• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
8 Agustus 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home SUSTAINABILITY KESRA

Dunia dapat Belajar dari Aceh yang Dibangun atas Dasar Kepercayaan

by SDGS Admin
9 Oktober 2025
Dunia dapat Belajar dari Aceh yang Dibangun atas Dasar Kepercayaan
21
SHARES
130
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Banda Aceh, Kabar SDGs – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia (PYM) Teungku Malik Mahmud Al-Haythar, menegaskan bahwa dunia dapat belajar dari pengalaman perdamaian Aceh yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dialog. Pesan itu ia sampaikan ketika menjadi pembicara dalam ASEAN For the Peoples Conference (AFPC) 2025 di Sultan Hotel & Residence, Jakarta, Ahad (5/10/2025).

Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, dalam keterangan tertulisnya pada Senin (6/10), menyebut konferensi tersebut diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan menjadi forum konsorsium organisasi masyarakat sipil terbesar di Asia Tenggara.

BACA JUGA

Aceh Raih Penghargaan Transportasi Indonesia Award 2026

Aceh Raih Penghargaan Transportasi Indonesia Award 2026

4 Agustus 2026
Pemerintah Aceh Percepat Pemulihan Jalan Peureulak Lokop

Pemerintah Aceh Percepat Pemulihan Jalan Peureulak Lokop

20 Juli 2026
Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Sumatra Terus Dipercepat

Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Sumatra Terus Dipercepat

29 Mei 2026

Dalam forum itu, Wali Nanggroe hadir bersama Staf Khusus Dr. Muhammad Raviq dan menjadi pembicara bersama sejumlah tokoh dari Asia Tenggara, seperti Amb. Nelson Santos, penasihat Presiden Timor-Leste; Imam (PCOL) Ebra M. Moxsir (Ret.), Presiden Dewan Imam Nasional Filipina; serta Debbie Stothard, pendiri organisasi HAM ALTSEAN Burma. Diskusi dipandu oleh jurnalis independen asal Malaysia, Amy Chew.

“Merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang mendalam bagi saya untuk hadir di forum ini, berbicara tentang rekonsiliasi, sebuah tema yang telah membentuk hidup saya, tanah kelahiran saya di Aceh, bahkan sebagian besar perjalanan Asia Tenggara,” ujar Wali Nanggroe.

Ia menuturkan bahwa rekonsiliasi bukan sekadar kata kunci politik, melainkan pengalaman hidup yang mengubah arah sejarah Aceh. Konflik bersenjata yang berlangsung lebih dari tiga dekade antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akhirnya mencapai titik balik pada 2005 melalui penandatanganan Perjanjian Damai Helsinki.

“Saat itu, duduk berhadapan dengan pihak yang dulu menjadi lawan, lalu menorehkan tanda tangan pada sebuah dokumen yang mengakhiri konflik panjang, adalah momen paling menentukan,” tuturnya.

Peristiwa itu, katanya lagi, menjadi bukti bahwa konflik yang paling keras sekalipun bisa diakhiri melalui dialog, kompromi, dan yang terpenting, kepercayaan.

Dalam kesempatan itu, Wali Nanggroe juga menyinggung ASEAN Way, pendekatan khas kawasan yang menekankan musyawarah, konsensus, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. “Dalam perdamaian Aceh, fasilitator internasional memang menyediakan ruang netral. Namun, penggerak utama perdamaian adalah tekad dan inisiatif kami sendiri sebagai bangsa Indonesia dan rakyat Aceh,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa rekonsiliasi tidak bisa dipaksakan dari luar, melainkan harus lahir dari kepemilikan lokal, dengan dukungan internasional yang bersifat melengkapi, bukan mendominasi.

Dalam pandangannya, pelajaran dari Aceh juga relevan bagi berbagai krisis yang masih membayangi Asia Tenggara, mulai dari konflik di Myanmar hingga sengketa perbatasan antarnegara. “Jika kita mengecualikan satu pihak, kita memperpanjang jurang ketidakpercayaan. Jika kita merangkul semua pihak, kita menanam benih rekonsiliasi,” sebutnya.

Wali Nanggroe menilai bahwa di tengah meningkatnya ketegangan global dan mandeknya proses perdamaian dunia, Asia Tenggara menawarkan model alternatif: pendekatan yang tulus dan berlandaskan martabat manusia, bukan dominasi geopolitik.

“Dunia bisa belajar dari Aceh, dari Mindanao, dari Timor-Leste, bahwa rekonsiliasi tetap mungkin, bahkan setelah puluhan tahun perang. Kuncinya bukan pada kekuatan militer, melainkan pada keberanian moral untuk mengubah kecurigaan menjadi kepercayaan, dan musuh menjadi mitra,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Wali Nanggroe menegaskan bahwa rekonsiliasi adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati. “Ukuran sejati rekonsiliasi bukan pada tanda tangan di atas kertas, melainkan pada kehidupan yang bangkit kembali, anak-anak yang tumbuh tanpa rasa takut, dan harapan yang Asia Tenggara dapat persembahkan kepada dunia yang begitu merindukan perdamaian,” pungkasnya.

Share8SendTweet5
Previous Post

Siswi SMPN 3 Purwakarta Raih Juara Internasional di Kuala Lumpur

Next Post

Imam Maulana dan Shabrina Masturah Wakili Aceh dalam Ajang Duta Pemuda Indonesia 2025

Next Post
Imam Maulana dan Shabrina Masturah Wakili Aceh dalam Ajang Duta Pemuda Indonesia 2025

Imam Maulana dan Shabrina Masturah Wakili Aceh dalam Ajang Duta Pemuda Indonesia 2025

Foodphoria Digelar Fairway Nine Mall dengan Menampilkan Sajian Khas Pulau Bali

Foodphoria Digelar Fairway Nine Mall dengan Menampilkan Sajian Khas Pulau Bali

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Bank Bengkulu Perkuat Perlindungan Sosial bagi Atlet

Bank Bengkulu Perkuat Perlindungan Sosial bagi Atlet

8 Agustus 2026
BRI Mulai Program BRIncubator 2026 untuk Perkuat UMKM

BRI Mulai Program BRIncubator 2026 untuk Perkuat UMKM

8 Agustus 2026
Dhika Pacu Jalur Jadi Wajah Kampanye Hyundai Cup 2026

Kia Perkuat Layanan Purna Jual di GIIAS 2026

8 Agustus 2026
Perkuat Jejaring Musik Global Lewat LaLaLa Fest 2026

Perkuat Jejaring Musik Global Lewat LaLaLa Fest 2026

8 Agustus 2026
Gamifikasi untuk Perkuat Promosi Destinasi dan Produk Kreatif Indonesia

Gamifikasi untuk Perkuat Promosi Destinasi dan Produk Kreatif Indonesia

8 Agustus 2026

POPULAR

  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    1479 shares
    Share 592 Tweet 370
  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    1758 shares
    Share 703 Tweet 440
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    1458 shares
    Share 583 Tweet 365
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    1470 shares
    Share 588 Tweet 368
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    1507 shares
    Share 603 Tweet 377

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.