Balikpapan, Kabar SDGs – Baitul Maal Hidayatullah (BMH) terus mendorong terwujudnya pendidikan Al-Qur’an yang inklusif melalui Program Mengaji Bersama Tunanetra. Kegiatan ini mendukung pembelajaran Al-Qur’an Braille bagi 30 penyandang tunanetra yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Balikpapan.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan di Sekretariat Pertuni yang berada di Jalan Telaga Sari II, RT 36, Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota, pada Minggu (5/7/2026). Program tersebut dirancang untuk membantu peserta meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an Braille, memperdalam pemahaman keagamaan, sekaligus membangun kemandirian dan rasa percaya diri.
Manajer Program dan Pendayagunaan BMH, Achmad Rofiq, menjelaskan bahwa kegiatan dilakukan secara rutin dengan berbagai metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
“Kegiatan dilaksanakan secara rutin melalui pembelajaran membaca Al-Qur’an Braille, murojaah hafalan, kajian keislaman, hingga pendampingan intensif sesuai kemampuan masing-masing peserta,” ujranya.
Selain mendukung proses pembelajaran, BMH juga memberikan bantuan operasional berupa biaya transportasi bagi para peserta. Bantuan tersebut dinilai penting karena sebagian besar peserta masih mengalami keterbatasan akses menuju lokasi kegiatan.
Dukungan transportasi tidak hanya membantu kelancaran kehadiran peserta, tetapi juga meningkatkan motivasi mereka untuk mengikuti pembelajaran secara berkesinambungan. Program ini pun telah memberikan dampak positif, baik dalam peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an Braille maupun tumbuhnya rasa percaya diri para penyandang tunanetra.
Bahkan, sejumlah peserta yang sebelumnya mengikuti pembelajaran kini telah berkembang menjadi pendamping dan pengajar bagi peserta lainnya, sehingga tercipta proses belajar yang saling menguatkan di dalam komunitas.
Pertuni Kota Balikpapan dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena selama ini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan bagi penyandang tunanetra secara berkelanjutan. Semangat belajar para anggotanya menjadi salah satu kekuatan utama dalam mendukung keberhasilan program tersebut.
Salah seorang peserta, Silfi, mengaku bantuan yang diberikan BMH sangat membantunya untuk tetap mengikuti pembelajaran secara rutin.
“Alhamdulillah, dengan disediakan bantuan uang transportasi pulang-pergi dari rumah ke tempat ini, saya bisa konsisten hadir di pembelajaran Qur’an Braille ini,” ujarnya.
Meski telah memberikan manfaat yang besar, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses transportasi, kebutuhan pendampingan yang lebih intensif sesuai kemampuan masing-masing peserta, serta menjaga konsistensi kehadiran dalam setiap sesi pembelajaran.
Melalui Program Mengaji Bersama Tunanetra, BMH berharap semakin banyak penyandang tunanetra yang mampu membaca, memahami, hingga mengajarkan Al-Qur’an Braille kepada sesama. Dengan demikian, ekosistem pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif dapat terus berkembang dan memberi manfaat secara berkelanjutan.










Discussion about this post