Banda Aceh, Kabar SDGs – Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Reza Idria PhD, membawa kajian mengenai penerapan syariat Islam di Aceh ke forum akademik internasional di Australia. Ia menjadi pembicara dalam Indonesia Update 2026 yang berlangsung di Australian National University (ANU), Canberra, pada 18-19 September 2026.
Indonesia Update 2026 mengusung tema “Islamic Diversity in Indonesia”. Forum tahunan tersebut mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, serta praktisi dari Indonesia, Australia, dan sejumlah negara lainnya untuk membahas keragaman, kompleksitas, serta perkembangan peran Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam forum tersebut, Reza membawakan presentasi berjudul “Shari’atization and Its Discontents: Islamic Diversity and the Politics of Governance in Aceh.” Materi yang disampaikan membahas penerapan syariat Islam di Aceh beserta kaitannya dengan pemerintahan, hukum, politik, dan kehidupan sosial masyarakat.
Menurut Reza yang merupakan alumni Harvard University, pengalaman Aceh menjadi bagian penting dalam memahami keragaman Islam di Indonesia. Penerapan syariat Islam di Aceh berlangsung dalam kerangka kekhususan daerah yang memberikan ruang pengaturan tersendiri dalam aspek pemerintahan dan hukum.
“Aceh memiliki pengalaman sosial, sejarah, dan keislaman yang sangat penting untuk dibawa ke dalam percakapan akademik global. Karena itu, internasionalisasi UIN Ar-Raniry bukan hanya tentang membawa kita keluar, tetapi juga membawa pengetahuan tentang Aceh dan Indonesia ke ruang akademik internasional,” kata Reza dalam siaran pers Humas UIN Ar-Raniry, Jumat, 18 September 2026.
Ia menilai penelitian dan pengalaman yang bersumber dari konteks lokal perlu turut memperkaya kajian tentang Indonesia di tingkat internasional.
“Yang penting bukan sekadar hadir di forum internasional, tetapi bagaimana pengetahuan yang kita bawa dari Aceh bisa ikut memberi kontribusi pada percakapan akademik yang lebih luas,” ujarnya.
Indonesia Update merupakan konferensi tahunan yang diselenggarakan ANU Indonesia Project bersama Department of Political and Social Change. Pada 2026, konferensi tersebut memasuki penyelenggaraan ke-43 dan berlangsung di Coombs Lecture Theatre, Australian National University.
Berbagai isu dibahas dalam Indonesia Update 2026, mulai dari hubungan antaragama, politik dan Islam, hak kelompok minoritas, generasi muda dan media sosial, keuangan Islam, hingga Green Islam. ANU menyebut forum tersebut sebagai konferensi tahunan terbesar mengenai masyarakat Indonesia yang diselenggarakan di luar Indonesia.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman, turut memberikan dukungan dan apresiasi atas keterlibatan Reza dalam forum akademik tersebut. Menurutnya, partisipasi akademisi UIN Ar-Raniry dalam forum internasional menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkenalkan kajian dan pengalaman Aceh kepada komunitas akademik global.
Keterlibatan tersebut juga sejalan dengan agenda internasionalisasi UIN Ar-Raniry yang dilakukan melalui penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga akademik di luar negeri.
“Kita terus mendorong sivitas akademika untuk memperluas keterlibatan dalam forum ilmiah, riset, publikasi, pertukaran akademik, dan kolaborasi lintas negara,” ujar Mujiburrahman.












Discussion about this post