Penajam Paser Utara, Kabar SDGs – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus diarahkan untuk memperkuat konsep kota masa depan yang mengintegrasikan prinsip forest city, sponge city, dan smart city. Salah satu infrastruktur yang dikembangkan untuk mendukung konsep tersebut adalah embung yang berfungsi dalam pengelolaan tata air di kawasan Nusantara.
Perkembangan pembangunan tersebut dijelaskan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, saat menerima kunjungan Suharso Monoarfa, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas periode 2019–2024, di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kamis (20/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Basuki memaparkan sejumlah infrastruktur yang telah dibangun di kawasan IKN. Salah satunya adalah embung yang menjadi bagian dari penerapan konsep sponge city, yakni pendekatan tata kota yang mengutamakan kemampuan kawasan dalam menampung, mengelola, dan memanfaatkan air.
Embung tersebut digunakan sebagai infrastruktur retensi untuk menampung air sekaligus mendukung kebutuhan pengelolaan kawasan. Air yang tersedia juga dimanfaatkan untuk mendukung pemeliharaan tanaman di lingkungan IKN.
“Embung kita ada 32 yang sudah jadi, yang sudah berfungsi, diambil airnya untuk menyiram tanaman,” ungkap Basuki.
Pengembangan infrastruktur tata air tersebut masih akan diteruskan. Pada 2026, Otorita IKN mulai membangun tambahan 24 embung yang akan memperluas dukungan terhadap sistem pengelolaan air di kawasan Nusantara.
“Jadi totalnya akan 54 embung, salah satunya berfungsi sebagai estetika kota,” katanya.
Kunjungan Suharso Monoarfa dilakukan untuk melihat langsung perkembangan pembangunan IKN sekaligus memastikan prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan pembangunan Nusantara tetap diterapkan. Dalam agenda tersebut, sejumlah proyek strategis di KIPP turut ditinjau, termasuk SMA Taruna Nusantara Kampus IKN.
Suharso mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung konsistensi pembangunan kawasan. Ia menilai keberlanjutan menjadi faktor penting agar konsep yang sejak awal dirancang untuk IKN tetap terjaga dalam proses pembangunan berikutnya.
“Pertama, saya ingin menyaksikan konsistensi pembangunan IKN, karena apa pun ini adalah legasi bangsa. Karena itu, keberlanjutan pembangunan ini menjadi penting,” kata Suharso.
Selain memastikan keberlanjutan pembangunan secara umum, Suharso juga memberikan perhatian terhadap penerapan konsep smart city dan sponge city. Menurutnya, kedua konsep tersebut perlu diwujudkan dalam pembangunan fisik dan tata kelola kawasan, bukan hanya menjadi identitas atau gagasan perencanaan.
“Saya ingin mengikutinya dan menyaksikannya dari dekat, terutama dengan atribusi yang kita kenakan pada IKN ini sebagai smart city, sebagai sponge city, bahwa hal itu secara prinsip tetap dijalankan, tetap dipegang,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Suharso juga melihat peluang ekonomi yang dapat berkembang seiring pembangunan IKN. Ia mendorong investor dalam negeri untuk lebih aktif mempertimbangkan peluang investasi yang muncul dari pembangunan kawasan ibu kota baru tersebut.
Menurutnya, perkembangan Nusantara dapat menciptakan pusat aktivitas ekonomi baru dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Setelah saya saksikan, perkembangannya cukup menggembirakan. Karenanya, saya pikir investor-investor domestik itu harus berani melihat ke sini,” tutur Suharso.
Ia menilai peluang tersebut semestinya juga menjadi perhatian pelaku investasi nasional karena investor dari luar negeri mulai menunjukkan keberanian untuk melihat potensi yang tersedia di kawasan IKN.
“Kalau yang dari luar saja berani, mengapa mereka yang di dalam negeri tidak berani,” katanya.
Suharso optimistis pembangunan IKN dalam skala besar dapat melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dengan pembangunan kawasan yang terencana dan berkelanjutan, Nusantara dinilai memiliki potensi menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi baru di Indonesia.
“Saya tetap dengan keyakinan saya, hitungan-hitungan kami, yang bisa dibuktikan secara akademis, bahwa sesuatu yang baru, apalagi dengan magnitude yang besar seperti ini, dia akan membentuk sebuah economic crowd baru dan dapat menjadi mesin pertumbuhan, engine of growth untuk Indonesia,” pungkasnya.
Pengembangan embung dan infrastruktur tata air menjadi salah satu contoh bagaimana konsep sponge city diterapkan dalam pembangunan IKN. Bersamaan dengan penerapan prinsip forest city dan smart city, pembangunan tersebut diarahkan untuk membentuk kawasan perkotaan yang tidak hanya modern, tetapi juga mampu mengelola sumber daya alam secara lebih berkelanjutan.










Discussion about this post