Balikpapan, Kabar SDGs – Proyek pengembangan Lapangan Migas Manpatu di lepas pantai Balikpapan kini resmi masuk dalam kategori fast track project dan menjadi salah satu tumpuan peningkatan produksi minyak dan gas di Kalimantan. Proyek ini berawal dari penemuan sumur eksplorasi Manpatu-1X pada tahun 2022 yang membuka potensi cadangan baru di wilayah tersebut.
Setelah menyelesaikan tahap Front End Engineering Design (FEED) pada periode 2023 hingga 2024, proyek ini berlanjut ke fase konstruksi yang ditandai dengan seremoni First Cut of Steel pada 16 Mei 2025 sebagai awal fabrikasi fasilitas produksi lepas pantai.
Dalam pengembangannya, proyek ini mencakup pembangunan satu anjungan baru berupa struktur jacket dan piles dengan berat sekitar 1.380 ton, serta topside dengan bobot kurang lebih 1.000 ton. Selain itu, dilakukan pula penyesuaian pada anjungan yang sudah ada guna mendukung integrasi sistem produksi secara menyeluruh.
Tidak hanya itu, proyek ini juga melibatkan pemasangan pipa bawah laut berdiameter 14 inci sepanjang sekitar 2,5 kilometer, termasuk pekerjaan subsea yang memiliki tingkat kompleksitas dan risiko tinggi. Secara keseluruhan, pengembangan Lapangan Manpatu akan mencakup pengeboran 11 sumur untuk meningkatkan kapasitas produksi migas di kawasan tersebut.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia, Sunaryanto, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan bersama anak usahanya, termasuk PT Pertamina Hulu Mahakam, dalam menjaga keberlanjutan sektor energi nasional. “Proyek Pengembangan Manpatu ini bukan hanya tentang menambah produksi, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya dari wilayah Kalimantan,” ujar Sunaryanto dalam pernyataan resmi yang diterima redaksi, Rabu, 22 April 2026.
Ia menambahkan bahwa capaian ini menjadi bukti bahwa industri hulu migas nasional mampu menghadapi berbagai tantangan melalui kolaborasi, inovasi, serta komitmen dari seluruh pemangku kepentingan.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini juga menunjukkan kinerja positif dari sisi keselamatan kerja. Hingga Maret 2026, tercatat lebih dari dua juta jam kerja tanpa adanya kecelakaan yang menyebabkan kehilangan jam kerja atau Lost Time Incident (LTI). Pihak perusahaan melalui PT Pertamina Hulu Mahakam terus menjaga standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) secara konsisten hingga proyek selesai. “Pencapaian kinerja unggul di aspek kesehatan dan keselamatan kerja mencerminkan kesiapan perusahaan mengeksekusi proyek secara selamat, cepat, dan terintegrasi. Energi yang kita hasilkan hari ini adalah fondasi bagi masa depan bangsa,” tegasnya.
Dengan status fast track yang kini disandang, Proyek Pengembangan Manpatu diharapkan mampu menjadi salah satu kontributor utama dalam peningkatan produksi migas nasional sekaligus memperkuat peran Kalimantan dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.











Discussion about this post