif dan berkelanjutan.

Selain Pakistan dan Indonesia, negara lain yang masuk dalam daftar 15 negara paling rentan terhadap penipuan digital adalah Nigeria, India, Tanzania, Uganda, Bangladesh, Rwanda, Azerbaijan, Sri Lanka, Ethiopia, Brasil, Armenia, Kenya, dan Kolombia. Laporan tersebut menegaskan bahwa perlindungan ekonomi digital tidak dapat hanya mengandalkan teknologi semata, melainkan membutuhkan ekosistem yang solid, regulasi yang kuat, dan kesadaran publik yang tinggi.

Share18SendTweet12
Previous Post

Tanjungpinang Siap Dukung Gerakan ASRI dengan Olah Sampah Plastik Jadi BBM

Next Post

Pertamina Patra Niaga dan Elnusa Petrofin Gelar Simulasi Keadaan Darurat Jalur Distribusi Energi di Balikpapan

Next Post
Pertamina Patra Niaga dan Elnusa Petrofin Gelar Simulasi Keadaan Darurat Jalur Distribusi Energi di Balikpapan

Pertamina Patra Niaga dan Elnusa Petrofin Gelar Simulasi Keadaan Darurat Jalur Distribusi Energi di Balikpapan

Peringati Hari Lahan Basah Sedunia, Menteri Kehutanan Komitmen Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan Utara

Peringati Hari Lahan Basah Sedunia, Menteri Kehutanan Komitmen Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan Utara

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Erupsi Anak Krakatau Menurun Namun Warga Diingatkan Tetap Waspada

Erupsi Anak Krakatau Menurun Namun Warga Diingatkan Tetap Waspada

11 September 2026
PLN NP UP Paiton Raih Dua Penghargaan EBTKE

PLN NP UP Paiton Raih Dua Penghargaan EBTKE

11 September 2026
Sidoarjo Dorong Ekosistem Seni dan Budaya Lewat Darjonesia Dance Festival

Sidoarjo Dorong Ekosistem Seni dan Budaya Lewat Darjonesia Dance Festival

11 September 2026
Menjadi Jembatan Perubahan bagi UMKM

Menjadi Jembatan Perubahan bagi UMKM

11 September 2026
Jakarta Barat Siapkan TPS 3R Percontohan

Jakarta Barat Siapkan TPS 3R Percontohan

10 September 2026

POPULAR

  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    2799 shares
    Share 1120 Tweet 700
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    2480 shares
    Share 992 Tweet 620
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    2474 shares
    Share 990 Tweet 619
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    2448 shares
    Share 979 Tweet 612
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    2459 shares
    Share 984 Tweet 615

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.