Lampung Timur, Kabar SDGs – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID, meresmikan NUSA (Nursery Mangrove Unggul Semai Adaptif) di Dusun Pulau Waru, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur. Fasilitas tersebut dihadirkan sebagai upaya memperkuat rehabilitasi ekosistem mangrove melalui penyediaan bibit berkualitas yang dikelola bersama masyarakat.
Sustainable Community Development Section Head PTBA, Ajis Purnomo, mengatakan NUSA dirancang sebagai pusat persemaian mangrove adaptif yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan program rehabilitasi kawasan pesisir.
“NUSA adalah pusat persemaian mangrove adaptif berbasis pemberdayaan masyarakat yang menghasilkan bibit mangrove berkualitas melalui metode SAM-SAKTI yang dalam prosesnya ini dipimpin oleh Pak Samsudin. Melalui peresmian ini, kami ingin menjamin keberlanjutan rehabilitasi mangrove melalui penyediaan bibit adaptif yang dikelola bersama masyarakat,” jelas Ajis.
Menurutnya, Kecamatan Pasir Sakti dipilih sebagai lokasi peresmian karena telah menunjukkan keberhasilan dalam memulihkan kawasan pesisir yang sebelumnya terdampak abrasi. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi PTBA bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Mutiara Hijau I serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Pasir Sakti merupakan kawasan yang berhasil mengubah wilayah terdampak abrasi menjadi ekosistem mangrove yang pulih, produktif, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran NUSA semakin memperkuat Pasir Sakti sebagai pusat pembibitan dan pengembangan mangrove dalam ekosistem BA-MAXI (Bukit Asam Mangrove Nexus Initiative),” ungkapnya.
Ketua KTH Mutiara Hijau I, Samsudin, menjelaskan bahwa pengembangan persemaian mangrove telah dimulai sejak awal tahun 2000-an melalui proses belajar secara mandiri dan berbagi pengalaman dengan berbagai pihak. Pengalaman tersebut kemudian melahirkan teknik pembibitan yang lebih sesuai dengan karakteristik kawasan pesisir.
“Saat ini, persemaian disini mampu memproduksi sekitar 500.000 bibit mangrove per tahun, dengan kapasitas tertinggi yang pernah dicapai mencapai 650.000 bibit per tahun. Sebanyak 11 jenis mangrove dibudidayakan di lokasi ini, diantaranya Rhizophora seperti apiculata, stylosa, dan mucronata. Kemudian ada juga mangrove jenis api-api dan Lacang (Bruguiera),” papar Samsudin.
Ia menambahkan, salah satu inovasi yang diterapkan melalui metode SAM-SAKTI adalah sistem persemaian yang memanfaatkan mekanisme pasang surut air laut. Dengan cara tersebut, bibit memperoleh pasokan air secara alami tanpa memerlukan penyiraman manual sehingga lebih efisien dalam pemeliharaan sekaligus menghasilkan bibit yang lebih kuat saat ditanam di lokasi rehabilitasi.
Meski demikian, Samsudin mengakui masih terdapat tantangan dalam memastikan hasil produksi bibit dapat terserap secara optimal. Karena itu, kelompoknya terus membangun kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, serta berbagai program rehabilitasi lingkungan agar kebutuhan bibit mangrove dapat terus terpenuhi.
PTBA berharap keberadaan NUSA mampu meningkatkan kapasitas pembibitan mangrove berbasis masyarakat sekaligus mendukung berbagai program rehabilitasi kawasan pesisir yang dijalankan perusahaan di berbagai wilayah Indonesia.
“Kami berharap NUSA menjadi pusat pembelajaran, inovasi, sekaligus inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir Indonesia,” tutup Ajis.












Discussion about this post