Batam, Kabar SDGs – Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi penurunan ketersediaan air baku di Waduk Nongsa. Upaya tersebut meliputi penguatan jaringan perpipaan, pengaliran air dari Embung Kebun Raya Nongsa, serta pembahasan kemungkinan pelaksanaan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Langkah ini dilakukan untuk menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat Nongsa dan sekitarnya yang mengalami gangguan distribusi akibat menurunnya permukaan air waduk. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah seiring meningkatnya kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan penurunan ketersediaan air baku berkaitan dengan minimnya curah hujan yang disebut dipengaruhi fenomena El Niño.
Sebagai salah satu alternatif penanganan, BP Batam tengah membahas kemungkinan pelaksanaan OMC melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Saat ini, sedang dalam diskusi bersama agar dapat kembali dilaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui BNPB berkoordinasi dengan BMKG,” ujar Ariastuty dalam keterangan BP Batam, Kamis (15/10/2026).
Meski demikian, pelaksanaan OMC masih dalam tahap pembahasan. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai jadwal maupun keputusan teknis pelaksanaannya.
Sembari mengkaji langkah tersebut, BP Batam telah mengalirkan air dari Embung Kebun Raya Nongsa melalui pipa transmisi menuju Waduk Nongsa. Penguatan konektivitas jaringan juga dilakukan melalui pemasangan pipa interkoneksi yang menghubungkan jalur distribusi Waduk Duriangkang dengan sistem pelayanan air di kawasan Nongsa.
Selain memperkuat jaringan utama, BP Batam mempercepat pemasangan mini booster pump atau pompa pendorong tambahan untuk meningkatkan tekanan air ke permukiman di dataran tinggi dan wilayah yang berada di ujung jaringan distribusi.
Sejumlah kawasan yang menjadi perhatian meliputi Perumahan Renggali, Citra Nongsa, Taman Yose, Prasetya, dan Sambau, khususnya permukiman dengan elevasi lebih tinggi. Perbedaan ketinggian wilayah dan karakteristik jaringan menjadi tantangan dalam memastikan distribusi air bersih menjangkau pelanggan secara merata.
“Fokus utama BP Batam saat ini adalah memastikan air sampai ke rumah-rumah warga. Kami terus menggesa percepatan pemasangan mini booster pump dan penguatan jaringan terintegrasi agar gangguan suplai akibat dampak kekeringan El Niño pada Waduk Nongsa dapat segera teratasi secara optimal,” katanya.
Untuk membantu warga yang masih mengalami gangguan pasokan, pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) meningkatkan frekuensi pengiriman air menggunakan mobil tangki. Langkah tersebut dilakukan selama penanganan jaringan dan keterbatasan air baku masih berlangsung.
Dalam jangka panjang, BP Batam juga menyiapkan pembenahan jaringan perpipaan guna meningkatkan keandalan pelayanan air bersih. Sesuai arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, revitalisasi jaringan serta penyesuaian prioritas anggaran infrastruktur menjadi bagian dari rencana penguatan sistem distribusi.
BP Batam turut mempertimbangkan penerapan sistem pemantauan SPAM berbasis Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA). Teknologi ini dapat membantu memantau kondisi operasional jaringan, termasuk mendeteksi indikasi kebocoran dan gangguan distribusi, sehingga penanganan masalah dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur.
Penguatan infrastruktur tersebut dinilai penting karena ketersediaan air baku harus didukung jaringan distribusi yang andal agar pasokan dapat menjangkau masyarakat secara optimal.
Di tengah upaya mengatasi persoalan air di Nongsa, BP Batam juga menjelaskan kebijakan pemenuhan kebutuhan air bagi industri pusat data atau data centre yang berkembang di kawasan Nongsa dan Kabil.
Ariastuty menyebut pengembang pusat data diwajibkan membangun dan mengoperasikan fasilitas pengolahan air laut dengan teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan operasional penuh.
Melalui sistem tersebut, kebutuhan air industri diharapkan dapat dipenuhi secara mandiri tanpa menambah beban terhadap sumber air yang diprioritaskan untuk masyarakat. Dukungan air dari Waduk Duriangkang bagi fasilitas pusat data pada tahap konstruksi dan persiapan, menurut BP Batam, bersifat sementara dan sangat terbatas.
Berdasarkan pemetaan BP Batam, terdapat enam proyek pusat data dalam berbagai tahap pengembangan. Satu fasilitas telah beroperasi, satu lainnya sedang dibangun, sedangkan empat proyek masih berada pada tahap perencanaan konstruksi.
Nongsa Digital Park juga memiliki embung internal yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pemeliharaan kawasan. Ariastuty menilai penyampaian informasi mengenai perkembangan proyek perlu dilakukan secara akurat agar masyarakat dapat membedakan kebutuhan air fasilitas yang sudah beroperasi dengan kebutuhan proyek yang masih direncanakan.
“Kami memandang pentingnya penyampaian informasi yang akurat mengenai status pembangunan dan kebutuhan utilitas ini dilakukan. Sehingga, dapat dibedakan perencanaan pengembangan proyek masa mendatang dengan pemakaian aktual saat ini,” ujarnya.
Meski demikian, BP Batam belum merinci kapasitas maupun status operasional fasilitas SWRO pada masing-masing proyek pusat data yang telah berjalan.
Untuk memenuhi kebutuhan air dalam jangka panjang, BP Batam turut mempertimbangkan pembangunan waduk baru. Namun, proses pembangunan hingga waduk dapat difungsikan diperkirakan memerlukan waktu sekitar lima sampai tujuh tahun.
Karena itu, penambahan sumber air baku tidak hanya bergantung pada pembangunan waduk. BP Batam juga menjajaki alternatif lain, seperti pengembangan teknologi SWRO, kerja sama dengan pihak swasta dan instansi pemerintah, serta tindak lanjut potensi pasokan air dari Kabupaten Lingga dan Bintan.
Peluang kolaborasi juga terbuka dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui instansi pengelola wilayah sungai maupun pihak lain yang memiliki kapasitas untuk mendukung pembangunan infrastruktur air.
“Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Kepala BP Batam, kami membuka berbagai alternatif kerja sama kemitraan dalam rangka meningkatkan performa dan ketahanan air bagi masyarakat Kota Batam. Para investor swasta ataupun pemerintahan, kami membuka peluang itu untuk kepentingan masyarakat,” kata Ariastuty.
Menurut Ariastuty, berbagai alternatif tersebut perlu dikaji dan dijalankan secara terintegrasi agar penanganan persoalan air tidak berhenti pada solusi jangka pendek.
“Seluruh opsi perlu dijalankan secara terpadu agar Batam tidak hanya mengatasi kebutuhan air saat ini, tetapi juga membangun ketahanan pasokan air yang berkelanjutan,” pungkasnya.












Discussion about this post