SUBANG, KabarSDGs – Sejalan dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, dan dinamika lingkungan strategis, ketahanan pangan nasional menjadi sangat penting bagi kemajuan pembangunan dan kualitas hidup bangsa. Ke depan, mencapai ketahanan pangan pada tingkat nasional dan global akan semakin sulit karena permintaan pangan terus meningkat.
Sementara itu, produksi atau pasokan pangan dapat menghadapi kesulitan karena dampak perubahan iklim dan faktor lainnya. Oleh karena itu, penguatan ketahanan pangan semakin penting karena ancaman krisis pangan global masih ada dan dapat terjadi secara tiba-tiba.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membantu Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam upaya menstabilkan pangan yang dimulai dari bibit. Dalam konteks ini, BRIN memiliki mekanisme model bisnis dan tidak akan bersaing dengan pelaku usaha sektor pangan, terutama PT. Sang Hyang Seri (SHS). BRIN membutuhkan riset bibit padi yang dapat menghasilkan keuntungan, dan jika berhasil, harus dilisensikan kepada pelaku usaha sektor pangan. Sebanyak 30% dari hasil lisensi tersebut akan diberikan kepada periset dan 70 persen akan menjadi pendapatan negara.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menyatakan komitmen BRIN dalam membantu pada tahap awal riset, seperti mengembangkan varietas baru padi yang saat ini ditanam di Dem Area SHS.
“Namun, BRIN akan bekerja sama dengan mitra industri/BUMN atau pelaku usaha swasta lainnya untuk melanjutkan riset dan implementasi teknologi,” ujarnya dalam siaran tertulisnya.
Handoko juga mengajak badan usaha seperti ID FOOD dan SHS untuk aktif berkomunikasi dengan BRIN mengenai kebutuhan riset yang dapat didukung.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi menerangkan, Bapanas melakukan kerja sama lintas sektor untuk mencapai pola pertanian yang efisien, presisi, dan memberikan nilai tambah melalui peningkatan produktivitas padi. Penanaman perdana bibit padi unggul ini menjadi tanda kerja sama tersebut.
“Demonstrasi penanaman bibit unggul dilakukan di lahan pertanian seluas sekitar 47,25 hektar yang terbagi menjadi 3 blok. Target rata-rata produktivitas adalah minimal 8 ton per hektar. Setiap blok menerapkan teknologi dan varietas yang berbeda. Hasil dari ketiga pola penanaman ini akan diserap oleh BULOG,” jelasnya.
Arief menjelaskan, jika hasil budidaya yang terbaik telah dipilih, pola budidaya tersebut akan direplikasi secara massal di berbagai daerah. Petani mitra akan mendapatkan pendampingan dalam menerapkan pola dan teknologi yang telah diujicoba.
“Bibit dari SHS juga akan disediakan, dan hasil panen akan langsung diserap oleh BULOG dengan harga yang menguntungkan untuk digunakan sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Ini adalah skema closed loop end-to-end,” ucapnya.
Direktur Utama ID FOOD, Frans Marganda Tambunan menerangkan, kerja sama dalam budidaya varietas unggul akan dikolaborasikan dengan program Makmur.
“Jika program penanaman seluas 47,25 hektar ini berhasil, akan ada potensi penyediaan bibit di 40 ribu hektar program Makmur yang sedang berjalan,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama SHS, Adhi Cahyono Nugroho, melihat ini sebagai peluang bagi SHS untuk berkembang ke depan.
“Kami berharap dapat tumbuh menjadi BUMN Pangan di sektor hulu yang dapat mendukung ketersediaan pangan,” tuturnya.












Discussion about this post