Balikpapan, Kabar SDGs – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menempatkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai agenda strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan pada 2026. Penguatan kapasitas pelaku usaha, perluasan akses pasar, serta peningkatan literasi keuangan menjadi fokus utama untuk memastikan UMKM mampu bertahan dan naik kelas di tengah dinamika ekonomi global.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menegaskan, UMKM memiliki peran sentral sebagai penopang perekonomian daerah. Dalam kondisi ketidakpastian global yang terus berkembang, fondasi UMKM dinilai harus diperkuat agar daya saing dan keberlanjutan usaha tetap terjaga.
“UMKM merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Penguatan kapasitas menjadi kunci agar pelaku usaha mampu bertahan sekaligus berkembang,” ujar Robi didampingi Deputi BI Balikpapan Wahyu Setyoko dan Umran Usman, dalam kegiatan bincang media, Kamis (29/1/2026).
Robi menjelaskan, Bank Indonesia Balikpapan telah menyiapkan berbagai program pengembangan UMKM yang dirancang secara terintegrasi. Program tersebut mencakup workshop tematik, pendampingan teknis, hingga fasilitasi business pitching dan business matching untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, mitra usaha, maupun investor potensial.
“Kami ingin mempertemukan UMKM dengan pasar dan mitra yang tepat agar pengembangan usahanya lebih terarah,” katanya.
Selain memperkuat pasar domestik, BI Balikpapan juga mendorong UMKM agar mampu menembus pasar ekspor melalui sinergi dengan Ekspor Center Provinsi Kalimantan Timur. Pendampingan dilakukan mulai dari pemenuhan standar produk, pengemasan, hingga pemahaman terhadap persyaratan dan regulasi ekspor. Menurut Robi, kesiapan UMKM menuju pasar global tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga konsistensi kualitas dan kepatuhan terhadap mekanisme perdagangan internasional.
“Aspek keberlanjutan produksi dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Di sisi lain, penguatan tata kelola keuangan UMKM turut menjadi perhatian Bank Indonesia. BI Balikpapan mendorong pemanfaatan aplikasi SIAPIK sebagai alat pencatatan keuangan yang sederhana dan terstandar agar laporan keuangan lebih rapi dan akuntabel. Langkah ini diharapkan memudahkan pelaku UMKM dalam mengakses pembiayaan formal.
Untuk memperluas dampak, BI Balikpapan juga bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan dalam program literasi dan inklusi keuangan. Melalui edukasi berkelanjutan, pelaku UMKM didorong mampu mengelola keuangan usaha secara sehat dan berkelanjutan.
Robi menegaskan, rangkaian program tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam memperkuat struktur ekonomi daerah berbasis UMKM. Dengan kapasitas yang lebih kuat, akses pasar yang luas, serta pengelolaan keuangan yang baik, UMKM diharapkan menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Balikpapan menuju 2026.
“Ekonomi yang tangguh harus bertumpu pada pelaku usaha yang kuat dan berdaya saing,” tutupnya.









Discussion about this post