Jakarta, Kabar SDGs – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia bersedia untuk menampung sekitar 1.000 individu Palestina dari Gaza dalam fase pertama, khususnya mereka yang mengalami cedera, trauma, dan anak-anak yang kehilangan orang tua.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menjelaskan bahwa rencana Indonesia untuk memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza dilakukan setelah ada kesepakatan antara pemimpin dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Presiden Prabowo Subianto kini sedang bernegosiasi dengan pemimpin negara-negara di Timur Tengah dalam kunjungan ke lima negara, yaitu Persatuan Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania, untuk mendapatkan persetujuan bersama mengenai usaha evakuasi sementara bagi warga Palestina.
“Dari sana, mekanisme akan diterapkan berdasarkan kesepakatan semua pihak. Jadi, semuanya perlu sepakat dan setuju. Jika tidak ada kesepakatan dari satu pihak, maka tidak akan ada kesepakatan,” ucap Menlu Sugiono saat memberi keterangan kepada wartawan di Ankara, Turki, pada Kamis malam, 10 April.
Menlu menjelaskan bahwa dalam kunjungan kenegaraannya, Presiden Prabowo mengkomunikasikan kesiapan Indonesia untuk terlibat dalam upaya perdamaian dan tindakan kemanusiaan yang perlu segera diwujudkan, termasuk memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza yang terluka, anak-anak yatim, anak-anak yang mengalami trauma, serta pelajar Indonesia yang berada di wilayah tersebut.
Inisiatif yang diambil oleh Presiden Prabowo tidak ditujukan untuk memindahkan warga Palestina secara permanen ke Indonesia, namun lebih sebagai bentuk kepedulian dan perhatian terhadap korban yang menderita.
Selain itu, proses evakuasi ini harus dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan, serta mendapatkan persetujuan dari seluruh pihak yang terlibat, termasuk pemerintah Palestina, dan semua ini diharapkan bersifat sukarela dengan persetujuan dari semua pihak di Palestina.
“Kami mengungkapkan bahwa kami siap memberikan bantuan jika diperlukan. Kami bersedia menjadi tempat berlindung bagi para korban luka, anak yatim, dan pelajar untuk menerima pengobatan di Indonesia,” tambah Menlu.












Discussion about this post