Toba, Kabar SDGs – Lake Toba Tradisional Music Festival kembali diselenggarakan untuk keenam kalinya pada 5-6 September 2026. Mengusung tiga agenda utama berupa talk show, speed meeting, dan showcase, festival ini diarahkan untuk membangun ruang baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif, khususnya bagi pelaku musik tradisional.
Direktur Lake Toba Tradisional Music Festival, Ramanta Sinulingga, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menerapkan konsep “Ganjil-Genap”. Pada tahun ganjil, fokus kegiatan diarahkan pada penguatan ekosistem dan pengembangan talenta musik di Sumatera Utara tanpa menghadirkan performers dari luar daerah.
“Di tahun ganjil kita fokus ke pengembangan ekosistem di Sumatera Utara. Jadi tidak akan mengundang performers dari luar. Kita fokus mencari talenta, mencari talenta kemudian bagaimana kita bisa menginkubasi mereka untuk persiapan,” ujar Ramanta.
Sementara itu, pola penyelenggaraan akan berbeda pada tahun genap. Festival akan lebih diarahkan pada pengembangan pasar dengan menghadirkan delegasi serta performers dari luar negeri.
“Di tahun 2028, di tahun genap kita akan masuk lagi ke wilayah market. Kita mengundang berbagai delegasi dan juga mengundang performers dari luar,” katanya.
Dalam penyelenggaraan tahun ini terdapat tiga agenda yang menjadi bagian penting festival. Talk show menjadi ruang berbagi pengetahuan yang menghadirkan delegasi dan penampil untuk membahas perkembangan musik tradisional. Dua tema yang diangkat adalah “Diplomasi Budaya: Kearifan Musik Tradisional” serta “Industri dan Pasar Musik Tradisional”.
Agenda berikutnya adalah speed meeting yang menjadi salah satu bagian utama festival. Melalui sesi tersebut, musisi dan penampil dari Sumatera maupun internasional memperoleh kesempatan bertemu secara langsung dengan para delegasi dalam pertemuan singkat selama lima menit.
“Jadi para performance kita, penyanyi musik kita itu setiap perwakilan akan masuk, dia akan duduk di satu meja. Setelah 5 menit akan bergantian. Fungsinya adalah apa? Di situ kita harapkan ada yang terjadi transaksi,” jelas Ramanta.
Pertemuan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang perkenalan, tetapi dapat menghasilkan peluang kerja bagi para musisi melalui jaringan festival dan industri musik internasional.
“Transaksi dalam artian delegasi suka dengan karya mereka. Ya syukur-syukur mereka akan diajak perform ke negara mereka atau ke event mereka. Itu poin pentingnya,” tambahnya.
Sementara showcase disiapkan sebagai panggung bagi para musisi untuk menunjukkan karya mereka secara langsung. Penampilan tersebut diharapkan dapat menarik perhatian delegasi sehingga membuka kemungkinan para musisi Indonesia tampil dalam berbagai festival di negara lain.
Lake Toba Tradisional Music Festival tahun ini melibatkan sembilan delegasi. Enam delegasi berasal dari Indonesia, sedangkan tiga lainnya berasal dari luar negeri. Delegasi Indonesia di antaranya Bagas dari Jazz Gunung Bromo, Satria Ramadan dari Aksian Festival Bali, Hilmi Faik dari Harian Kompas, Vicky Sianipar, Rino Djapari dari Rio Rhythm, serta Agus Basuni dari World Meeting Jazz Jakarta.
Adapun delegasi internasional terdiri atas Jay Nayongjo yang merupakan Festival Director dari Korea, Muhammad Arif dari Malaysia yang bergerak di bidang record label, serta Ridwan Jalani dari Singapura yang berprofesi sebagai composer dan director festival. Selain delegasi, sejumlah penampil juga dijadwalkan hadir dari Singapura, Malaysia, dan Korea.
Secara keseluruhan, jumlah peserta yang terlibat dalam festival, baik musisi maupun delegasi, mencapai 122 orang. Panitia memperkirakan sekitar 500 pengunjung hadir setiap hari di The Caldera. Selama dua hari penyelenggaraan, jumlah pengunjung ditargetkan dapat mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 orang.
Ramanta mengatakan festival tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk menghadirkan pertunjukan musik. Salah satu tujuan utamanya adalah membuka pemahaman baru mengenai potensi ekonomi yang dapat berkembang dari musik tradisional.
“Tujuan kita sebenarnya kita ingin menciptakan ekonomi di sini. Selama ini mungkin pemahaman kita tentang musik tradisional itu hanya prospek kerjanya bisa di pesta atau di penelitian. Ternyata banyak sekali. Bisa menjadi booking agent, bisa menjadi producer,” kata Ramanta.
Ia juga berharap Sumatera Utara dapat berkembang menjadi salah satu pintu masuk bagi musik tradisional Indonesia menuju pasar internasional. Letak geografis Sumatera Utara yang relatif dekat dengan Singapura dan Malaysia dinilai menjadi salah satu modal strategis untuk membangun koneksi dengan jaringan industri musik di kawasan tersebut.
Dalam pengembangannya, festival juga ingin membawa musik tradisional keluar dari batas-batas identitas etnis tanpa menghilangkan keberagaman budaya yang menjadi kekuatannya. Musik tradisional dapat dikembangkan melalui perpaduan dengan berbagai genre sehingga lebih mudah diterima oleh kelompok pendengar yang lebih luas.
“Tidak ada lagi emblem satu etnis. Tapi kita keberagaman itu kita kunci di sini. Musik tradisi itu bukan berarti pure kita mainkan musik tradisi. Tapi bagaimana membungkus musik tradisi ini menjadi sebuah olahan. Bisa masuk ke jazz, ke rock, ke pop dan lain sebagainya untuk menarik peminat kalangan,” ujarnya.
Penyelenggaraan Lake Toba 2026 merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik dan Seni, Manajemen Talenta Nasional (MTN), Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), serta Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif.











Discussion about this post