Balikpapan, Kabar SDGs – Musim kemarau yang mulai berlangsung di Balikpapan berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Berkurangnya distribusi air membuat sebagian warga memilih mencari sumber alternatif, salah satunya dengan membeli air tandon untuk kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut turut dirasakan Musa, salah seorang penjual air tandon di Balikpapan. Menurutnya, permintaan air bersih mengalami peningkatan signifikan selama dua bulan terakhir seiring datangnya musim kering.
Dalam sehari, Musa bahkan dapat melayani hingga 31 kali pengantaran air tandon. Namun, pengiriman tersebut saat ini hanya mencakup kawasan Taman Bukit Sari dan Batuah.
“Sehari layani 31 pengantaran hanya di wilayah Taman Bukit Sari dan Batuah,” kata Musa pada Senin, 14 September 2026.
Meningkatnya jumlah pesanan membuat waktu kerja Musa menjadi lebih panjang. Ia mulai melakukan aktivitas pengantaran sejak sekitar pukul 05.00 Wita dan baru mengakhiri pekerjaannya sekitar pukul 23.00 Wita.
Besarnya jumlah permintaan juga membuat Musa kesulitan memenuhi seluruh pesanan dalam waktu singkat. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai jumlah pesanan tertinggi yang pernah dialaminya selama menjalankan usaha penjualan air tandon.
“Belum pernah mengantar pesanan segini banyak, sampai kewalahan,” ujarnya.
Akibat padatnya antrean, warga yang baru melakukan pemesanan tidak dapat langsung menerima pasokan air. Mereka harus menunggu hingga sekitar dua hari sebelum air dapat dikirim ke lokasi.
“Warga yang pesan baru bisa diantar dua hari kemudian, mengingat pembeli yang banyak,” jelasnya.
Untuk satu tandon dengan kapasitas 1.200 liter, Musa menetapkan harga Rp100 ribu. Tingginya permintaan juga membuat cakupan pengiriman harus dibatasi agar kebutuhan pelanggan di wilayah yang paling banyak memesan tetap dapat dilayani.
“Pengantaran air tandon tidak bisa menjangkau daerah yang jauh karena tingginya permintaan di dua pemukiman. Sehingga hanya dua pemukiman yang dilayani,” tandasnya.
Meningkatnya pembelian air tandon tersebut sejalan dengan berkurangnya distribusi air bersih di Balikpapan yang mulai dirasakan sejak 1 September 2026.
Saat musim kemarau, kebutuhan air masyarakat cenderung meningkat. Sementara itu, ketersediaan air baku untuk Kota Balikpapan bergantung pada sejumlah sumber, di antaranya Waduk Manggar, Waduk Teritip, serta sumur milik pemerintah.
Ketika distribusi air bersih tidak dapat menjangkau seluruh wilayah atau waktu pelayanan mengalami pengurangan, air tandon menjadi salah satu alternatif yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.












Discussion about this post