Bali, Kabar SDGs – Sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan kekayaan budayanya. Keandalan infrastruktur, terutama ketersediaan listrik, menjadi faktor penting untuk menjaga aktivitas pariwisata dan perekonomian tetap berjalan.
Dalam hampir dua tahun terakhir, ketahanan energi Pulau Dewata masih menghadapi tantangan akibat ketergantungan terhadap pasokan listrik dari Pulau Jawa melalui kabel bawah laut Selat Bali. Gangguan pada sistem kelistrikan Jawa-Bali dapat meningkatkan risiko pemadaman listrik dalam skala luas di Bali.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sektor pariwisata membutuhkan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali bersama PT PLN (Persero) terus mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Upaya itu sejalan dengan visi Bali menuju kemandirian energi berbasis energi bersih sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019. Pengembangan PLTS diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pembangkit lokal sekaligus mengurangi penggunaan energi berbasis fosil.
Bali sendiri memiliki potensi energi surya yang cukup besar karena memperoleh paparan sinar matahari sepanjang tahun. Pengembangan pembangkit tenaga surya dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari pembangkit berskala besar hingga panel surya yang dipasang di atap bangunan.
Salah satu konsep yang dikembangkan adalah PLTS terapung dengan memanfaatkan permukaan badan air, termasuk kawasan Bendungan Danau Muara Estuari di Denpasar. Selain itu, pengembangan PLTS berskala besar juga diarahkan ke Bali bagian barat dan timur, antara lain di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Karangasem.
Di sektor komersial, penggunaan PLTS atap juga terus didorong. Gedung pemerintahan, hotel, resor, pusat perbelanjaan hingga rumah tangga berpotensi memanfaatkan panel surya untuk memenuhi sebagian kebutuhan listriknya.
Pengembangan tersebut memberikan manfaat ganda bagi Bali. Selain membantu menekan emisi karbon sesuai target pemerintah daerah, pembangkit surya juga dapat meningkatkan porsi energi yang diproduksi di dalam pulau sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari Jawa dapat dikurangi.
Meski demikian, kebutuhan listrik Bali yang terus meningkat membuat proses menuju kemandirian energi tidak sederhana. Beban puncak listrik Bali saat ini berada di kisaran 1.000 hingga 1.100 megawatt dan berpotensi meningkat seiring kembali bergeliatnya sektor pariwisata.
Di sisi lain, pasokan listrik melalui kabel bawah laut dari sistem Jawa-Bali masih berkontribusi sekitar 30 hingga 40 persen terhadap kebutuhan listrik pada periode beban puncak harian.
PLTS juga memiliki keterbatasan karena produksinya bergantung pada intensitas cahaya matahari dan kondisi cuaca. Produksi listrik berada pada tingkat optimal sejak pagi hingga sore, sedangkan kebutuhan listrik tertinggi Bali justru berlangsung pada malam hari, terutama sekitar pukul 18.00 hingga 22.00 WITA.
Karena itu, PLTS belum dapat sepenuhnya menggantikan pembangkit yang mampu menyediakan pasokan secara stabil pada malam hari. Kehadiran sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS) dalam skala besar menjadi salah satu kebutuhan penting, meskipun penerapannya membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Tantangan lainnya berkaitan dengan ketersediaan lahan. Pembangunan PLTS darat dalam skala besar membutuhkan area yang luas, sementara Bali memiliki kawasan konservasi, lahan pertanian yang dikelola melalui sistem subak serta nilai sosial dan spiritual yang kuat terhadap pemanfaatan tanah.
Selain persoalan lahan, karakter produksi listrik tenaga surya yang berubah-ubah juga harus diperhitungkan dalam menjaga kestabilan jaringan. Perubahan cuaca dan tutupan awan dapat menyebabkan produksi listrik PLTS berfluktuasi sehingga membutuhkan sistem pengelolaan jaringan yang mampu merespons perubahan tersebut.
Untuk mencapai kemandirian kelistrikan, Bali juga membutuhkan pembangkit pendamping yang dapat menjaga pasokan ketika produksi energi surya menurun. Diversifikasi sumber energi bersih, termasuk pemanfaatan gas, biomassa dan panas bumi, dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.
Dengan kondisi itu, kemandirian listrik Bali lebih realistis dicapai secara bertahap melalui sistem kelistrikan hibrida. PLTS dapat menjadi salah satu sumber utama energi bersih pada siang hari sekaligus membantu mengurangi penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil dan menekan biaya operasional.
Namun, ketergantungan terhadap sistem Jawa-Bali tidak dapat dihentikan secara tiba-tiba. Interkoneksi melalui kabel bawah laut dan penguatan jaringan transmisi tetap dibutuhkan sebagai sistem pengaman ketika terjadi gangguan pembangkit lokal maupun peningkatan kebutuhan listrik secara tidak terduga.
Peralihan menuju sistem energi yang lebih mandiri membutuhkan kombinasi sejumlah strategi, mulai dari pembangunan PLTS dan BESS, penerapan jaringan listrik cerdas, pengembangan sumber energi terbarukan lainnya hingga perluasan penggunaan PLTS atap di berbagai bangunan, khususnya fasilitas pariwisata.
Jika berbagai komponen tersebut dapat dikembangkan secara terintegrasi, Bali berpeluang mengurangi ketergantungannya terhadap pasokan listrik dari luar pulau sekaligus memperkuat citranya sebagai destinasi wisata yang mengedepankan konsep pariwisata hijau.
Dengan demikian, kemandirian energi Bali bukan sekadar persoalan menambah kapasitas PLTS, melainkan membangun sistem kelistrikan yang mampu memadukan energi surya, penyimpanan energi, jaringan modern dan berbagai sumber energi lainnya secara berkelanjutan.












Discussion about this post