Balikpapan, Kabar SDGs – Pemerintah Kota Balikpapan mempersiapkan pembangunan sekolah terpadu di kawasan Grand City, Balikpapan Utara. Fasilitas pendidikan tersebut dirancang memiliki 12 rombongan belajar (rombel) yang mencakup jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 29.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan Irfan Taufik mengatakan, pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan penerimaan peserta didik baru setiap tahun.
“Kalau di tahun 2027 paling kita pakai empat rombel dulu. Kenapa empat rombel? Karena baru penerimaan kelas 1,” kata Irfan pada Minggu, 13 September 2026.
Pada tahun pertama operasional, empat rombel tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 120 siswa dengan kapasitas 30 peserta didik untuk setiap rombel.
Pemanfaatan ruang kelas kemudian akan meningkat seiring bertambahnya tingkat kelas. Memasuki tahun kedua, diperkirakan delapan rombel akan digunakan untuk menampung siswa kelas 1 dan kelas 2.
“Mudah-mudahan tahun 2029 nanti kita tambah lagi,” ujarnya.
Irfan menjelaskan, pembangunan secara bertahap diterapkan agar ruang dan fasilitas yang tersedia dapat digunakan secara efektif. Pemerintah tidak ingin membangun seluruh ruang belajar sekaligus, tetapi sebagian di antaranya justru belum digunakan selama beberapa tahun.
“Makanya kita bangun ini sebenarnya pola minimalis. Minimalis dalam artian kalau kita bangun langsung 15 rombel misalnya, kan jadi mubazir tiga tahun,” jelasnya.
Selain memperhitungkan kebutuhan ruang belajar, tahapan pembangunan juga diselaraskan dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM), terutama guru dan kepala sekolah yang akan mendukung operasional sekolah.
Disdikbud Balikpapan telah mempersiapkan kebutuhan tambahan guru untuk 2027 melalui sekolah PGTK. Adapun pengadaan kepala sekolah akan mengikuti mekanisme tersendiri melalui proses PCKS.
“Kalau dari sisi guru kita sudah persiapkan di tahun 2027 melalui sekolah PGTK, penambahan guru-gurunya. Kalau sekolahnya kan ada mekanisme sendiri, harus PCKS,” terang Irfan.
Dari sisi tenaga pendidik, Irfan memastikan kebutuhan SDM untuk tahap awal operasional telah dipersiapkan. Meski demikian, sejumlah fasilitas pendukung di kawasan sekolah masih perlu mendapat perhatian.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kondisi lahan yang dinilai memiliki risiko longsor. Pemerintah berharap penanganan terhadap kondisi tersebut dapat diselesaikan sebelum seluruh fasilitas sekolah dimanfaatkan secara optimal.
“Cuman memang masih banyak fasilitas-fasilitas yang belum memadai. Seperti ini misalnya kan rawan longsor, mudah-mudahan 2028 sudah clear,” katanya.
Sekolah terpadu itu akan berdiri di atas lahan fasilitas umum (fasum) pendidikan yang disediakan pengembang Grand City. Luas lahan tersebut mencapai kurang lebih 1 hektare.
Di lokasi yang sama tersedia pula lahan untuk fasilitas ibadah dengan luas sekitar 5.000 meter persegi. Pemerintah Kota Balikpapan juga berencana membangun akses yang menghubungkan kawasan sekolah dengan masjid.
Jalur tersebut nantinya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan keagamaan para siswa, termasuk pelaksanaan salat berjemaah.
“Nanti kita mau buat konektivitas jalan dari sekolah ini ke masjid. Jadi anak-anak kita salat duha, salat zuhur, dan salat asar,” ujar Irfan.
Bangunan sekolah akan dilengkapi sejumlah fasilitas, mulai dari ruang kelas, ruang guru, aula hingga lapangan. Pada tahap awal 2027, penerimaan peserta didik direncanakan sebanyak empat rombel.
Dengan kapasitas 30 siswa pada setiap rombel, jumlah peserta didik baru yang dapat diterima mencapai 120 anak dalam satu tahun.
“Kalau kita terima empat rombel, kali 30, 120 anak. Itu satu tahun,” imbuh Irfan.
Keberadaan sekolah tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat di kawasan Balikpapan Utara. Meski menjadi salah satu sasaran pemenuhan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut, proses penerimaan siswa tetap akan mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk jalur reguler.
Pembangunan sekolah terpadu di Grand City memiliki nilai anggaran sekitar Rp18 miliar. Dana pembangunan tersebut bersumber dari APBD Kota Balikpapan tahun 2026.
Irfan juga memastikan tidak terdapat tambahan anggaran melalui perubahan APBD untuk pembangunan sekolah tersebut.
“Totalnya Rp18 miliar,” tegas Irfan.












Discussion about this post