Jakarta, Kabar SDGs – Sebanyak delapan unit aki yang menjadi bagian dari perangkat pemantauan Gunung Anak Krakatau dilaporkan hilang sejak 16 September 2026. Kejadian tersebut sempat menyebabkan salah satu stasiun pemantauan dengan kode LV93 berhenti beroperasi.
Hilangnya komponen sumber daya tersebut berdampak pada sistem pengamatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Gangguan itu dapat memengaruhi ketersediaan data yang diperlukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api secara cepat, terutama dalam mendukung upaya perlindungan masyarakat.
Anggota Ikatan Ahli Bencana, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa instrumen pemantauan merupakan bagian penting dalam pengawasan aktivitas gunung api. Berbagai perangkat digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai gempa vulkanik, tremor, kondisi visual, serta perubahan aktivitas gunung melalui sejumlah teknologi pengamatan.
“Aki merupakan alat esensial untuk mendapatkan informasi keaktifan gunung api, khususnya gunung yang sedang mengalami erupsi. Karena ada pengamatan terkait dengan gempa vulkanik, tremor, satelit, peralatan visual, dan CCTV,” ujar Daryono dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menurut Daryono, tidak berfungsinya salah satu stasiun dapat membatasi kemampuan analis untuk memperoleh data secara menyeluruh mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau. Informasi yang sebelumnya dapat dikirimkan dari lapangan secara langsung atau real-time menjadi berkurang.
“Kalau stasiun pemantauan seluruh gunung itu mati, dampaknya kemampuan observasi secara langsung akan berkurang. Artinya kita tidak bisa mendapatkan data real-time,” katanya.
Pengamatan Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengandalkan data kegempaan. Kondisi gunung juga dipantau secara visual melalui CCTV dan perangkat lainnya. Apabila sebagian instrumen mengalami gangguan, pengamatan terhadap sejumlah aktivitas seperti letusan, lontaran material, kepulan asap, abu vulkanik, maupun perubahan kawah dapat menjadi lebih terbatas.
Dalam situasi tersebut, analis perlu memaksimalkan perangkat pemantauan lain yang masih berfungsi. Namun, semakin sedikit sumber data yang tersedia, semakin terbatas pula informasi yang dapat digunakan untuk menganalisis perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Daryono mengatakan gangguan terhadap sistem pemantauan dapat memberikan dampak secara tidak langsung kepada masyarakat. Keterbatasan informasi lapangan dapat berpengaruh terhadap proses analisis dan kecepatan penyusunan rekomendasi ketika terdapat perubahan aktivitas vulkanik.
“Matinya satu stasiun pemantau dapat mengurangi kecepatan informasi mengenai perubahan aktivitas Anak Krakatau. Jika penilaian tidak optimal, itu memengaruhi kecepatan pemberian rekomendasi-rekomendasi penting untuk masyarakat,” ujarnya.
Menurut Daryono, hilangnya aki juga berdampak pada aspek redundansi dalam sistem pemantauan yang menggunakan berbagai instrumen. Apabila semakin banyak perangkat tidak dapat digunakan, pilihan sumber data untuk memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau juga semakin terbatas.
Untuk mengurangi risiko kejadian serupa, ia menyarankan pengamanan fasilitas pemantauan dilakukan dengan beberapa lapisan perlindungan. Upaya tersebut dapat berupa penyimpanan aki yang lebih aman, penguatan fondasi perangkat, penggunaan kamera dengan sumber daya berbeda, hingga pemasangan sistem alarm.
“Kamera keamanan sebaiknya memiliki sumber daya dan jalur komunikasi terpisah sehingga tetap mendapatkan rekaman ketika sistem power supply rusak. Kalau semua alat jadi satu, saat aki hilang, alatnya mati semua,” jelasnya.
Selain perlindungan secara fisik, sistem pemantauan juga dinilai perlu mempunyai mekanisme pemberitahuan gangguan secara real-time. Sistem tersebut dapat membantu petugas mengetahui lebih cepat apabila perangkat mengalami kerusakan, kehilangan sumber daya, maupun gangguan lainnya.
Daryono turut mengingatkan bahwa pencurian komponen perangkat pemantauan tidak sebatas menyebabkan kerugian terhadap aset negara. Gangguan pada instrumen tersebut juga dapat memengaruhi sistem peringatan dini aktivitas gunung api dan pada akhirnya berkaitan dengan aspek keselamatan masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.










Discussion about this post