Banda Aceh, Kabar SDGs – Kabar baik datang bagi para guru Pendidikan Anak Usia Dini di Aceh setelah Universitas Islam Negeri Ar-Raniry bersama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh membuka peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana melalui program beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau. Program ini ditargetkan mulai berjalan pada semester ganjil tahun akademik 2026/2027.
Kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuan kedua pihak yang berlangsung di ruang rapat Rektor UIN Ar-Raniry pada Rabu (29/4/2026). Dalam pertemuan itu dibahas penyusunan skema RPL bagi penerima beasiswa Bunda PAUD Aceh, draf kerja sama, serta rencana sosialisasi program kepada calon peserta.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mendukung program Pemerintah Aceh, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan usia dini.
“Ini bagian dari sinergi UIN Ar-Raniry dalam mendukung program pemerintah Aceh untuk masyarakat, terutama dalam peningkatan kompetensi guru PAUD,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kualitas layanan PAUD di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan tenaga pendidik yang memenuhi standar, hingga sarana dan prasarana yang belum memadai.
“Masih ada persoalan SDM guru PAUD yang belum memenuhi standar, infrastruktur terbatas, serta layanan yang belum maksimal. Ini menjadi perhatian bersama,” katanya.
Mujiburrahman juga menyinggung pentingnya peningkatan kualitas pengasuhan anak usia dini, termasuk dalam mencegah kasus yang berdampak pada kondisi fisik dan psikologis anak.
“Kita berharap komitmen ini dapat membantu pemerintah Aceh dalam meminimalisir kejadian-kejadian kekerasan dalam pengasuhan anak usia dini,” ujarnya.
Melalui skema RPL, UIN Ar-Raniry memberikan kesempatan bagi guru PAUD yang belum memiliki gelar sarjana untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya tanpa harus meninggalkan tugas mengajar.
“Sebagian besar guru PAUD masih lulusan SMA. Melalui RPL, kita berikan kesempatan untuk meningkatkan kualifikasi akademik mereka,” katanya.
Program beasiswa ini dirancang berlangsung selama empat tahun dengan sistem pembelajaran yang fleksibel agar tetap memungkinkan peserta menjalankan aktivitas mengajar.
Sementara itu, Kepala BPSDM Aceh, Marthunis ST DEA, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru PAUD menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan jangka panjang.
“Investasi pendidikan dengan tingkat pengembalian tertinggi ada pada usia dini. Karena itu, peningkatan kompetensi guru PAUD menjadi sangat penting,” kata Marthunis.
Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema beasiswa yang memungkinkan guru melanjutkan pendidikan tanpa mengganggu proses belajar mengajar di lembaga masing-masing.
“Kalau guru harus kuliah secara tatap muka, lembaga PAUD bisa kehilangan tenaga pengajar. Karena itu, skema pembelajaran perlu disesuaikan,” ujarnya.
BPSDM Aceh menargetkan proses penerimaan peserta dapat dimulai pada Juni 2026 sehingga para peserta sudah dapat mengikuti perkuliahan pada tahun akademik yang sama. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh jajaran BPSDM Aceh, tim terkait, pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, serta unsur akademik dan pengelola kerja sama di lingkungan UIN Ar-Raniry.












Discussion about this post