Padangsidimpuan, Kabar SDGs – Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) menggelar workshop tradisi lisan onang-onang di Kelurahan Lubuk Raya, Simapil-apil, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, Kota Padangsidimpuan, pada 18 Juni 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh Kemendiktisaintek untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus meningkatkan literasi masyarakat berbasis kearifan lokal.
Ketua Pengusul PISN, Dedi Zulkarnain Pulungan, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghadirkan inovasi dalam pertunjukan onang-onang agar lebih mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
“Program Inovasi Seni Nusantara ini bertujuan melakukan inovasi pertunjukan onang-onang. Secara lisan budaya onang-onang untuk meningkatkan Indeks pembangunan literasi masyarakat desa,” kata Ketua Pengusul PISN Dedi Zulkarnain, Pulungan kepada Nusantaraterkini.co, Senin (22/6/2026).
Menurut Dedi, seni tradisi onang-onang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menurunnya minat generasi muda, dominasi hiburan digital, hingga minimnya dokumentasi yang memadai. Kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan pewarisan nilai sejarah, kearifan lokal, dan identitas budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut.
“Tanpa adanya intervensi maka seni tradisi lisan ini berpotensi mengalami kepunahan pemakaiannya, dimana masyarakat hanya mengenal onang-onang secara permukaan tanpa memahami makna dan konteks budayanya,” kata Dedi.
Ia menjelaskan bahwa dari sisi sosial dan budaya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kesenian masih relatif rendah karena pertunjukan tradisional dianggap kurang menarik dan minim interaksi. Sementara dari sisi teknologi, onang-onang belum banyak memanfaatkan media digital maupun platform kreatif yang dapat memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat.
“Menurunnya minat generasi muda terhadap onang-onang menunjukkan adanya pergeseran nilai dan identitas budaya, di mana seni tradisi dianggap kurang relevan dengan kehidupan modern. Hal ini berpotensi melemahkan rasa memiliki terhadap budaya lokal,” ungkap Dedi.
Selain persoalan pelestarian budaya, Dedi menilai potensi ekonomi kreatif dari onang-onang juga belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, seni tradisi tersebut berpeluang dikembangkan menjadi pertunjukan edukatif, atraksi wisata budaya, maupun produk literasi berbasis budaya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Seni lisan yang tidak terdokumentasi juga sulit dikembangkan menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan. Dalam konteks budaya, onang-onang menghadapi risiko punah karena pewarisan masih bersifat lisan dan informal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dedi mengatakan nilai-nilai moral, sejarah, dan identitas kolektif yang terkandung dalam onang-onang belum tersampaikan secara optimal kepada generasi muda. Akibatnya, mereka cenderung lebih akrab dengan budaya populer dibandingkan budaya lokal yang menjadi bagian dari identitas daerah.
“Kondisi dalam masyarakat luas semakin menurunnya eksistensi onang-onang dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Dedi.
Ia menambahkan bahwa kesenian tradisional tersebut kini semakin jarang ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat maupun sosial karena dianggap kurang praktis dibandingkan bentuk hiburan modern. Situasi ini turut mempersempit ruang ekspresi budaya lokal di tengah masyarakat.
“Disamping itu rendahnya literasi budaya masyarakat terhadap onang-onang yang terkandung dalam seni lisan ini belum dipahami secara mendalam, terutama oleh generasi muda,” ungkap Dedi.
Dedi menilai Perkumpulan Kesenian Lubuk Raya memiliki posisi penting dalam upaya pelestarian budaya karena selama ini berperan sebagai penjaga tradisi onang-onang di wilayah tersebut.
“Perkumpulan kesenian Lubuk Raya memiliki pengalaman, pengetahuan, dan jaringan komunitas yang menjadi modal utama dalam mendokumentasikan dan mentransmisikan seni tradisi lisan onang-onang,” kata Dedi.
Melalui program ini, pelestarian seni tradisi diharapkan dapat dipadukan dengan strategi peningkatan literasi budaya melalui pelatihan, dokumentasi digital, serta pengembangan metode penyampaian yang lebih menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Ini bertujuan untuk menjembatani generasi muda dengan warisan budaya lokal sehingga nilai-nilai moral, sosial, dan identitas komunitas yang terkandung dalam onang-onang dapat dipahami, diapresiasi, dan diteruskan secara berkelanjutan dan berkolaborasi dengan mitra perkumpulan kesenian lubuk raya,” terangnya.
Menurut Dedi, program tersebut tidak hanya berfokus pada upaya menjaga keberadaan onang-onang, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat.
“Pencapaian dalam pelaksanaan program ini terciptanya pertunjukan seni tradisi lisan yang komprehensif dan pendokumentasi yang sistematis baik dalam bentuk tertulis maupun digital, sehingga mempermudah akses masyarakat dan generasi muda untuk mempelajari seni tradisi lisan,”kata Dedi.
Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, pihak penyelenggara berencana menggelar Festival Onang-Onang pada 8 Agustus 2026. Kegiatan itu akan melibatkan peserta berusia 13 hingga 30 tahun dengan format tim yang terdiri dari satu orang par onang-onang dan dua orang parnotor. Setiap kelompok peserta akan menampilkan pertunjukan berdurasi sekitar 20 menit sebagai bagian dari upaya regenerasi pelaku seni tradisi di daerah tersebut.










Discussion about this post