Jakarta, Kabar SDGs – Natal dikenal sebagai hari raya umat Kristen untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus, namun perjalanan sejarahnya menunjukkan bahwa perayaan ini mengalami proses panjang hingga menjadi tradisi global seperti saat ini. Fakta sejarah mencatat, para pengikut awal Yesus tidak merayakan kelahirannya setiap tahun, melainkan lebih memusatkan peringatan pada kebangkitan-Nya yang dirayakan melalui Paskah.
Kisah kelahiran Yesus hanya ditemukan dalam dua dari empat Injil Perjanjian Baru, yakni Injil Matius dan Lukas. Keduanya memberikan detail yang berbeda, meskipun sama-sama menyebutkan bahwa Yesus lahir di Betlehem. Tanggal pasti kelahiran Yesus sendiri tidak diketahui. Christine Shepardson, profesor di University of Tennessee yang meneliti Kekristenan awal, menyebut bahwa tradisi merayakan kelahiran Yesus pada 25 Desember baru muncul pada abad keempat. “Sulit untuk melebih-lebihkan betapa pentingnya abad keempat dalam membentuk Kekristenan seperti yang kita kenal di dunia saat ini,” ujar Shepardson. Ia menjelaskan bahwa pada masa Kaisar Konstantinus, umat Kristen mulai beribadah di gereja, bukan lagi di rumah-rumah.
Sejumlah teori menyebutkan bahwa penetapan tanggal 25 Desember bertepatan dengan perayaan titik balik matahari musim dingin dalam tradisi pagan, termasuk festival Romawi Sol Invictus atau Matahari Tak Terkalahkan. Hingga kini, sebagian umat Kristen Ortodoks Timur masih merayakan Natal pada 7 Januari karena menggunakan kalender Julian yang tertinggal 13 hari dari kalender Gregorian yang digunakan secara luas saat ini.
Dalam perjalanannya, Natal juga pernah identik dengan perayaan yang riuh dan penuh pesta. Pada Abad Pertengahan, Natal sering dirayakan dengan jamuan makan dan minum di ruang-ruang publik. Thomas Ruys Smith, profesor sastra dan budaya Amerika di University of East Anglia, menyebut bahwa bagi sebagian umat Kristen kala itu, Natal bahkan dianggap tidak pantas sebagai hari raya. “Kaum Puritan tidak menyukai Natal,” katanya. Menurutnya, perubahan besar terjadi pada abad ke-19 ketika Natal mulai dipandang sebagai perayaan yang lebih santun dan berpusat pada keluarga. Ia menyebut Natal kemudian menjadi perayaan domestik yang kita kenal sekarang, yang berfokus pada rumah, keluarga, anak-anak, dan pemberian hadiah.
Akar Natal modern banyak ditelusuri ke Jerman, terutama melalui tradisi pohon Natal dan pemberian hadiah pada akhir abad ke-19. Tradisi ini kemudian menyebar ke Inggris dan Amerika Serikat, membantu menghidupkan kembali perayaan Natal di kedua kawasan tersebut. Popularitas Natal semakin menguat setelah terbitnya karya sastra A Christmas Carol karya Charles Dickens pada 1843 serta tulisan-tulisan Washington Irving yang membantu mempopulerkan figur St. Nicholas di Amerika. Tradisi pohon Natal di Rockefeller Center, New York, sendiri bermula pada 1931 sebagai upaya mengangkat semangat masyarakat di masa Depresi Besar dan kemudian berkembang menjadi agenda tahunan yang ikonik.
Figur Santa Claus yang dikenal secara luas saat ini berakar dari St. Nicholas, seorang uskup Kristen abad keempat dari kota Myra di kawasan Mediterania, yang kini masuk wilayah Turki. Kisah-kisah tentang kebaikan hatinya melampaui sekadar membagikan hadiah kepada anak-anak. Ia diyakini pernah membela para tahanan yang dihukum secara tidak adil dan menyelamatkan pelaut dari badai. Devosi terhadap St. Nicholas menyebar luas di Eropa pada Abad Pertengahan sebelum meredup setelah Reformasi Protestan abad ke-16, kecuali di Belanda yang mempertahankan tradisi Sinterklaas. Dari sanalah figur tersebut berkembang menjadi Santa Claus yang bersifat lebih sekuler.
Tradisi pemberi hadiah pun berbeda-beda di berbagai negara. Di Inggris dikenal Father Christmas, di Yunani dan Siprus ada St. Basil yang datang pada malam Tahun Baru, di Italia terdapat St. Lucy dan Befana, sementara di Islandia anak-anak menantikan kehadiran 13 Yule Lads, sosok troll nakal dalam cerita rakyat yang turun dari pegunungan menjelang Natal.
Beragam simbol Natal juga memiliki akar sejarah yang panjang. Tradisi membawa tanaman hijau seperti holly, ivy, dan pohon evergreen ke dalam rumah telah berlangsung selama berabad-abad. Menurut Smith, bagi banyak orang, tanaman hijau melambangkan janji kehidupan kekal dalam ajaran Kristen. Maria Kennedy, profesor di Rutgers University, menjelaskan bahwa tradisi menghias pohon hijau berasal dari Jerman abad ke-16 dan kemudian dipopulerkan di Inggris dan Amerika. Ia juga menyinggung penggunaan mistletoe yang telah ada sejak masa Druid kuno lebih dari 2.000 tahun lalu. “Mistletoe melambangkan keabadian karena tetap tumbuh di masa tergelap dalam setahun dan menghasilkan buah putih ketika tanaman lain telah mati,” tulis Kennedy.
Tradisi lain seperti kebaktian Natal, adegan kelahiran Yesus, dan caroling juga memiliki akar sejarah panjang. Kennedy menulis bahwa caroling berawal dari kebiasaan masyarakat Eropa yang berkeliling dari rumah ke rumah pada masa tergelap dalam setahun untuk memperbarui hubungan sosial dan menyampaikan doa keberuntungan. “Mereka membacakan puisi, bernyanyi, dan terkadang menampilkan sandiwara. Tujuannya agar tindakan tersebut membawa keberuntungan dan memengaruhi hasil panen di masa depan,” tulisnya.
Di luar dunia Barat, Natal mengalami adaptasi unik sesuai konteks budaya setempat. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Jepang, di mana sejak 1974 Kentucky Fried Chicken mempopulerkan ayam goreng sebagai hidangan Natal. Kampanye ini terinspirasi dari cerita seorang pelanggan asing yang mengatakan tidak bisa mendapatkan kalkun di Jepang. Fenomena tersebut bertahan hingga kini. “Hal itu benar-benar melekat,” kata Smith. “Dan sampai hari ini, orang harus memesan KFC berbulan-bulan sebelumnya agar bisa menikmatinya pada Hari Natal.”
Perjalanan panjang Natal menunjukkan bagaimana sebuah perayaan religius dapat berkembang menjadi tradisi global yang lintas budaya. Natal terus beradaptasi dengan nilai sosial dan kebiasaan lokal, tanpa sepenuhnya meninggalkan akar sejarah dan makna spiritual yang melandasinya.












Discussion about this post