Sumatera Utara, Kabar SDGs – Upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak banjir bandang serta tanah longsor di sejumlah daerah Pulau Sumatera menunjukkan perkembangan signifikan. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mencatat proses pembersihan lumpur hampir sepenuhnya selesai dengan capaian mendekati 100 persen.
Berdasarkan data hingga 12 Mei 2026, Satgas PRR melaporkan sebanyak 690 dari total 691 sasaran pembersihan lumpur telah berhasil ditangani. Angka tersebut setara dengan progres 99,86 persen dari keseluruhan target yang ditetapkan.
Data Satgas menunjukkan seluruh titik pembersihan di wilayah Aceh dan Sumatera Barat telah diselesaikan sepenuhnya. Sementara di Sumatera Utara, pekerjaan masih menyisakan satu lokasi yang masih dalam tahap penanganan.
Proses pembersihan lumpur menjadi salah satu tahapan penting dalam percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana. Langkah tersebut dinilai berpengaruh besar dalam membuka kembali akses permukiman warga, mengembalikan aktivitas masyarakat, serta mendukung percepatan pemulihan ekonomi pascabencana.
Juru Bicara Satgas PRR Amran mengatakan sebagian besar wilayah yang sebelumnya tertutup material lumpur kini sudah berhasil dibersihkan sehingga masyarakat mulai dapat kembali menjalankan aktivitas secara bertahap.
“Di Sumatera Barat seluruh titik sudah bersih seluruhnya. Di Sumatera Utara juga tinggal satu lokasi yang masih dalam proses penanganan,” kata Amran, Senin (18/5/2026).
Di wilayah Aceh, proses pembersihan dilakukan secara menyeluruh di sejumlah daerah terdampak seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie, hingga Bireuen. Dari sejumlah daerah tersebut, Aceh Tamiang tercatat menjadi wilayah dengan sasaran pembersihan terbanyak, mencapai 259 titik dan seluruhnya telah berhasil diselesaikan.
Untuk mempercepat proses rehabilitasi, Satgas PRR turut melibatkan berbagai unsur pendukung di lapangan. Salah satunya dengan mengerahkan Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang diturunkan secara bertahap dalam tiga gelombang guna membantu proses pembersihan di Aceh Tamiang.
Selain itu, Satgas juga menjalankan skema cash for work dengan melibatkan masyarakat setempat dalam kegiatan pembersihan lumpur. Program tersebut tidak hanya mempercepat penanganan wilayah terdampak, tetapi juga memberikan tambahan penghasilan bagi warga selama proses pemulihan berlangsung.
Keterlibatan masyarakat dan berbagai unsur pendukung dinilai menjadi faktor penting yang mempercepat proses rehabilitasi. Dengan semakin sedikitnya wilayah yang masih terdampak timbunan lumpur, aktivitas sosial dan roda perekonomian masyarakat di sejumlah daerah kini mulai kembali bergerak menuju kondisi normal.










Discussion about this post