Kutai Kartanegara, Kabar SDGs – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di perbatasan Kelurahan Karya Merdeka dan Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menjadi perhatian karena lokasinya berdekatan dengan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK).
Kawasan tersebut juga mencakup area rehabilitasi orang utan yang dikelola Yayasan Jejak Pulang. Kedekatan titik api dengan kawasan konservasi membuat upaya pengendalian kebakaran perlu dilakukan secara cepat untuk mencegah api meluas ke area yang memiliki fungsi ekologis dan menjadi tempat rehabilitasi satwa.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan karhutla sekaligus upaya menjaga kesehatan petugas dan masyarakat, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Regional Kalimantan menyalurkan bantuan berupa masker dan vitamin pada Selasa (1/9/2026).
Bantuan tersebut diperuntukkan bagi petugas dan masyarakat yang ikut terlibat dalam proses pemadaman serta pengendalian kebakaran. Penanganan di lapangan dilakukan secara bersama oleh Manggala Agni Kecamatan Samboja, Polsek Samboja, Yayasan Jejak Pulang dan warga setempat.
Tim gabungan menghadapi kondisi lapangan yang tidak mudah. Medan yang berat, keterbatasan akses menuju lokasi api serta paparan asap menjadi sejumlah kendala yang harus dihadapi selama proses penanganan berlangsung.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap keselamatan masyarakat dan petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“Kami mengapresiasi petugas, relawan, dan masyarakat yang telah bekerja bersama dalam kondisi medan yang cukup berat serta paparan asap selama proses penanganan,” kata Edi pada Jumat, 4 September 2026.
Ia berharap dukungan berupa masker dan vitamin dapat membantu para petugas mempertahankan kondisi kesehatan selama menjalankan tugas di tengah situasi kebakaran.
“Melalui bantuan masker dan vitamin ini, kami berharap dapat membantu menjaga kondisi kesehatan mereka selama bertugas di lapangan,” ujarnya.
Edi menilai keberadaan titik kebakaran yang berdekatan dengan kawasan konservasi membutuhkan perhatian dan keterlibatan dari berbagai pihak. Menurutnya, upaya penanganan tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pencegahan terhadap kemungkinan dampak yang lebih besar bagi lingkungan maupun masyarakat.
“Penanganan karhutla membutuhkan sinergi yang kuat. Upaya mencegah api memasuki kawasan konservasi sekaligus menjaga keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.
Pertamina Patra Niaga, menurut Edi, akan terus mendukung upaya bersama dalam menghadapi kondisi kedaruratan yang terjadi di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Perwakilan Yayasan Jejak Pulang, Amran, mengatakan posisi kebakaran yang berada dekat dengan kawasan rehabilitasi orang utan membuat proses pengendalian api menjadi sangat penting. Ancaman terbesar adalah apabila kobaran api bergerak menuju KHDTK dan area rehabilitasi satwa.
“Hal yang paling kami khawatirkan adalah apabila api sampai memasuki kawasan KHDTK dan mendekati area rehabilitasi,” ujar Amran.
Ia menjelaskan bahwa kondisi medan yang sulit membuat penanganan kebakaran membutuhkan keterlibatan dan koordinasi banyak pihak. Selain menghadapi ancaman api, petugas dan relawan juga harus bekerja dalam kondisi terpapar asap selama proses pengendalian berlangsung.
“Bantuan masker dan vitamin sangat membantu petugas serta relawan yang harus bekerja dalam waktu cukup lama di tengah paparan asap,” tukasnya.











Discussion about this post