• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
14 Januari 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home TRAVEL & LIFESTYLE

Jejak Panjang Sejarah dan Budaya Natal Dunia

by SDGS Admin
25 Desember 2025
Jejak Panjang Sejarah dan Budaya Natal Dunia
16
SHARES
98
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

BACA JUGA

Gubernur Papua Tengah Ajak ASN Bekerja dengan Hati Usai Natal dan Tahun Baru

Gubernur Papua Tengah Ajak ASN Bekerja dengan Hati Usai Natal dan Tahun Baru

7 Januari 2026
Libur Sekolah Ramai di Taman Flora Surabaya

Libur Sekolah Ramai di Taman Flora Surabaya

3 Januari 2026
Libur Natal Dongkrak Kunjungan Wisata Surabaya

Libur Natal Dongkrak Kunjungan Wisata Surabaya

2 Januari 2026

Jakarta, Kabar SDGs – Natal dikenal sebagai hari raya umat Kristen untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus, namun perjalanan sejarahnya menunjukkan bahwa perayaan ini mengalami proses panjang hingga menjadi tradisi global seperti saat ini. Fakta sejarah mencatat, para pengikut awal Yesus tidak merayakan kelahirannya setiap tahun, melainkan lebih memusatkan peringatan pada kebangkitan-Nya yang dirayakan melalui Paskah.

Kisah kelahiran Yesus hanya ditemukan dalam dua dari empat Injil Perjanjian Baru, yakni Injil Matius dan Lukas. Keduanya memberikan detail yang berbeda, meskipun sama-sama menyebutkan bahwa Yesus lahir di Betlehem. Tanggal pasti kelahiran Yesus sendiri tidak diketahui. Christine Shepardson, profesor di University of Tennessee yang meneliti Kekristenan awal, menyebut bahwa tradisi merayakan kelahiran Yesus pada 25 Desember baru muncul pada abad keempat. “Sulit untuk melebih-lebihkan betapa pentingnya abad keempat dalam membentuk Kekristenan seperti yang kita kenal di dunia saat ini,” ujar Shepardson. Ia menjelaskan bahwa pada masa Kaisar Konstantinus, umat Kristen mulai beribadah di gereja, bukan lagi di rumah-rumah.

Sejumlah teori menyebutkan bahwa penetapan tanggal 25 Desember bertepatan dengan perayaan titik balik matahari musim dingin dalam tradisi pagan, termasuk festival Romawi Sol Invictus atau Matahari Tak Terkalahkan. Hingga kini, sebagian umat Kristen Ortodoks Timur masih merayakan Natal pada 7 Januari karena menggunakan kalender Julian yang tertinggal 13 hari dari kalender Gregorian yang digunakan secara luas saat ini.

Dalam perjalanannya, Natal juga pernah identik dengan perayaan yang riuh dan penuh pesta. Pada Abad Pertengahan, Natal sering dirayakan dengan jamuan makan dan minum di ruang-ruang publik. Thomas Ruys Smith, profesor sastra dan budaya Amerika di University of East Anglia, menyebut bahwa bagi sebagian umat Kristen kala itu, Natal bahkan dianggap tidak pantas sebagai hari raya. “Kaum Puritan tidak menyukai Natal,” katanya. Menurutnya, perubahan besar terjadi pada abad ke-19 ketika Natal mulai dipandang sebagai perayaan yang lebih santun dan berpusat pada keluarga. Ia menyebut Natal kemudian menjadi perayaan domestik yang kita kenal sekarang, yang berfokus pada rumah, keluarga, anak-anak, dan pemberian hadiah.

Akar Natal modern banyak ditelusuri ke Jerman, terutama melalui tradisi pohon Natal dan pemberian hadiah pada akhir abad ke-19. Tradisi ini kemudian menyebar ke Inggris dan Amerika Serikat, membantu menghidupkan kembali perayaan Natal di kedua kawasan tersebut. Popularitas Natal semakin menguat setelah terbitnya karya sastra A Christmas Carol karya Charles Dickens pada 1843 serta tulisan-tulisan Washington Irving yang membantu mempopulerkan figur St. Nicholas di Amerika. Tradisi pohon Natal di Rockefeller Center, New York, sendiri bermula pada 1931 sebagai upaya mengangkat semangat masyarakat di masa Depresi Besar dan kemudian berkembang menjadi agenda tahunan yang ikonik.

Figur Santa Claus yang dikenal secara luas saat ini berakar dari St. Nicholas, seorang uskup Kristen abad keempat dari kota Myra di kawasan Mediterania, yang kini masuk wilayah Turki. Kisah-kisah tentang kebaikan hatinya melampaui sekadar membagikan hadiah kepada anak-anak. Ia diyakini pernah membela para tahanan yang dihukum secara tidak adil dan menyelamatkan pelaut dari badai. Devosi terhadap St. Nicholas menyebar luas di Eropa pada Abad Pertengahan sebelum meredup setelah Reformasi Protestan abad ke-16, kecuali di Belanda yang mempertahankan tradisi Sinterklaas. Dari sanalah figur tersebut berkembang menjadi Santa Claus yang bersifat lebih sekuler.

Tradisi pemberi hadiah pun berbeda-beda di berbagai negara. Di Inggris dikenal Father Christmas, di Yunani dan Siprus ada St. Basil yang datang pada malam Tahun Baru, di Italia terdapat St. Lucy dan Befana, sementara di Islandia anak-anak menantikan kehadiran 13 Yule Lads, sosok troll nakal dalam cerita rakyat yang turun dari pegunungan menjelang Natal.

Beragam simbol Natal juga memiliki akar sejarah yang panjang. Tradisi membawa tanaman hijau seperti holly, ivy, dan pohon evergreen ke dalam rumah telah berlangsung selama berabad-abad. Menurut Smith, bagi banyak orang, tanaman hijau melambangkan janji kehidupan kekal dalam ajaran Kristen. Maria Kennedy, profesor di Rutgers University, menjelaskan bahwa tradisi menghias pohon hijau berasal dari Jerman abad ke-16 dan kemudian dipopulerkan di Inggris dan Amerika. Ia juga menyinggung penggunaan mistletoe yang telah ada sejak masa Druid kuno lebih dari 2.000 tahun lalu. “Mistletoe melambangkan keabadian karena tetap tumbuh di masa tergelap dalam setahun dan menghasilkan buah putih ketika tanaman lain telah mati,” tulis Kennedy.

Tradisi lain seperti kebaktian Natal, adegan kelahiran Yesus, dan caroling juga memiliki akar sejarah panjang. Kennedy menulis bahwa caroling berawal dari kebiasaan masyarakat Eropa yang berkeliling dari rumah ke rumah pada masa tergelap dalam setahun untuk memperbarui hubungan sosial dan menyampaikan doa keberuntungan. “Mereka membacakan puisi, bernyanyi, dan terkadang menampilkan sandiwara. Tujuannya agar tindakan tersebut membawa keberuntungan dan memengaruhi hasil panen di masa depan,” tulisnya.

Di luar dunia Barat, Natal mengalami adaptasi unik sesuai konteks budaya setempat. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Jepang, di mana sejak 1974 Kentucky Fried Chicken mempopulerkan ayam goreng sebagai hidangan Natal. Kampanye ini terinspirasi dari cerita seorang pelanggan asing yang mengatakan tidak bisa mendapatkan kalkun di Jepang. Fenomena tersebut bertahan hingga kini. “Hal itu benar-benar melekat,” kata Smith. “Dan sampai hari ini, orang harus memesan KFC berbulan-bulan sebelumnya agar bisa menikmatinya pada Hari Natal.”

Perjalanan panjang Natal menunjukkan bagaimana sebuah perayaan religius dapat berkembang menjadi tradisi global yang lintas budaya. Natal terus beradaptasi dengan nilai sosial dan kebiasaan lokal, tanpa sepenuhnya meninggalkan akar sejarah dan makna spiritual yang melandasinya.

Share6SendTweet4
Previous Post

KPI Balikpapan Hadirkan Kebersamaan Pejuang Cilik

Next Post

Pasar Natal Zagreb Dongkrak Ekonomi Musim Dingin

Next Post
Pasar Natal Zagreb Dongkrak Ekonomi Musim Dingin

Pasar Natal Zagreb Dongkrak Ekonomi Musim Dingin

Arus Mudik Natal Padati Jalan dan Bandara Inggris

Arus Mudik Natal Padati Jalan dan Bandara Inggris

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Planet Surf Hadirkan Wajah Baru Bergaya Industri di Trans Studio Mall

Planet Surf Hadirkan Wajah Baru Bergaya Industri di Trans Studio Mall

14 Januari 2026
Program Pertapreneur Aggregator Ubah Pola Pikir UMKM Menuju Bisnis Berbasis Sistem

Program Pertapreneur Aggregator Ubah Pola Pikir UMKM Menuju Bisnis Berbasis Sistem

14 Januari 2026
Akses Internet Desa Kalimantan Timur Capai 95 Persen

Akses Internet Desa Kalimantan Timur Capai 95 Persen

14 Januari 2026
Kementerian PU Mulai Bangun Permanen Jembatan Krueng Tingkeum Minggu Ketiga Januari 2026

Kementerian PU Mulai Bangun Permanen Jembatan Krueng Tingkeum Minggu Ketiga Januari 2026

14 Januari 2026
Penerbangan Perdana Subsidi Angkutan Udara Perintis Korwil Gorontalo Perkuat Konektivitas Wilayah Kepulauan

Penerbangan Perdana Subsidi Angkutan Udara Perintis Korwil Gorontalo Perkuat Konektivitas Wilayah Kepulauan

14 Januari 2026

POPULAR

  • Pembangunan Superblok Pakuwon di IKN Segera Dimulai Maret 2026

    Pembangunan Superblok Pakuwon di IKN Segera Dimulai Maret 2026

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Poco Umumkan Peluncuran Poco M8 Dengan Layar Lengkung 3D Tahan Ekstrem

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Clicks Communicator Hadirkan Sensasi Mengetik ala BlackBerry dalam Balutan Android Modern

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pembangunan SMA Taruna Nusantara IKN Ditargetkan Rampung Januari 2026

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Wamen Ekraf Dukung Lapak Gaming Battle Arena dan Talenta Gim Lokal

    19 shares
    Share 8 Tweet 5

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.