Jakarta Selatan, Kabar SDGs – Kuliner khas Aceh berupa Kuah Beulangong kini menjadi sajian unggulan di Kedai Aceh Lampoh Kemang, Jakarta Selatan. Hidangan dengan cita rasa rempah yang kuat tersebut menarik perhatian masyarakat karena disajikan menggunakan teknik memasak tradisional khas Aceh.
Suasana khas langsung terasa di area kedai. Sebuah kuali berukuran besar diletakkan di atas tungku berbahan drum modifikasi dengan kayu bakar yang terus menyala. Cara memasak tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung proses pembuatan kuliner khas Tanah Rencong tersebut.
Owner dan CEO Restoran Lampoh Jabodetabek, Teuku Ismuhadi Jafar, mengatakan kehadiran menu tersebut merupakan respons atas tingginya permintaan pelanggan yang ingin menikmati cita rasa autentik Aceh di Jakarta.
“Kehadiran Kuah Beulangong di Lampoh Kemang merupakan jawaban atas permintaan konsumen, baik warga Aceh maupun non-Aceh, yang sudah merasakan kelezatan kuliner khas Tanah Rencong,” ujar Owner dan CEO Restoran Lampoh Jabodetabek, Teuku Ismuhadi Jafar, di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan proses peracikan bumbu hingga pengolahan dilakukan oleh tenaga berpengalaman yang didatangkan langsung dari Aceh. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keaslian rasa serta kualitas sajian yang dihadirkan kepada pelanggan.
Selain dapat menikmati hidangan, pengunjung juga bisa melihat secara langsung proses memasak di kuali besar yang menjadi ciri khas penyajian Kuah Beulangong.
Kuliner tradisional ini dikenal memiliki karakter rasa gurih yang kuat dengan kekayaan rempah yang khas. Proses memasaknya yang menggunakan kayu bakar juga menghasilkan aroma tersendiri sehingga memperkuat cita rasa autentik masakan.
“Setiap siang hari kami menyajikan Kuah Beulangong dan Ayam Pramugari mulai pukul 11.00 WIB,” kata Ismuhadi.
Tak hanya dikenal dari sisi rasa, Kuah Beulangong juga memiliki nilai budaya yang kuat. Hidangan khas Aceh tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek karena dinilai memiliki tradisi memasak turun-temurun sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Aceh.
Hadirnya sajian khas tersebut di Jakarta menambah pilihan kuliner Nusantara sekaligus menjadi upaya memperkenalkan cita rasa otentik Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.










Discussion about this post