Jakarta, Kabar SDGs – Pemerintah Indonesia memperkuat komitmen pengelolaan hutan lestari melalui tindak lanjut kerja sama kehutanan dengan Prancis. Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni menerima audiensi Chief Executive Officer French Agricultural Research for International Development (CIRAD) Elisabeth Claverie de Saint-Martin di Jakarta, Selasa (3/2/2026), sebagai bagian dari implementasi Declaration of Intent on Sustainable Forestry yang ditandatangani kedua negara pada 28 Mei 2025.
Pertemuan tersebut menegaskan keseriusan Indonesia dan Prancis dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis hutan. Dalam Declaration of Intent tersebut, kerja sama mencakup pengelolaan hutan lestari dan perkebunan berkelanjutan bebas deforestasi, konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem, sistem pemantauan hutan dan pengendalian kebakaran, penguatan perhutanan sosial dan mata pencaharian masyarakat, peran hutan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, hingga pengembangan posisi bersama di forum internasional kehutanan dan iklim.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa Kementerian Kehutanan menyambut baik tindak lanjut kerja sama teknis dengan CIRAD karena selaras dengan mandat kementerian, terutama di bidang konservasi, perhutanan sosial, dan perubahan iklim. Ia menilai program Perhutanan Sosial dapat menjadi pintu masuk strategis dalam kolaborasi tersebut.
“Saya berharap nanti kita bersama-sama dapat membuat joint working group yang dalam hal ini dapat kita mulai dari Perhutanan Sosial dan konservasi,” ujar Raja Juli Antoni.
Ia menjelaskan, hingga saat ini akses kelola kawasan hutan melalui Perhutanan Sosial telah mencapai 8,33 juta hektare dengan 1,4 juta penerima surat keputusan dan terbentuknya 16.754 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial. Menurutnya, kerja sama dengan lembaga riset internasional seperti CIRAD diharapkan mampu memperkaya perspektif teknis dan metodologis melalui pelatihan, lokakarya, maupun proyek percontohan berskala terbatas.
CEO CIRAD Elisabeth Claverie de Saint-Martin menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai hutan tropis Indonesia memiliki nilai strategis yang sangat besar, tidak hanya dari sisi konservasi, tetapi juga dari aspek pertanian berkelanjutan melalui sistem agroforestry yang diterapkan dalam Perhutanan Sosial.
“Tropical forest seperti di Indonesia, Congo Basin di Afrika, dan Amazonia Basin di Amerika memiliki banyak value dan sumber sains, bukan hanya konservasi tapi juga agriculture yang dalam hal ini adalah agroforestry,” ungkap Elisabeth.
Ia mencontohkan kakao sebagai salah satu komoditas agroforestry bernilai ekonomi tinggi yang dapat tumbuh di bawah tegakan pohon hutan. Selain itu, Elisabeth menyampaikan bahwa CIRAD memiliki sumber daya riset yang kuat untuk meneliti dampak perubahan iklim terhadap kawasan hutan tropis, termasuk kontribusinya dalam mitigasi dan adaptasi iklim.
Pertemuan ini turut dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Kehutanan, di antaranya Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, serta Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, bersama delegasi Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
Melalui pertemuan tersebut, Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kerja sama internasional yang konstruktif, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan hutan Indonesia sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.












Discussion about this post