Cianjur, Kabar SDGs – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himatika) Universitas Suryakancana Cianjur kembali menghidupkan ruang ekspresi dan ruang akademik melalui penyelenggaraan Himatika Got Talent (HGT) dan Gema Parade Matematika XX (Gempar). Dua program tahunan ini dirancang untuk menjangkau semua usia dan jenjang, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Glamour: Gleam of Logic, Art, and Mathematic”, sebuah konsep yang memadukan unsur logika, seni, dan matematika. Ketua Umum Himatika UNSUR Cianjur, Rizpan Nurhalim, menjelaskan bahwa tema tersebut mencerminkan perpaduan karakter antara dua program yang berjalan berdampingan. “Kan artinya kilauan logika, seni, dan matematika ya. Jadi itu merupakan perpaduan antara HGT dan Gempar. Jadi lebih ke seninya masuk ke HGT, untuk logikanya masuk ke Gempar seperti itu,” ujarnya.
HGT dibuka bersamaan dengan Grand Opening Gempar pada Senin, 17 November 2025, dan berlanjut hingga penutupan pada Sabtu, 22 November 2025. “Sebetulnya HGT dan Gempar itu dua program yang berbeda. Untuk HGT biasanya dilaksanakan pada saat pembukaan, tadi hari terakhir. Kalau Gempar itu satu minggu nanti sampai hari Sabtu,” kata Rizpan.
Ia menegaskan bahwa HGT menjadi ruang ekspresi non akademik bagi peserta untuk menampilkan bakat melalui berbagai jenis pertunjukan. “Got Talent itu jadi lomba semuanya, lomba tari, puisi, jadi disatukan. Jadi, mau nampilin bakat atau apapun itu kita lombakan dan juaranya itu satu,” tambahnya. Sementara Gempar menjadi ruang akademik untuk kompetisi dan pemetaan kemampuan matematika peserta. “Lebih ingin mengembangkan akademik dan non akademik, makanya ada HGT ini. Gempar itu kita kayak pengen liat bakat-bakat dalam matematika,” ucapnya.
Gempar XX menampilkan sejumlah perlombaan, antara lain rangking 1 untuk umum, kompetisi matematika untuk jenjang SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK, serta lomba cerdas cermat matematika. Total sekitar 250 peserta ikut memeriahkan kompetisi akademik ini, sementara HGT sendiri diikuti sekitar 60 peserta dengan pertunjukan tari, seni gerak, hingga seni tarik suara.
Pegiat Seni Cianjur yang juga menjadi juri HGT, Neng Wina Resky Agustina, menilai kedua kegiatan tersebut menghadirkan ruang kreatif sekaligus ruang akademik yang saling melengkapi. “Kegiatan seperti ini bukan sekadar hiburan tapi juga sebagai latihan membangun karakter, disiplin, sekaligus merawat akar budaya. Saya sangat mengapresiasi upaya Unsur yang terus membuka ruang bagi seni, karena dari sinilah lahir generasi cerdas yang tetap berpijak pada identitasnya,” tuturnya.
Sebagai pelaku seni tari, Wina memandang seni sebagai medium paling jujur untuk memahami manusia. “Kita bisa saja pandai bicara, tetapi tubuh kita dalam tarian sering kali berkata lebih jernih tentang siapa kita,” tambahnya. Ia menekankan bahwa seni membantu generasi muda memahami emosi, menumbuhkan kreativitas, sekaligus melatih keberanian untuk mengekspresikan identitas diri. “Dengan kata lain, seni menjadi jembatan yang menghubungkan daya cipta, kepekaan, dan masa depan generasi muda,” ujarnya.
Melalui HGT dan Gempar, Himatika UNSUR menegaskan komitmennya untuk merawat tradisi akademik sekaligus membuka panggung ekspresi yang memberi ruang bagi bakat, nalar, dan kreativitas generasi muda Cianjur.











Discussion about this post