BANDUNG, KabarSDGs – Teknologi Radar Aperture Sintetik (Synthetic Aperture Radar/SAR) adalah teknologi radar yang menggunakan konsep aperture sintetik untuk menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi dari permukaan bumi. Nasrullah Armi, Kepala Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan, teknologi radar ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan penginderaan jauh.
“Teknologi radar dapat digunakan dalam pemetaan geospasial serta berbagai aplikasi seperti militer, penanggulangan bencana, dan lain-lain,” ujar Nasrullah pada Webinar PRT seri ke-7 pada hari Rabu, (14/06/2023).
Bambang Setiahadi menerangkan, seorang peneliti dari PRT BRIN memberikan contoh citra SAR satelit komersial dengan resolusi tinggi, di antaranya adalah Sentinel-1, TerraSAR-X, COSMO SkyMed, Radarsat-2, ALOS-2, IceEye, dan Capella.
“Aplikasi SAR antara lain digunakan untuk pemantauan lingkungan, pemantauan bencana, pengawasan keamanan, pemetaan topografi, pemantauan perubahan lahan, pemantauan glasier, dan pemantauan kehutanan,” jelasnya.
Bambang juga menjelaskan, perbedaan antara sensor optik dan sensor SAR. Sensor optik menggunakan gelombang cahaya, bersifat pasif (menggunakan energi matahari), melihat ke bawah, dan memberikan informasi spektral. Sedangkan sensor SAR menggunakan gelombang radio, bersifat aktif (membawa sumber energi sendiri), melihat ke samping, dan memberikan informasi intensitas pantulan objek.
“Beberapa riset yang dilakukan oleh PRT BRIN dalam bidang SAR, antara lain desain sistem radio frekuensi (RF) untuk polarisasi ganda, desain filter untuk sistem RF, desain antena mikrostrip, desain BCU untuk polarisasi ganda, desain dan implementasi pemrosesan sinyal digital (DSP), serta eksperimen SAR berbasis darat,” ungkapnya.
Selain itu, Farohaji Kurniawan, seorang peneliti dari Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) BRIN menyampaikan, pengembangan sistem SAR telah dilakukan dalam program Elang Hitam. Program tersebut merupakan kerja sama antara LAPAN, BPPT, dan LEN Industri sebelum LAPAN tergabung ke dalam BRIN.
“Program riset dan inovasi sistem SAR di PRTP, yang berlangsung dari tahun 2020 hingga 2029, diharapkan menghasilkan berbagai luaran seperti buku draf internasional, publikasi internasional, hak kekayaan intelektual (HKI), dan prototipe sistem SAR,” ujar Farohaji.
Ia berharap, kedepannya dapat menguji SAR buatan sendiri agar lebih bertenaga. Lebih lanjut, Farohaji menyebutkan bahwa proyek selanjutnya dalam perancangan antena untuk sensor SAR adalah merancang dan mengembangkan antena beamsteering dan antena konformal.
“Pengembangan sistem SAR yang mandiri sangat penting karena berbagai kemampuannya sangat diperlukan untuk penelitian, keperluan militer, mitigasi bencana, pertanian, dan lain-lain. Ilmu tentang teknologi harus dikuasai secara menyeluruh dan serius, dimulai dari dasar,” pungkasnya.












Discussion about this post