Jakarta, Kabar SDGs – Memasuki awal tahun 2026, tantangan yang dihadapi dunia usaha mikro, kecil, dan menengah diperkirakan semakin dinamis seiring perubahan perilaku konsumen dan percepatan digitalisasi. Untuk membekali pelaku usaha menghadapi situasi tersebut, Mitme.id sukses menggelar Mitme Day, sebuah webinar bertajuk “Prediksi Pasar UMKM 2026: Masihkah Produk Anda Relevan?” pada Rabu, 7 Januari 2026.
Webinar yang dipandu Angel Revalina ini diikuti lebih dari 28 pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha. Dalam forum tersebut, Founder Mitme.id, Adhitya Noviardi, memaparkan strategi agar produk dan model bisnis UMKM tetap relevan di tengah perubahan pasar yang semakin cepat.
Adhitya menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “jebakan pedagang”, kondisi ketika pelaku UMKM merasa telah lama berusaha, namun bisnisnya tidak benar-benar berkembang. Berdasarkan data lapangan yang ia temukan, sekitar 86 persen UMKM telah beroperasi lebih dari tiga tahun, tetapi banyak di antaranya mengalami stagnasi omzet.
“Banyak pemilik usaha yang sebenarnya hanya mengulang pengalaman tahun pertama sebanyak tiga kali. Jika toko harus tutup saat pemiliknya sakit, itu artinya kita belum membangun bisnis, melainkan hanya menciptakan pekerjaan mandiri yang berisiko tinggi,” ujar Adhitya. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir dari sekadar berdagang menjadi membangun sistem bisnis yang berkelanjutan, dengan menempatkan diri sebagai “arsitek bisnis” yang bekerja secara terstruktur dan proaktif.
Dalam pemaparannya, Adhitya juga menggambarkan karakter konsumen tahun 2026 yang dinilai semakin tidak memiliki toleransi terhadap pelayanan yang lambat. Kecepatan informasi dan kepastian ketersediaan stok secara real-time disebut akan menjadi tuntutan utama pelanggan di masa depan.
“Konsumen baru tidak punya waktu untuk menunggu jawaban ‘nanti dicek dulu’. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan fondasi agar data bisnis kita akurat dan bisa diakses instan oleh pelanggan,” katanya.
Selain membahas strategi pasar, webinar ini turut menekankan pentingnya penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar bisnis tetap konsisten, terutama saat menghadapi lonjakan permintaan atau ketika produk tengah viral. Adhitya juga mengingatkan kesalahan mendasar yang masih sering dilakukan UMKM, yakni mencampuradukkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha.
Menurutnya, penggunaan aplikasi pencatatan keuangan dan stok bukan sekadar mengikuti tren, melainkan alat navigasi penting untuk menjaga kesehatan arus kas dan menghindari penumpukan barang yang tidak laku. Dengan data yang tertata rapi, pelaku usaha dapat mengambil keputusan berbasis angka nyata, bukan sekadar intuisi.
Melalui Mitme Day, Mitme.id berharap para pelaku UMKM dapat lebih siap menghadapi persaingan di tahun 2026 dengan meninggalkan pengelolaan manual dan beralih menuju tata kelola usaha berbasis data yang lebih modern, mandiri, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.











Discussion about this post