Siak, Kabar SDGs – Upaya mengembangkan ikan baung lokal Riau sebagai komoditas budidaya terus dilakukan melalui kolaborasi PT Arara Abadi, unit usaha APP Group, bersama Pusat Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pengembangan tersebut menjadi bagian dari Program DMPA (Desa Makmur Peduli Alam).
Program ini sekaligus diarahkan sebagai langkah mitigasi untuk mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), sekaligus membuka peluang peningkatan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah konsesi perusahaan.
Dua peneliti BRIN, Otong Zaenal Arifin dan Jojo Subagja, melakukan pengambilan sampel serta pengukuran ikan di Kampung Pinang Sebatang Timur, Kabupaten Siak, Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tahapan lanjutan domestikasi sekaligus seleksi ikan baung hasil uji multilokasi.
Kegiatan itu didampingi tim Social Community Engagement PT Arara Abadi dan APP Group, yakni Janudianto, Yulia Ramadhani, serta Kiswanto. Pengambilan sampel kemudian dilanjutkan di Desa Kesumbo Ampai, Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Rabu (2/9/2026).
Direktur PT Arara Abadi-APP Group, Edie Haris, MZ, mengatakan kerja sama penelitian sekaligus pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam melakukan pencegahan Karhutla secara berkelanjutan di Riau.
“Kerja sama dengan BRIN sudah dimulai sejak 2023 sampai saat ini dan terus kami perluas manfaatnya. Melalui Program DMPA perusahaan tidak hanya hadir untuk mengelola hutan, tetapi juga memberdayakan warga setempat disekitar konsesi perusahaan agar memiliki sumber penghasilan yang baik tanpa harus merusak atau membakar lahan yang berakibat kerusakan pada lingkungan. Semakin banyak warga yang sejahtera dari lahan yang dikelola dengan baik, semakin bersih udara kita dan semakin aman wilayah ini dari ancaman Karhutla,” ujarnya.
Peneliti Pusat Zoologi Terapan BRIN, Jojo Subagja, menjelaskan pengambilan sampel dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan adaptasi ikan baung hasil domestikasi yang kini telah mencapai generasi kedua atau G2.
“Baung yang dari alam itu sebetulnya meskipun bisa direproduksi, tetapi belum punya legalitas untuk disebarluaskan sebagai kandidat budidaya. Untuk mendapatkan itu, kita harus melakukan proses domestikasi dan dilanjutkan dari generasi ke generasi,” ujar Jojo.
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan Kementerian Kelautan dan Perikanan, ikan lokal maupun ikan liar yang hendak dikembangkan sebagai calon komoditas budidaya harus menjalani proses domestikasi. Uji multilokasi pada generasi kedua menjadi salah satu tahapan penting dalam proses tersebut.
Riau dipandang menjadi wilayah yang penting untuk pengujian karena memiliki banyak kawasan rawa dengan karakteristik perairan yang relatif asam. Salah satu pengujian dilakukan di kolam milik masyarakat di kawasan PT Arara Abadi yang mempunyai tingkat keasaman air cukup tinggi.
“Pagi tadi kita mengukur pH di 3,7. Sementara sampling bulanan biasanya berada di angka 5, 5,2 sampai 5,5,” kata Jojo.
Hasil sementara menunjukkan ikan baung yang telah melalui proses domestikasi masih dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan dengan tingkat pH rendah. Pertumbuhannya juga dinilai tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan ikan yang dipelihara pada perairan dengan tingkat pH mendekati normal.
Jojo menyebut kemampuan ikan tersebut beradaptasi pada perairan dengan tingkat keasaman tinggi menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan melalui seleksi.
“Ini menunjukkan bahwa baung dengan pH rendah cukup adaptif dibanding ikan pada kondisi air normal. Jadi salah satu potensinya mungkin ini, karena dia bisa beradaptasi pada pH yang rendah,” ujarnya.
Meski demikian, Jojo menegaskan ikan baung hasil domestikasi tersebut belum dapat langsung ditetapkan sebagai komoditas budidaya. Hasil penelitian masih harus melewati tahapan pengujian dan verifikasi oleh kementerian teknis.
“Untuk standar budidaya, nanti naskah akademiknya diuji oleh kementerian teknis, yaitu perikanan. Dinyatakan lulus atau tidaknya tergantung hasil ujian itu,” jelasnya.
Pengembangan ikan baung sebagai komoditas budidaya diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus membantu menjaga keberlanjutan populasi ikan lokal melalui ketersediaan ikan yang berasal dari hasil budidaya.
Sementara itu, tokoh Pemuda Sakai sekaligus penerima manfaat dari Desa Kesumbo Ampai, Bathin Solapan, Bengkalis, Jefri Basir, menyambut positif kerja sama budidaya ikan baung antara masyarakat dan PT Arara Abadi yang menggandeng BRIN.
“Kami merasa sangat senang karena dapat belajar mengembangkan budi daya ikan Baung yang merupakan ikan lokal dengan nilai ekonomis yang tinggi. Sejauh ini program budi daya ini berjalan dengan baik dan kami harap dapat meningkatkan kesejahteraan warga Suku Sakai yang ada di desa ini,” ujarnya.
Jefri berharap pendampingan dan dukungan dari PT Arara Abadi dapat terus berlanjut sehingga usaha budidaya ikan baung semakin berkembang dan manfaat program tersebut dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.











Discussion about this post