Cianjur, Kabar SDGs – Setiap hari, banyak penduduk Desa Sukabungah, termasuk siswa sekolah dasar, harus mengambil risiko saat menyeberangi jembatan bambu yang sudah uzur.
Keadaan jembatan tunggal yang menghubungkan Kampung Legok Huni dengan area sekitarnya sangat memprihatinkan. Beberapa batang bambu yang menjadi tempat pijakan utama terlihat membusuk dan sebagian di antaranya sudah patah.
Yang lebih mengkhawatirkan, jembatan ini tidak dilengkapi dengan pengaman di sisi kiri dan kanannya, sehingga siapa pun yang melintas berisiko jatuh ke sungai di bawahnya yang memiliki arus deras.
Meskipun demikian, masyarakat harus melewati jembatan ini setiap hari untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, berbelanja di pasar, hingga bersekolah. Banyak anak yang melintasi jembatan tersebut dengan rasa takut, berpegangan pada bambu yang tersedia demi menghindari jatuh.
Kepala Desa Sukabungah, Asep Juanda, menyatakan bahwa pihaknya telah berkali-kali mengajukan permohonan untuk memperbaiki jembatan kepada pemerintah daerah. Namun sampai saat ini, belum ada respons yang diterima.
“Kami bersama warga hanya dapat membangun jembatan bambu ini dengan usaha sendiri. Namun, tentu saja ini tidak cukup aman, terutama untuk anak-anak sekolah. Kami amat berharap agar pemerintah segera membangun jembatan yang permanen,” ungkap Asep kepada wartawan, Jumat (16/5).
Ia menambahkan, saat hujan turun, kondisi menjadi semakin berisiko. Sungai sering meluap dan arusnya mengikis struktur jembatan bambu yang rapuh.
Sikap ini membuat banyak orang tua merasa khawatir. Banyak dari mereka memilih untuk mengantar dan menjemput anak-anak mereka setiap hari demi memastikan keselamatan.
Kisah ini mencerminkan kesenjangan nyata dalam pembangunan infrastruktur antara daerah perkotaan dan pedesaan. Sementara wilayah kota terus diperindah, warga di daerah terpencil seperti Sukabungah harus bergantung pada jembatan bambu yang sudah tua untuk melanjutkan hidup dan pendidikan mereka.
“Saat ini, harapan kami terfokus pada perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun pusat. Karena keselamatan masyarakat, terutama anak-anak, tidak seharusnya dipertaruhkan setiap hari,” tutupnya.












Discussion about this post