Takengon, Kabar SDGs – Mushaf Al-Qur’an yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Gayo telah resmi diserahkan kepada Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah. Pihak yang bertanggung jawab, Prof Zulkarnain, seorang Guru Besar dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon, menyerahkan naskah tersebut kepada petugas yang mengurus koleksi buku atau kitab yang ditulis dalam bahasa selain bahasa Arab.
“Saya bersyukur, sebagai Ketua Tim Pelaksana, telah membawa dan menyerahkan Al-Qur’an terjemah Bahasa Gayo ke Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah. Penyerahan ini bertepatan dengan perjalanan ibadah Umrah pada bulan Ramadan,” ungkap Zulkarnain dalam pernyataan yang dirilis oleh situs resmi Kemenag pada Sabtu, 8 Maret 2025.
“Semoga pihak perpustakaan Masjid Nabawi dapat segera mengindeksnya sehingga dapat menjadi bagian dari koleksi directory internasional. Dengan demikian, bahasa Gayo dan Al-Qur’an tercatat ‘abadi’ di Masjid Nabawi,” tambahnya.
Bagi Zulkarnain, kehadiran Al-Qur’an Terjemahan Bahasa Gayo di perpustakaan Masjid Nabawi merupakan salah satu bagian dari impian tim pelaksana. Dia juga berharap naskah tersebut bisa hadir di perpustakaan sejumlah universitas internasional.
“Ini merupakan salah satu impian lainnya bagi kami, sehingga dapat memperkenalkan budaya tak berwujud dari Indonesia, khususnya yang berasal dari tengah Aceh, ke mata dunia,” ujarnya.
Tim yang bertanggung jawab atas terjemahan Al-Qur’an Bahasa Gayo terdiri dari kolaborasi antara Pusat Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) bersama IAIN Takengon. Upaya penerjemahan dan penyusunan berlangsung sejak tahun 2021 hingga 2023, lalu dilaksanakan soft launching pada Maret 2024 di Jakarta untuk edisi cetaknya.
Saat soft launching, Ketua Tim (yang saat itu menjabat sebagai Rektor IAIN Takengon) meminta Kepala Badan Litbang dan Diklat melalui Direktur LKKMO untuk memasukkan Al-Qur’an Terjemahan Bahasa Gayo dalam Program Al-Qur’an Digital Kemenag 2024.
“Syukurlah, proyek ini juga terwujud; peluncuran versi digital Al-Qur’an Terjemah Bahasa Gayo berlangsung pada Oktober 2024 di Takengon. Edisi cetak masih sangat terbatas yang dicetak oleh LKKMO, sedangkan versi digital sudah dapat diakses melalui Al Qur’an yang disediakan oleh Kemenag,” jelas Zulkarnain.












Discussion about this post